31 July 2008

You can get more money with your brain

Ya, ungkapan ini sangat cocok dialamatkan buat gue. Gue yang berprofesi sebagai editor di sebuah perusahaan penerbitan. Gue yang masih ngga punya bayangan yang jelas bagaimana masa depan gue terutama istri dan anak-anak gue. Memang, gue masih ngga bisa ngebayangin bagaimana nanti anak-anak gue bisa mendapatkan pendidikan yang layak sementara biaya untuk pendidikan semakin mahal ngga masuk akal.

Sebagai seorang editor, kita dituntut untuk memiliki kecerdasan dan kreativitas yang tinggi. Ini tentu saja memerlukan kerja otak yang tidak ringan. Syarat untuk menjadi editor pun tidak main-main, dia harus sarjana lulusan perguruan tinggi negeri bahkan ada juga yang magister (S2), mempunyai indeks prestasi minimal 3,00, dan dapat berpikir cepat dalam tekanan. Ini tentu saja hanya dimiliki oleh bukan sembarang orang.

Dengan kriteria seperti itu, tentu orang akan mengira bahwa pendapatan seorang editor pastilah sangat lumayan. Wajar kan orang yang spesial digaji dengan spesial juga. Tapi, orang akan sangat terkejut saat mengetahui bahwa pendapatan seorang editor tidak se-spesial sebagaimana tugas dan fungsi editor itu. Bahkan bisa dibilang seorang editor yang bekerja dengan “otaknya” itu memiliki pendapatan yang sama atau bisa jadi lebih kecil dari pendapatan seorang pekerja yang menggunakan “ototnya” (maaf, bukan berarti saya merendahkan mereka yang bekerja dengan ototnya, tetapi ini hanya sebagai perbandingan saja). Ironis, ya.

Tengok saja, seorang editor yang harus menyelesaikan sebuah naskah untuk dijadikan buku. Naskah itu hanya terdiri dari 30 halaman. Tentu saja ini tidak layak untuk dijadikan sebuah buku (tapi anehnya diterima oleh sang penanggung jawab, chief editor). Kondisi ini memang sangat sering terjadi di dunia penerbitan. Dan, editorlah yang menjadi kreator sekaligus finishing toucher dari naskah yang ngga layak itu. Dia harus menjadikan buku itu menjadi layak. Ini dilakukan dengan menambah halaman buku menjadi 64 halaman (jumlah ini dianggap ekonomis dalam penerbitan) dengan menambah materi dan gambar. Kalo dipikir ini sih sama aja editor yang nulis buku itu, ya kan.

Sebenarnya sebutan editor itu tidak cocok buatnya karena pekerjaan yang harus dilakukan tidak cuma mengedit saja tetapi juga harus merombak, menambahkan, bahkan terkadang harus menulis ulang naskah tersebut agar menjadi buku yang layak dibaca dan laku dijual. Dan, ini ngga pernah dipedulikan oleh sang chief, yang dia tahu buku itu harus selesai dengan baik dan laku dijual. Coba bayangkan, naskah dari penulis tadi (yang ngga layak) sudah disulap sedemikian rupa oleh editor dan laku terjual, tetapi apa yang didapatkan oleh editor? Uang lembur yang hanya cukup buat beli pulsa yang mungkin jauh lebih rendah dari uang lembur setter (yang secara intelektual lebih rendah dari editor, cuma perbandingan aja ya). Sementara, penulis buku itu yang notabene cuma membuat setengah dari buku itu mendapatkan semuanya: nama sebagai penulis (ini sangat mahal nilainya karena bisa menjadi faktor promosi dalam pekerjaannya), uang lelah menulis (yang jumlahnya lumayan lah), royalti (pendapatan pasif yang didapat setiap tahun), dan popularitas (kalo bukunya laku tentu saja penulisnya juga terkenal dong).

Gimana? Layakkah jika seorang editor yang dituntut memiliki kecerdasan dan kreativitas tinggi ternyata mendapatkan pendapatan yang minim yang ngga sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya? Apakah layak seorang editor yang bekerja dalam tataran ide dan kreativitas digaji berdasarkan jam kerja? Di perusahaan penerbitan biasanya berlaku sistem lembur dimana perhitungan lembur itu berdasarkan waktu pekerja itu melakukan pekerjaannya. Lho, editor yang bekerja berdasarkan pikirannya kok dibayar berdasarkan waktu kerja, ngga matching dong.

Tapi, dalam dunia bisnis yang segala sesuatunya diukur dengan pertimbangan untung dan rugi, hal ini sangat wajar. Bisa dikatakan editor adalah korban (tumbal) dari sistem yang kapitalistik. Dalam sistem kapitalistik ini siapa yang bisa menyumbang keuntungan lebih banyak buat perusahaan, dialah yang mendapatkan bagian paling besar. Sialnya, editor sebagai pemain di belakang layar emang paling ngga keliatan perannya dalam bisnis ini. Mereka hanya tau penulisnya lah yang hebat dan pintar, padahal??? Atau, kalau buku itu bisa laku terjual, mereka melihat ini adalah peran pihak marketing. Editor ngga pernah masuk hitungan, kecuali saat terjadi kesalahan, barulah semua orang serentak menunjuk jari telunjuknya kepada editor. Sungguh ironis.

Tapi, itulah kenyataannya. Lagian, siapa suruh jadi editor? Daripada istri dan anak-anak gue kelaparan, ya gue jalanin aja pekerjaan ini sambil bermimpi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan masa depan yang lebih baik.

Buat rekan-rekan sesama editor, this is tribute to you for your full of dedication and respect in your work.

Peace, ya!

5 comments:

Anonymous said...

Tinggal kita liat aja, berapa lama perusahaan ini bisa bertahan tanpa editor-editornya...wekekek...

AryaNst said...

Bermimpi sambil terus berusaha dan berdoa ya Mas.

Semangaaat!

pratiwi said...

Hey....ayo bersyukur mas....sambil berusaha dan berdoa juga, semoga Allah membukakan pintu2 rizki kita yang lain, Amiiiin ;) ;)

Anonymous said...

Teman yang pintar... seperti ini adalah pilihan loe. Ga layak kan untuk dicaci. Loe masih ngandelin dapur loe berkibar dari perusahaan ini. Dari pekerjaan loe sebagai editor. Klo loe mau ngedapetin uang lebih dari ini ada baiknya loe cari penghidupan di tempat lain...yang lebih baik. Kenapa sih ga bersyukur....ditengah jutaan orang lulusan PTN...banyak juga yang belum dapat kerja. Lulusan PTN loh ya...bukan swasta. Orang pintar kaya loe ini mungkin emang seharusnya ga berada disini. Yang gw sayangkan...orang sepintar loe ini ga bisa bersyukur, ga mau berusaha lebih keras lagi (kan bisa ngerjain sampingan dengan fasilitas kantor bukan??? internetnya lancar kan sekarang???). Hidup cuma sekali teman....jgn hanya bisa mengeluh. So sori,....gw hanya menyayangkan pemikiran loe ini...

pratiwi said...

wuiiiih...kalem mas/mba Anonim hehehe...ko jadi 'panas'... Mas Bayu cuma curhat kaleeeee. Gw juga kalo jadi dia, begitu juga rasanya ;p Piss Mas/Mba Anonim. Btw, kenapa Anonim?? Malu yeeee? hehehe...