28 May 2008

Mengapa Mereka (Tidak) Suka Pelajaran Fisika?

Sebelum kita sampai ke pertanyaan ini, mari kita bayangkan apa jawaban siswa SMA saat ada yang bertanya: Apa pelajaran yang paling dibenci di sekolah? Ya, sebagian besar dari siswa tersebut pasti akan menjawab secara spontan dan serempak: Fisika!

Kalau Anda tidak percaya coba kita ingat-ingat kembali bagaimana kita dulu ketika sekolah menghadapi pelajaran fisika, pasti yang kita alami adalah kisah sedih di hari minggu (eh salah!) maksudnya tidak menyenangkan. Ingatan kita tentang fisika selalu dipenuhi dengan duka dan sedih (nggak ada senangnya sama sekali!). Ada yang gurunya galak, ada yang gurunya cuek, sering bolos, dihukum guru karena nggak ngerjain PR, dan lain-lain. Begitu bukan (hayo ngaku aja deh!).


Jadi, pertanyaan di atas: “Mengapa mereka tidak suka (benci) pelajaran fisika?” memang pantas dikemukakan dan dianalisis.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pelajaran fisika adalah salah satu pelajaran yang paling dihindari di sekolah khususnya tingkat SMA. Banyak kisah-kisah yang tidak menyenangkan yang terjadi saat menjalani pelajaran fisika di sekolah sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Keadaan ini sungguh ironis mengingat ilmu fisika adalah salah satu ilmu yang harus dikuasai bagi mereka yang ingin kuliah di perguruan tinggi dalam bidang eksakta (bidang MIPA, kedokteran, teknik, dan ilmu komputer).

Coba kita bayangkan bagaimana sulitnya mahasiswa yang mengambil kuliah di bidang eksakta di mana mereka sangat tidak menguasai pelajaran fisika di bangku SMA hanya karena hal-hal yang tidak menyenangkan saat belajar fisika di SMA. Bukankah ini sesuatu yang sangat merugikan?

Selama ini kita juga tidak pernah mau mengakui bahwa pelajaran fisika di SMA adalah sulit. Kita selalu mengatakan tidak ada pelajaran yang sulit kalau pelajaran tersebut dipelajari dengan rajin dan sungguh-sungguh tanpa pernah mau melihat bagaimana sulitnya siswa SMA mempelajari dan memahami pelajaran fisika di sekolah. Bisa jadi karena sulitnya memahami fisika itulah yang menyebabkan mereka membenci pelajaran fisika.

Sekarang, coba kita tengok buku pelajaran fisika yang dipakai oleh anak SMA sebagai sarana memahami pelajaran fisika. Walaupun penampilan fisik buku pelajaran itu sangat menarik tetapi tidak demikian halnya dengan isinya. Apabila kita terkagum-kagum dengan penampilan buku itu jangan kaget kalau Anda tidak akan mampu berlama-lama membaca buku fisika itu karena susahnya dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kehidupan sehari-hari.

Tanpa kita sadari kita telah membiarkan siswa SMA mempelajari pelajaran fisika yang sulit itu. Di sini kita juga perlu pahami juga bahwa mereka tidak hanya belajar pelajaran fisika saja tetapi mereka juga harus belajar pelajaran lain yang tingkat kesulitannya tidak kalah dengan pelajaran fisika seperti matematika. Pernahkah kita bayangkan bagaimana sulitnya hal ini? Bukankah ini sama halnya dengan membiarkan mereka atau bahkan memaksa mereka menelan sesuatu yang keras dan pahit yang mereka sulit untuk menelannya?

Berdasarkan pengalaman penulis yang selama ini menggeluti pendidikan fisika, ada dua faktor yang bisa dikemukakan berkaitan dengan pertanyaan sebagai judul tulisan ini, yaitu guru dan kurikulum fisika di sekolah.

Guru sebagai ujung tombak

Kita harus berani mengakui bahwa guru berperan besar dalam menjadikan pelajaran fisika sulit dan tidak menarik minat siswa untuk mempelajarinya. Fakta ini didukung oleh pendapat banyak siswa sekolah yang pernah penulis temui. Dari pengalaman siswa tersebut, penulis mendapati banyak guru fisika yang tidak punya motivasi dan semangat untuk mengajar pelajaran fisika. Entah karena malas atau kurang menguasai materi pelajaran, sering guru tidak hadir di kelas dan kalaupun hadir tidak memberikan pelajaran sesuai dengan waktu yang tersedia. Sering waktu pelajaran di kelas diisi dengan mencatat ataupun mengerjakan tugas tanpa siswa diberi wawasan secukupnya tentang materi tersebut. (Ini bisa jadi terjadi pada semua pelajaran bukan hanya pelajaran fisika saja.)

Ada juga guru yang untuk menutupi kemalasannya dan ketidakmampuannya menguasai materi memberikan tugas kepada siswa untuk merangkum materi pelajaran atau membuat makalah dengan topik materi pelajaran yang akan diajarkan. Dengan siswa telah membuat rangkuman atau makalah guru menganggap siswa sudah mempelajari materi tersebut dan menganggap siswa sudah mampu menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut. Wow, hebat sekali ya! (Jadi, ngapain aja tuh guru?)

Guru yang lainnya, untuk menutupi kemalasannya dan kekurangannya, ada yang memanfaatkan otoritasnya dengan bersikap galak kepada siswa. Ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang diajarkannya sehingga guru akan lebih leluasa mengajarkan materi pelajaran. Tetapi, sikap ini malah menambah kebencian siswa kepada guru sekaligus juga terhadap pelajarannya. Menurut pengamatan penulis kebanyakan guru yang mengajar fisika dianggap sebagai guru killer karena galak dan memanfaatkan otoritasnya untuk mendapatkan perhatian siswa. Ini adalah salah satu alasan kenapa pelajaran fisika tidak disukai. Apakah seperti ini sikap guru yang sesungguhnya?

Wajar saja kalau pelajaran fisika dianggap sulit lha wong gurunya saja tidak pernah memberikan pelajaran sama sekali dan lebih suka marah-marah ketimbang mengajar. Dari mana siswa mendapat tambahan pengetahuan kalau bukan dari guru? Padahal guru bertanggung jawab untuk mengantarkan siswa memahami pelajaran dan membimbing siswa untuk menerapkan pelajaran yang diajarkannya.

Berdasarkan pengalaman penulis, sebenarnya banyak cara, metode, dan sarana yang bisa dijadikan bahan dalam mengajarkan materi fisika sehingga dapat menjadi lebih mudah. Sebagai contoh ketika mengajarkan materi termodinamika seorang guru dapat menganalogikan hukum termodinamika I dengan krupuk yang sedang digoreng. Krupuk yang digoreng (diberi panas) akan mengalami perubahan volume (membesar) dan kenaikan suhu. Ini sesuai dengan hukum termodinamika I bahwa Q = ΔU + PV (panas Q mengakibatkan kenaikan suhu (energi dalam) ΔU dan pertambahan volume PV). Bukankah cara ini lebih efektif? Dan banyak lagi contoh yang bisa dipakai.

Tidak pantas bagi seorang guru yang membiarkan siswanya tidak mendapat tambahan pengetahuan. Dan, kebanggaan bagi guru yang mampu menanamkan pengetahuan kepada siswanya dan pengetahuan itu bermanfaat bagi kehidupan di masa yang akan datang. Jadi, kepada guru fisika marilah kita perbaiki sikap dan metode pengajaran yang selama ini kita jalankan dalam mengajarkan fisika. Dengan memperbaiki sikap dan metode pengajaran kita adalah salah satu jalan untuk membuat pelajaran fisika itu lebih disenangi dan mudah bagi siswa.

Kurikulum sebagai pedoman (kitab suci)

Tidak salah lagi, kurikulum adalah salah satu penyebab pelajaran fisika menjadi sangat sulit dan karenanya kurang disukai siswa. Kurikulum fisika yang ada tidak seharusnya diberikan pada tingkatan sekolah menengah. Karena menurut kurikulum ini materi pelajaran yang harus diberikan sangat banyak dan terlalu sulit jika dilihat bahwa jam pelajaran yang tersedia sangat terbatas dan siswa pun tidak hanya belajar fisika. Siswa juga harus belajar matematika, biologi, kimia, agama, ekonomi, sejarah dan lain-lain. Jadi, sangat tidak bijak apabila siswa dipaksakan (dijejali) untuk memahami semua materi yang ada di kurikulum.

Materi yang harus dipelajari oleh siswa tentang fisika begitu banyak dan mendetail yang masih perlu dipertanyakan haruskah materi ini diajarkan pada tingkat sekolah menengah. Perubahan kurikulum pada dasarnya tidak banyak mengubah materi pelajaran fisika ini karena hanya mengubah susunan atau struktur materi pelajaran. Perubahan kurikulum tidak pernah sama sekali menyentuh hal apakah materi ini layak dan harus diajarkan pada tingkat sekolah menengah. Pelajaran fisika yang selama ini kita pelajari di tingkat sekolah menengah seharusnya dipelajari di tingkat yang lebih tinggi (apa karena ini siswa kita banyak yang menggondol medali emas olimpiade fisika?).

Kurikulum yang ada selama ini hanya mampu diikuti oleh segelintir siswa saja yang mampu sedangkan sebagian besar siswa tidak dapat mengikuti apa yang ada di kurikulum. Seharusnya kurikulum dibuat untuk dapat diikuti oleh semua siswa, tidak hanya oleh segelintir siswa yang pintar saja. Berdasarkan pengalaman penulis untuk menjelaskan satu bagian (misalnya, hukum termodinamika I) saja dibutuhkan waktu yang cukup lama. Dan belum tentu bisa dipahami oleh semua siswa karena kemampuan masing-masing siswa berbeda-beda. Akibatnya, tidak cukup waktu yang tersedia untuk menyelesaikan seluruh materi yang ada dalam kurikulum.

Akan tetapi, karena kurikulum telah dijadikan pedoman dan bahkan seolah-olah bagaikan kitab suci yang wajib digunakan, kekurangan-kekurangan yang ada dalam kurikulum tidak bisa diganggu gugat. Ini menjadi beban tersendiri buat guru dan siswa.

Menurut pandangan penulis pelajaran fisika seharusnya diarahkan untuk dapat membantu memecahkan masalah yang sering timbul dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran fisika bukan sekedar membahas seluruh aspek dari hukum-hukum fisika secara detil sekaligus menyelesaikan semua perhitungan yang berkaitan dengan hukum tersebut tanpa siswa mengetahui apa manfaat yang nyata dari hukum-hukum tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dikatakan kurikulum yang ada kurang membumi yang membuat siswa kurang berminat mempelajarinya.

Kurikulum yang terlalu padat dan kurang membumi diperparah oleh ketersedian buku sebagai pegangan guru dan siswa dalam pengajaran fisika di sekolah. Ya, harus diakui bahwa buku pelajaran adalah salah satu elemen penting dalam proses pendidikan di sekolah tak terkecuali dalam pelajaran fisika. Di atas telah disebutkan bahwa buku fisika sebagai pengantar memahami pelajaran fisika yang ada tidak representatif. Ini bukan berarti penulisnya yang salah ataupun penerbit yang tidak bertanggung jawab. Penulis maupun penerbit merasa mereka telah membuat buku sesuai dengan kurikulum yang terbaru (kurikulumnya aja ngga jelas!). Dan mereka beralasan buku yang tidak sesuai kurikulum (walaupun lebih membumi dan lebih bisa dibaca (ada ngga ya!)) tidak akan laku dijual. Buku yang sedianya menjadi salah satu elemen penting dalam pendidikan telah terperangkap dalam bisnis semata dan seolah-olah mengabaikan aspek pendidikan. Praktik bisnis ini membuat tidak ada penerbit yang berani membuat buku yang lepas dari pakem dan belenggu kurikulum sehingga buku tersebut bisa lebih membumi dan mudah dipahami.

Salah satu ganjalan lain berkaitan dengan kurikulum yang membuat pelajaran fisika menjadi terlihat sulit adalah adanya ujian nasional (UN) sebagai standar kelulusan. Pelajaran fisika (atau sains pada umumnya) yang sedianya dapat dieksplorasi menjadi lebih menarik terbentur oleh batasan-batasan standar ujian nasional. Dengan adanya batasan-batasan ini guru menjadi terbelenggu dan membatasi pengajarannya hanya pada materi yang diprediksi akan keluar dalam UN. Pengajaran fisika yang dapat diarahkan agar lebih menarik digantikan oleh pembahasan soal-soal untuk menghadapi UN. Keindahan ilmu dan penerapan fisika serta merta akan tertutup oleh kekhawatiran bagaimana menyelesaikan soal UN dengan benar. Tentu saja siswa akan merasa bosan dengan metode pengajaran seperti ini tapi apa boleh buat daripada tidak lulus UN bisa berabe. (Mau ditaruh di mana muka gue kalo ngga lulus UN!)

Dengan argumen yang telah dipaparkan di atas, akankah kita diam saja membiarkan praktik semacam ini berlangsung terus?

Penulis yakin apabila pelajaran fisika bisa diarahkan agar lebih membumi dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah untuk memahami pelajaran fisika. Dengan demikian, guru juga lebih mudah untuk mengajarkan pelajaran fisika kepada siswa. Dan, pada saat itu tidak akan ada lagi ungkapan bahwa fisika itu sulit.

Dan, karena ilmu fisika merupakan ilmu dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, usaha untuk menjadikan fisika lebih familiar dan akrab buat siswa adalah langkah strategis. Diperlukan usaha yang terpadu dan sungguh-sungguh dalam langkah strategis ini yang meliputi pembenahan guru dan kurikulum.







21 May 2008

Welcome to Mt. Bromo (Bagian 3)

Hari ini, selasa 20 mei, bertepatan dengan hari waisak sehingga ditetapkan sebagai hari libur nasional. Tanggal 20 mei juga diperingati sebagai hari kebangkitan nasional dan kebetulan tahun ini memasuki usia peringatan 100 tahun. Mumpung lagi libur nih, gue jadi punya waktu untuk ngelanjutin petualangan gue di Gunung Bromo.

Sebelumnya gue udah cerita bagaimana gue bertiga bisa sampai ke Bromo dengan rada nekat karena persiapan yang gue bawa kurang memadai buat perjalanan seberat itu. Waktu itu gue bertiga cuma dilengkapi dengan kaus, celana panjang, dan jaket tipis. Padahal di Bromo cuaca sangat dingin, namanya juga di daerah pegunungan gitu loh. Trus juga gue bertiga harus nginap semalem di sana untuk menunggu sunrise atau matahari terbit esok hari. Tapi, gilanya gue bertiga ngga bawa persiapan buat bermalam, yang kami bawa saat itu jas hujan (buat jaga-jaga kalo turun hujan) dan terpal buat alas tidur. Tapi emang kita bertiga rada nekat, kita terus jalan aja dan ngga mikir panjang yang penting sampe dulu di tempat tujuan. Setelah itu baru deh dipikirin lagi gimana selanjutnya. Benar-benar anak-anak muda yang nekat.

Dari tempat pemberhentian angkutan terakhir, kami memutuskan berjalan kaki menuju ke Bromo. Jaraknya masih lumayan jauh lebih kurang lima kilometer. Saat itu malam sudah datang dan hari sudah gelap. Kami dihadang oleh jalanan yang berkelok-kelok dan menanjak. (Ya iyalah, namanya juga gunung pasti jalannya nanjak.) Jalan yang harus kami lalui memang jalan yang bisa dilalui kendaraan, tapi hanya kendaraan jip aja yang bisa lewat karena curamnya tanjakan di jalan ini. Jadi, enaknya kami ngga harus melalui jalan setapak yang kecil layaknya naik gunung yang beneran. Jalan ini biasanya dilalui oleh jip yang mengangkut penumpang ke atas. Tapi berhubung kami ingin menghemat ongkos, kami berjalan kaki aja melalui jalan ini. Dengan semangat 45 kami terus berjalan sampai akhirnya kami kecapean juga. Belum sampe satu jam berjalan, kaki udah terasa berat dan pegal-pegal. Di sini kami mulai berpikir apa bisa ya kami sampai ke atas. Mau balik lagi ngga mungkin, tapi mau terus ke atas juga berat banget rasanya. Sambil diselingi dengan istirahat beberapa kali, kami terus berjalan mendaki untuk sampai ke Bromo. Setelah lebih kurang 3 jam berjalan dan dengan napas yang ngos-ngosan sampailah kami di pintu gerbang untuk memasuki gunung Bromo. Secercah harapan mulai membuncah dan sedikit perasaan lega menjalar di hati kami. Tinggal sedikit perjuangan lagi untuk sampai di tempat tujuan, demikian pikir kami.

Tapi ini baru permulaan, man. Perjalanan belum berhenti sampai di sini.

Di tempat ini banyak berdiri hotel dan villa atau tempat peristirahatan sebagaimana yang kami lihat. Tampak juga beberapa toko makanan dan rumah makan berdiri di sini. Tampaknya, tempat ini memang sengaja dibuat sebagai tempat transit untuk mencapai gunung Bromo. Karena saat itu sudah malam, tidak banyak aktivitas yang bisa kami lihat di situ. Dari sini kami harus berjalan lagi untuk sampai di gunung Bromo. Tempat ini terletak di atas bukit. Jadi, kami harus turun ke bawah menuruni lereng untuk sampai ke wilayah yang dinamakan segara wedi atau lautan pasir. Ya, lautan pasir memang sebutan yang cocok karena daerah ini merupakan hamparan padang pasir yang luas. Dan Gunung Bromo berada di tengah-tengah lautan pasir ini. Perjalanan masih panjang, man!

Eit, tunggu dulu. Kami bertiga tidak langsung jalan mengarungi padang pasir untuk sampai ke Bromo. Berhubung saat itu sudah larut malam, kami harus bermalam dan menunggu datangnya pagi hari. Tujuan orang ke Bromo biasanya untuk melihat sunrise dan itu bisa dilihat di pagi hari. Jadi, semua orang harus menunggu sampai esok hari untuk melanjutkan perjalanan ke Bromo. Sekarang, saatnya mencari tempat beristirahat dan menunggu datangnya pagi.

Udara di malam itu sangat tipis dan dingin. Angin kencang yang menderu-deru menambah dinginnya malam itu. Bayangin aja di gunung, malam-malam, dan dengan angin yang bertiup kencang. Suhunya gue taksir bisa sampe 10o celsius kali. Padahal saat itu kami bertiga ngga ada yang pake jaket tebal dan perlengkapan lainnya. Kebayang kan gimana keadaan kami bertiga saat itu, menggigil kedinginan. Gue sendiri udah ngerasain tangan dan jari-jari gue udah kaku ngga bisa digerakin. Baru deh saat ini kita nyesel karena ngga nyiapin perjalanan ini dengan baik. Tapi ya emang dasar nekat kita coba ngelawan rasa dingin ini semampu kita. Untuk sedikit menghangatkan badan, kita coba membuat api unggun dengan persediaan parafin yang kita bawa. Api unggun menyala dengan bantuan kayu-kayu yang kita kumpulkan. Kami juga memanfaatkan api unggun untuk membuat air panas. Ini sedikit memberikan rasa hangat. Namun, keadaan ini bertahan selama kurang lebih satu jam saja. Dengan habisnya parafin, api unggun yang kami buat juga semakin kecil dan akhirnya padam. Kami perlu cara lain untuk melawan rasa dingin ini. Malam yang sangat panjang …

Malam semakin larut dan udara bertambah dingin. Kami masih bertahan di sani melawan rasa dingin demi menikmati sunrisenya Bromo keesokan harinya. Kami memutuskan mencari tempat yang lebih baik untuk melawan rasa dingin ini. Awalnya kami bertiga mencari tempat di dekat lautan pasir. Setelah persediaan parafin kami habis ngga mungkin kami bertahan di sana. Dan kami naik lagi ke tempat pertama kali sampai di sana yang terdapat banyak warung dan rumah makan. Kami berharap ada warung yang buka sehingga kami bisa menumpang sambil membeli beberapa makanan. Ternyata warung-warung itu tidak buka (karena memang udah larut malam). Kami terus mencari, sampai akhirnya kami menemukan sebuah pos ronda yang sedang ditempati oleh dua orang yang sedang jaga. Hati kami sangat gembira. Setelah meminta ijin kami diperbolehkan menumpang di sana dan memang orang tersebut dengan senang hati mengajak kami bergabung. Jadilah kami bertiga duduk di pos jaga ikut bergabung dengan orang yang sedang berjaga di sana. Dan untungnya orang yang di pos ronda itu sedang menyalakan api unggun. Thanks God, paling tidak kami bisa sedikit menghangatkan badan dan melawan rasa dingin ini.

Akhirnya malam yang panjang itu kami habiskan di sini, di pos jaga, ditemani oleh hangatnya api unggun. Gue ngga habis-habisnya mengucap rasa syukur bisa berada di pos jaga ini di malam panjang yang sangat dingin ini. Ngga kebayang deh kalo gue ngga menemukan pos jaga ini dan tetap bertahan dalam dinginnya malam itu. Bisa-bisa gue bertiga mati kedinginan kali. Di sini juga kami bisa bertanya kepada penjaga malam itu tentang suasana di Bromo. Tak lupa kita juga kita menceritakan tujuan kita ke sini untuk melihat sunrise. Penjaga malam itu tidak kaget dengan cerita kami karena memang dia sudah sering menemui mahluk-mahluk nekat seperti kami ini sebelumnya. Penjaga malam itu sendiri, di malam yang menurut kami sangat dingin ini, hanya mengenakan pakaian biasa yang hanya dilengkapi dengan kain sarung yang diselempangkan di leher. Ini memang pakaian khas suku tengger, penghuni tetap wilayah tersebut. Gunung Bromo berada di wilayah pegunungan Tengger. Sebagai penghuni wilayah tersebut, mereka memang sudah terbiasa dengan hawa dingin di wilayah ini.

Rasa lelah setelah berjalan mendaki dan rasa kantuk tidak kami rasakan lagi digantikan oleh rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Kami coba pejamkan mata namun tak jua terpejam. Hanya satu keinginan kami malam itu, segeralah waktu berlalu dan datanglah pagi hari.

Gelap masih menyelimuti, saat suasana terdengar agak ramai. Ya, suasana saat itu agak ramai dan banyak orang yang hilir mudik di sekitar tempat itu. Barulah kami sadar ini waktu untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Waktu saat itu menunjukkan pukul dua dini hari. Ini memang saat untuk berjalan ke Gunung Bromo di mana kita bisa menikmati indahnya sunrise. Ternyata banyak orang juga orang yang punya tujuan sama dengan kami. Mereka kebanyakan menyewa hotel malam itu dan melanjutkan perjalanan di dini hari ini. Banyak juga di antara mereka adalah turis asing. Dan gilanya mereka cuma pake kaus oblong dan celana pendek di pagi buta yang sangat dingin ini, di saat kami bertiga hampir mati kedinginan. Gila bener, gumam gue dalam hati.

Seperti yang gue bilang sebelumnya, untuk sampai ke gunung Bromo kita harus melewati lautan pasir, suatu wilayah yang berupa hamparan pasir yang sangat luas. Tidak banyak yang kami lihat selama perjalanan karena hari masih gelap saat itu. Kami hanya terus berjalan mengikuti orang-orang dengan satu tekad yang sama, sampai ke Gunung Bromo dan melihat sunrise. Keadaan kami sudah agak baik saat itu karena sekarang kami tidak sendirian, banyak orang yang punya tujuan sama dengan kami. Setelah sepanjang malam itu kami berkutat dengan rasa dingin dan ketidakjelasan nasib kami selanjutnya, kami merasa sangat lega saat itu. ini berarti kami sudah sangat dekat dengan tujuan akhir kami.

Setelah lebih kurang satu jam menempuh hamparan pasir segara wedi, sampailah kami di kaki gunung Bromo. Hati kami sangat lega dan seolah beban berat yang kami pikul sepanjang malam ini sudah hilang. Thanks God, finally our destination found.

Dari kaki gunung Bromo ini kita harus naik ke puncak melalui tangga yang sudah tersedia. Tempat ini sudah dipenuhi banyak orang. Sepertinya memang waktu pagi buta ini adalah waktu kerja di wilayah itu. Warung-warung makan tersedia sebagaimana tempat rekreasi lainnya. Kami terus naik ke puncak Bromo melalui tangga yang tersedia. Sesampainya di puncak, suasana ramai masih terasa. Di sini semua orang menunggu datangnya waktu matahari terbit. Semua sudah siap dengan kamera di tangan untuk mengabadikan momen yang langka ini. Kami harus hati-hati di puncak ini karena kawah Bromo menganga di hadapan kami dan angin masih bertiup sangat kencang.

Perjalanan panjang nan melelahkan sepanjang malam ini tidaklah sia-sia saat kami akhirnya bisa menikmati keindahan sunrise di pagi hari itu. Rasa lelah dan dingin tidak lagi kami rasakan saat menikmati indahnya matahari terbit gunung Bromo yang terkenal itu. Rasa puas dan bangga menghinggapi hati kami saat itu karena dengan segenap perjuangan kami akhirnya bisa berada di tempat itu dan menikmati suasana yang langka dan jarang kita alami ini. Akhirnya kami punya cerita yang bisa kami bawa pulang dan terus dikenang sepanjang waktu. Setelah mengambil beberapa gambar kami mengakhiri perjalanan kami dan kembali ke Malang.

Sampai saat ini gue masih terus mengenang pengalaman gue yang satu ini. Ada rasa bangga dan sedikit ngga percaya gue bisa nekat seperti itu. Tapi gue bersyukur bisa mengalami pengalaman itu dan berpikir terkadang kenekatan itu diperlukan dalam hidup ini untuk membuat hidup ini penuh warna.

Semoga pengalaman gue ini bisa jadi pelajaran buat diri gue dan buat kita semua.

19 May 2008

Read my articles, please ....

Dear all,

Gue emang seneng nulis, makanya sekarang gue bekerja di industri penerbitan. Gue seneng ngikutin berita tentang teknologi informasi dan langsung aja nulis tentang suatu tema yang menurut gue menarik untuk dibahas. Sebenernya sih gue ngga jago-jago amat ngerti tentang TI dan komputer. Tapi, gue suka aja baca-baca sampai ngebela-belain beli majalah komputer untuk menambah pengetahuan gue tentang TI dan komputer.

Selain TI dan komputer, gue juga seneng ngikutin perkembangan dari dunia pendidikan. Ada bebrapa tulisan gue yang membahas tentang pendidikan.

Gue mengupload tulisan gue di situs www.scribd.com karena di situs ini menyediakan fasilitas untuk itu. Di situs ini file tulisan yang kita buat akan dijadikan i-paper yang bisa dibaca melalui streaming sekaligus juga bisa didownload kalo kita ingin mempunyai file itu.

Do you want to read my articles? Ini adalah sebagian dari i-paper tulisan gue:

  1. Kita harus minta maaf kepada siswa SMA
  2. Efektivitas ponsel untuk streaming multimedia
  3. Mengenal jaringan komputer berbasis serat optik
  4. Paul Dirac: Si jenius dalam sejarah fisika
  5. Bimbingan belajar antara bisnis dan pendidikan
  6. Berbisnis informasi digital melalui internet
  7. Mengenal ADSL

Oke guys, semoga artikel gue bermanfaat buat lo semua.

Wonder Woman

Hari minggu adalah waktu di mana kebanyakan orang bisa bersantai ria menikmati sedikit kebebasan dan keluangan waktu dari segala rutinitas yang bisa mendatangkan kejenuhan. Namun, tidak demikian halnya dengan yang dialami oleh sosok wanita yang satu ini. Tak tampak sedikit pun suasana santai yang menghiasi kegiatannya pagi itu. Justru dia tampak bergegas menyiapkan sesuatu yang diperlukan. Setelah menyapa suami dan anak-anaknya, dan tak lupa pula dia menyiapkan hidangan untuk sarapan suami dan anak-anaknya, berangkatlah dia ke kampusnya. Ternyata dia harus kuliah di hari minggu ini, sesuatu yang dapat menggambarkan bagaimana kuat tekadnya untuk menggapai obsesi dan cita-citanya. Suasana di minggu pagi ini bisa jadi hanyalah sedikit gambaran keteguhan hati dan kuatnya tekad dari sosok wanita itu.

Dia adalah wanita dari suku minang, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Masa kecilnya dilalui di suatu kampung yang masuk dalam wilayah Payakumbuh Sumatera Barat. Sebagai anak pertama, dia menanggung beban untuk membiayai keluarganya. Untuk itu seluruh keluarga sangat mendukungnya menyelesaikan kuliahnya di jurusan peternakan di salah satu perguruan tinggi negeri di Padang. Dengan susah payah akhirnya dia bisa menyelesaikan kuliahnya dan menyandang gelar sarjana peternakan.

Saat pertama kali dikenalkan sebagai orang padang (walaupun bukan berasal dari kota Padang, setiap orang Sumatera Barat disebut orang padang. Kalo menurut gue sih lebih pas nyebutnya orang minang), dia disebut-sebut tidak mewarisi sifat-sifat atau cap negatif “orang padang”. Karena orang padang sudah dikenal orang sebagai orang yang memiliki banyak sifat negatif (lo tau sendiri lah!). Ketika kita berbicara dengannya sama sekali tak tampak cap yang biasa disematkan kepada orang padang. Sikapnya ramah, supel, dan fleksibel meski penampilannya selalu dihiasi oleh jilbab panjang dan baju kurung (gamis). Dia selalu bersikap tegas kepada siapapun baik sesama jenis maupun lawan jenis.

Sikapnya yang ramah dan supel itu membawanya menekuni profesi sebagai guru sekolah dasar. Kemampuannya berinteraksi sangat cocok dan membuatnya menjadi sosok yang ideal sebagai seorang guru walaupun latar belakang pendidikannya bukan dari bidang pendidikan.

Dia menikah dengan pria keturunan Jawa. Seorang pria yang sedang berusaha menggapai cita-citanya. Dia berjanji kepada pria ini untuk mengabdi dengan sepenuh hati dan berharap dapat menjadi sosok yang lebih baik melalui pernikahan ini. Saat menikah dia sadar beban yang harus dipikulnya bertambah karena dia masih tetap menjadi tulang punggung keluarganya selain sebagai istri dari suaminya. Saat itu dia memutuskan tetap bekerja sebagai guru di salah satu sekolah dasar Islam di Depok.

Karena sikapnya yang supel dan tegas, dia kerap menjadi tempat curhat teman-temannya sesama guru baik teman wanita maupun teman prianya. Bahkan, banyak juga orang tua murid di sekolahnya yang curhat mengenai rumah tangganya. Berbagai masalah diceritakan mulai masalah keluarga, pribadi, sampai masalah uang. Dan, semua masalah itu selalu dihadapi dan coba diselesaikannya. Ini bisa jadi memang sudah bawaannya karena posisinya sebagai anak pertama di dalam keluarganya yang membuatnya terbiasa mengambil keputusan-keputusan penting.

Sikap ini juga dibawanya dalam keluarga yang baru dibangunnya bersama suaminya. Dia memandang suaminya kurang tegas dan kurang tanggap dalam memutuskan sesuatu. Walhasil banyak keputusan cepat yang coba diambilnya sendiri tanpa menunggu keputusan suaminya. Hal ini dilakukan demi kebaikan keluarganya. Dengan posisinya yang memiliki penghasilan sendiri dan mempunyai tanggungan orang tua dan adik yang perlu dinafkahi, dia kerap kali membuat keputusan-keputusan yang mengandung banyak konflik kepentingan antara suami dan keluarganya sendiri. Ini tampak ketika dia memutuskan menanggung biaya kuliah adiknya meski kondisi ekonomi dia bersama suami dan anak-anaknya masih belum stabil. Saat itu dia kerap kali dihadapkan kepada konflik kepentingan suami dan anak-anaknya dengan keluarga orang tuanya. Namun, dia tetap teguh dan tegar dalam kondisi yang sangat tidak nyaman ini.

Keluarga yang dibangun bersama suaminya sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Suaminya yang meskipun memiliki potensi dan kemampuan akademis yang tidak jelek, belum mendapatkan karir yang dapat menjanjikan masa depan yang cerah. Kondisi yang paling buruk adalah saat suaminya memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai karyawan tetap di suatu perusahaan yang sudah relatif mapan. Dengan pendapatan yang lumayan dan tetap tiap bulannya ditambah tambahan bonus tiap tahunnya, sebenarnya bukanlah sesuatu yang buruk buat suaminya saat bekerja di perusahaan itu. Namun, dengan suatu alasan yang tidak jelas suaminya malah keluar dan pindah ke perusahaan yang ngga jelas juntrungannya. Alasannya ingin mencari suasana dan tantangan baru, kata suaminya. Dengan berat hati dan rasa khawatir yang cukup besar diterimalah keputusan itu. Dan ternyata benar apa yang dikhawatirkannya, yaitu suaminya tidak betah dan keluar lagi setelah hanya bekerja seminggu di tempatnya yang baru.

Bisa dibayangkan betapa hancur hatinya melihat kondisi ini. Di saat dirinya masih harus bekerja untuk membantu memberi nafkah orang tua dan adiknya, dia harus menerima kenyataan bahwa suaminya tidak bekerja yang berarti tidak mempunyai pendapatan. Saat itu dia telah dikaruniai seorang anak laki-laki dan sedang mengandung anak keduanya dan dia harus menjalani profesinya sebagai guru. Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan untuk menggambarkan keadaan hatinya saat itu. Tidak ada air mata yang menetes di pipinya. Dia coba angkat beban yang berat ini sekuat tenaganya. Kalau bukan karena keteguhan dan ketegaran hatinya, dia tidak mungkin bisa melewati masa buruk itu dengan kuat. Sungguh luar biasa wanita ini bagaikan memiliki hati baja. Wonder woman??!!

Ternyata itu hanyalah satu bagian saja dari kehidupannya yang pahit. Suaminya sebagai tempatnya mengabdi dan bernaung, tidak kunjung mendapatkan pekerjaan yang yang diidam-idamkan. Memang sih setelah itu suaminya kembali mendapatkan pekerjaan. Tetapi tetap saja bukan pekerjaan yang diidamkan dan tidak menjamin masa depan yang lebih baik. Sebenarnya dia sudah hampir mencapai keinginannya, tetapi semua harus musnah saat suaminya keluar dari tempatnya bekerja. Sampai saat ini keinginannya masih belum bisa diwujudkan. Sampai saat ini dia masih tidak bisa menerima kenyataan pahit tersebut dan selalu mempertanyakan tanggung jawab suaminya. Namun, kelembutan hati kewanitaannya selalu memanggil tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Kelembutan hati seorang wanita dan ketegaran hati sekuat baja adalah alasannya untuk tetap berada di sisi suaminya dan tetap memberikan kasih sayangnya sepenuh hati kepada suami dan anak-anaknya. Meskipun luka itu masih ada, dia tetap tegar menghadapi kenyataan pahit di hadapannya.

Saat ini dia telah diamanahkan oleh ALLAH dua orang anak yang lucu dan menggemaskan. Dia masih harus berjuang memperbaiki kehidupannya dan keluarganya, mencapai cita-citanya, dan menjaga kelangsungan keluarganya yang dibangun bersama suaminya. Dia dan suaminya masih harus terus berjuang untuk membangun rumah tangga dan membangun masa depan anak-anak mereka.

Life must go on, and its just begin.

Wonder woman menurut gue cocok disematkan untuknya. Thanks god because that wonder woman is belong to me. Yeah! She is my wife.

Wonder woman, I always love u. I promise, I’ll never make you sad again.

Inovasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Pendidikan

Inovasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan mekanisme Block Grant yang menjadi bagian dari Australia-Indonesia Basic Education Program (AIBEP) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan akses pendidikan secara umum di Indonesia. Managing Contractor Project Management (MCPM) sebagai kontraktor AIBEP bekerja sama dengan Bagian Sistem Informasi, Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Depdiknas sebagai penanggung jawab program Inovasi TIK.

Pemberian dana ini diarahkan pada aplikasi Inovasi TIK dalam bidang pendidikan, terutama pendidikan dasar, di mana diharapkan dapat mendukung implementasi berbagai proposal dalam skala kecil yang berpotensi untuk pengembangan lebih luas seperti hal-hal yang terkait dengan peningkatan akses pendidikan melalui TIK; pemakaian TIK dalam proses belajar mengajar; pengembangan profesionalisme guru dan pendukungnya; penggunaan internet/intranet di ruang kelas; e-learning, belajar sendiri dan jarak jauh; alat komunikasi; membangun jaringan antara guru, siswa, dan sekolah; proses pembelajaran yang interaktif; sekolah berbasis sistem informasi; pembelajaran yang mobile, penggunaan website sekolah; pelatihan dan akreditasi TIK; penggunaan sistem tayangan di ruang kelas; layanan pembelajaran online; pembagian sumber daya belajar mengajar; studi/riset yang terkait dengan terujinya inovasi di suatu tempat, sikap siswa/guru/orang tua/masyarakat terhadap penggunaan TIK di sekolah; atau ide inovasi yang lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut, termasuk mengenai garis besar format proposal, dapat menghubungi kontak dan nomor di bawah ini.

E-mail: yiyik.ajeng@gmail.com, subject: penjelasan detail proposal Inovasi TIK
Fax: (021) 57853579, Attn: Yiyik Ajeng, subject: penjelasan detail proposal Inovasi TIK
Kontak/alamat: Yiyik Ajeng, Bagian Sistem Informasi, Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Depdiknas, Gedung C lantai 7, Jl. Jend. Sudirman, Senayan Jakarta 10270.
Telepon: (021) 57853580
Website: http://pkln.diknas.go.id

Undangan ini terbuka bagi organisasi (atau kolaborasi dari beberapa organisasi) yang dapat berbentuk antara lain:

  • Lembaga Non-profit (yayasan, perkumpulan) yang didukung dengan akta pendirian dari notaris.
  • Lembaga Pemerintah di tingkat propinsi dan kabupaten/kota (dinas-dinas dan unit organisasi sejenis di lingkungan pemerintah daerah propinsi dan kabupaten/kota dengan persetujuan dari pimpinan lembaga.
  • Sekolah/perguruan tinggi pada berbagai jenjang, termasuk kelompok sekolah/perguruan tinggi sekaligus (terdiri dari beberapa sekolah/perguruan tinggi sekaligus) dengan persetujuan dari kepala sekolah/pimpinan perguruan tinggi masing-masing.

Sesuai dengan program kerja tahunan AIBEP, proposal inovasi diharapkan dapat dimasukkan selambat-lamabatnya pada tanggal 20 Juni 2008 dan pelaksanaan program inovasi selesai pada akhir April 2008.

Setiap proposal yang terpilih akan mendapat dana sebesar Rp80.000.000,00 s/d Rp800.000.000,00 berdasarkan kelayakan nilai proposal yang disetujui oleh tim penilai.

16 May 2008

Long .... long night ....

Saat ini waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Gue masih di kantor. Gue mulai bete. Gue ngebela-belain ngga pulang ke rumah supaya pekerjaan gue cepet kelar. Tapi kerjaan gue ngga dikerjain sama setter. Ngapain juga gue di sini? Orang-orang bilang gue harus tetap di kantor biar kerjaan kelar tapi mana buktinya? Udah gitu kalo ngga beres gue lagi disalahain. Padahal gue udah berikan semuanya, waktu, tenaga, dan pikiran buat proyek ini. Kalo gue masih disalahin juga gue ngga terima.

Minggu ini beban gue berat banget rasanya. Di kantor kerjaan ngga kelar-kelar. Di rumah sakit bapak masih terbaring sakit. Malem ini gue udah bela-belain ngga pulang tapi sepertinya orang ngga ada yang mau ngerti gimana beratnya beban yang gue rasain. Kalo gue ngga inget tugas gue di kantor ngga bakalan gue ada di sini. Tapi percuma juga sih. Ngga ada orang yang mau ngerti. Emang gampang sih nyuruh orang melakukan sesuatu, tapi sulit mengerti keadaan orang dan beban yang sedang dirasakannya.

Only God, I give my live and my soul to .....

15 May 2008

Work till you drop ....

Gile, udah jam 12 malem nih sekarang. And, I'm still here in my office. Oke deh friend, gue ceritain ye kenapa gue masih di kantor tengah malem gini. Hari ini memang deadline untuk pekerjaan gue. Gue memang kerja di industri penerbitan yang amat lekat dengan deadline.

Hari jumat besok adalah hari terakhir pengumpulan naskah buku proyek penilaian BSNP. Jadi, malem ini mau ngga mau naskah yang lagi gue kerjain harus selesai. Untuk proyek penilaian ini gue mendapat tugas menangani 7 naskah. Sampai jam 12 ini gue udah nyelesein 5 naskah dan masih kurang 2 naskah lagi yang harus gue selesein.

Gue emang ngga sendirian sih, ada temen gue yang bantuin juga. Ngga kebayang deh kalo cuma gue sendiri yang ngerjain. Bisa-bisa jungkir balik deh gue ngerjainnya.

Malem ini banyak juga yang senasib dengan gue yang harus nyelesein tugasnya malem ini. Ada yang mengoreksi naskah, ada yang ngeprint hasil setingan naskah, dan ada juga yang finishing naskah. Jam 12 malem ini masih rame aja di kantor kayak siang hari aja, semua orang ingin segera menyelesaikan urusannya. Orang kalo udah kepepet sepertinya punya energi lebih untuk melakukan banyak hal.

Kebetulan di ruangan gue, tinggal gue sendiri yang belum selesai tugasnya. Sepanjang hari ini terlihat gue doang yang sibuk. Gue harus ngoreksi naskah sampe nemenin setter finishing naskah. Temen-temen gue yang udah selesai sampai kasian ngeliat gue yang masih sibuk di saat yang lain udah pada nyantai. Mereka mau sih bantuin, tapi berhubung naskah yang gue kerjain berisi rumus-rumus yang bikin pusing, mereka ngga bisa bantu banyak. Tapi gue seneng dengan simpati mereka, itu udah sedikit mengurangi beban gue yang berat ini.

Oke guys itu sedikit pengalaman gue yang harus begadang di kantor untuk nyelesein tugas yang harus selesai malam ini. Semoga bisa menjadi pengalaman buat gue ...

11 May 2008

Ngga nyangka, artikelku banyak yang suka

Dear all ....

Sebelumnya saya mohon maaf belum bisa ngelanjutin cerita gue di gunung Bromo. Tapi sebagai gantinya ada topik yang menurut gue menarik untuk dibahas. Ini tentang copy-paste di dunia maya.

Beberapa hari yang lalu secara iseng gue nyoba mengetik nama gue di search-nya google. Ternyata banyak juga halaman web yang memuat nama gue dan yang ngga disangka-sangka ada artikel gue yang mampir di blog orang lain. Artikel ini gue kirim ke redaksi netsains beberapa waktu yang lalu dan sudah dipublish di website tersebut. Artikel tersebut ada di alamat ini

http://wp.netsains.com/2008/03/08/efektivitas-ponsel-untuk-streaming-konten-multimedia/

dengan redaksi yang sama, artikel ini muncul di blog berikut ini

http://arivrahman.blogspot.com/2008/03/efektivitas-ponsel-untuk-streaming.html

Di blog ini memang tetap ditampilkan nama gue sebagai penulis.

Buat gue sih ngga masalah ya kalo artikel gue banyak ditampilkan di banyak situs atau blog. Itu berarti banyak yang suka dan setuju dengan tulisan dan opini yang gue sampaikan. Gue seneng banget dengan hal itu. Namun, di sini gue mau titip pesen: jika ada yang mau menggunakan tulisan orang lain di blognya alangkah baiknya memberi tahu kepada yang punya tulisan. Misalnya, kita bisa memberikan comment bahwa kita suka dengan artikel ini dan mau memposting di blog kita. Dengan begitu yang punya tulisan sudah tahu artikelnya dipakai dan juga bisa terjalin komunikasi. Bukankah blog dibuat untuk menjalin komunikasi?

Sebenarnya ketika kita memposting artikel atau tulisan di website atau blog, secara tidak langsung kita sudah memberi izin kepada orang lain untuk menggunakan (mengkopi) tulisan kita. Namun, alangkah baiknya kita tetap memberi tahu atau paling tidak meninggalkan comment kepada si empunya artikel tersebut.

10 May 2008

Welcome To The Mt Bromo (bag 2)

Oke guys …. Gue lanjutin lagi ya cerita waktu pergi ke Gunung Bromo. Udah agak malem sih saat ini sepulang dari kantor.

Kemarin ceritanya kita mau pergi ke Malang dari Jombang. Dari tempat Mbahnya Dani di Jombang kita naek bus jurusan Jombang-Malang. Kami agak terhibur selama perjalanan dari Jombang ke Malang karena jalur yang dilewati memang sangat menarik. Sepanjang perjalanan kami bisa menikmati sejuknya hawa pegunungan dengan pemandangan gunung, bukit, serta danau yang indah. Karena harus melewati daerah pegunungan, jalan yang dilalui berkelok-kelok dan terjal. Bagi yang ngga kuat bisa mabok deh. Akhirnya sampailah kami di kota Malang sebelum tengah hari karena kami sengaja berangkat pagi-pagi dari Jombang.

Kami langsung aja ke tempat familinya teman kami, Dani. Letaknya di daerah yang disebut Bandulan. Di sini kami berencana untuk pergi ke Bromo keesokan harinya. Gue inget banget hari itu hari rabu dan besoknya, berarti hari Kamis, kami akan pergi ke Bromo. Bisa dibilang rencana pergi ke Bromo ini ngga direncanain sebelumnya. Ide ini muncul begitu aja saat di Jombang di mana di sana kami agak kecewa karena ngga nemuin tempat wisata yang asyik. Jadi, kebayangkan kami ngga punya perlengkapan yang memadai untuk naik gunung. Ya .. walaupun Bromo bukan gunung sebagaimana Gunung Semeru atau yang lainnya, tetep aja diperlukan perlengkapan yang memadai seperti jaket yang agak tebel, skebo, sepatu, dll biar ngga mati kedinginan di sana. Nah, kita waktu itu ngga ada sama sekali. Bisa dibilang kita nekat banget mau pergi ke Bromo saat itu.

Keesokan harinya jadi juga kita pergi ke Bromo dengan perlengkapan sederhana yang kami dapat dari meminjam ke familinya teman kami.

Hari itu, kamis, kita berangkat siang biar sampe di Bromo malem trus nginep dan besoknya bisa ngeliat sunrise atau matahari terbit. Perjalanan dari Malang ke Bromo kurang lebih 4 sampe 5 jam deh. Sebenarnya ada banyak jalur yang bisa ditempuh dari Malang ke Bromo, tapi kami memilih jalur yang paling save, yaitu lewat Probolinggo dan lanjut ke Bromo. Dengan bus jurusan jember kami menuju ke Probolinggo kurang lebih selama 2 jam. Kami turun di terminal Probolinggo untuk melanjutkan perjalanan ke Bromo menggunakan mobil colt.

Saat perjalanan ke Bromo ini kami langsung disambut oleh hawa dingin. Kami tiba di sana udah sore menjelang malam. Mobil colt yang kami tumpangi mengakhiri perjalanan di tempat yang dinamakan cemoro kandang. Di sini ada terminal kecil yang berisi mobil jurusan Probolinggo. Dari cemoro kandang kami harus melanjutkan perjalanan ke Bromo menggunakan mobil jeep karena memang hanya mobil itu yang bisa lewat jalur menuju ke Bromo ini. Saat itu malam sudah turun dan keadaan udah gelap. Berhubung biaya yang pas-pasan kami berpikir dua kali untuk naik jeep itu. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan aja dari cemoro kandang ini ke Bromo. Lagipula katanya mau naik gunung, kok enak banget naik jeep langsung nyampe di tempat, begitu pikir kami. Dan di sinilah tantangan itu dimulai …. Yes, the adventure just began …..

Pengen tau petualangannya lebih lanjut, sabar ya … sepertinya gue tunda dulu petualangan nan menantang dan rada nekat ini. Sorry nih gue akhirin dulu sampe di sini. Gue udah capek mau istirahat, soalnya besok mau lembur. Biasa nyari tambahan buat makan-makan lah.

See you tomorrow …

09 May 2008

Welcome To The Mt Bromo …. (bag 1)

Hari ini, dari tempat kerja gue, gue sengaja cepat-cepat pulang. Di samping lagi ngga ada kerjaan yang mengharuskan gue lembur, gue juga pengen segera menuangkan cerita untuk gue posting di blog gue yang baru ini. Memang, udah hampir tiga minggu ini gue lagi dikejar deadline di tempat kerja gue untuk nyelesain proyek yang tinggal tersisa 3 hari lagi. Tapi berhubung hari ini tugas-tugas udah gue selesein, gue bisa nyempetin diri untuk membuat posting ini.

Kali ini gue mau nyeritain kisah gue saat pertama kali pergi ke Gunung Bromo. Gue emang udah 4 kali pergi ke Gunung Bromo dan untuk yang pertama kali ini menurut gue sangat unik dan unbelieveble. Sampe sekarang gue masih sulit percaya gue pernah melakukan hal yang nekat seperti itu.

Kisah ini terjadi waktu gue baru lulus SMA dan lagi nungguin hasil UMPTN (ujian masuk perguruan tinggi negeri). Dulu namanya emang masih UMPTN sekarang kayaknya udah berubah jadi SPMB atau apa ya bingung juga karena ganti-ganti nama terus. Waktu itu bulan Juli 1993, gue masih inget banget, ceritanya sambil nunggu hasil UMPTN gue mau jalan-jalan dulu, mumpung belum mulai kuliah gitu. Ritual jalan-jalan emang udah jadi tradisi gue dan gank gue setiap liburan sekolah. Sebelumnya gue juga udah pernah ke Bandung dan Pekalongan dalam rangka mengisi liburan sekolah.

Dan, kali ini our destination adalah sebuah kota di Jawa Timur, yaitu Jombang. Alasannya adalah karena ada teman gue yang punya Mbah (eyang atau kakek) di kota ini. Pada awalnya sih ada empat orang, gue, Dani, Beni, dan Santo, yang berencana pergi. Tapi, kemudian Beni ngga jadi ikut karena ada keperluan keluarga katanya. So tinggal gue bertiga yang siap berangkat. Itu juga dengan biaya yang pas-pasan. Dan, jadilah kami berangkat ke Jombang pas seminggu sebelum pengumuman hasil UMPTN. O ya, di Jombang itu adalah tempat tinggal Mbahnya Dani.

Untuk menghemat biaya kami memilih kereta api ekonomi jurusan Jombang sebagai alat transportasi. Nama keretanya Bangun Karta. Dengan ongkos waktu itu kalo ngga salah 15 ribu perak aja per orang kami berangkat dari Pasar Senen. Saat kami memutuskan pergi ke Jombang belum ada bayangan mau ngapain aja di sana. Yang penting saat itu kami pergi dulu aja. Khan nanti bisa direncanain lagi mau maen ke mana aja setelah sampe di sana dan meminta pendapat kepada famili teman kami di Jombang.

Perjalanan menggunakan kereta api memang agak membosankan menurut gue, apalagi kalo udah malem. Kita ngga bisa ngeliat pemandangan di luar karena keadaan di luar yang sangat gelap. Sebenarnya, gue agak males naik kereta api karena alasan tadi dan juga keadaannya yang kurang nyaman. Kalo teman2 ada yang udah ngerasain pasti ngerasa bosan juga deh. Tapi untuk menghemat biaya kami tetap melakukannya. Dan, kami sangat lega ketika kereta sampai di stasiun Jombang setelah menempuh waktu hampir selama 15 jam yang membosankan.

Kota Jombang ini mirip dengan kota-kota lainnya di Jawa Timur. Kebetulan karena orang tua gue berasal dari Jawa Timur, gue udah cukup akrab dengan suasana kota-kota di Jawa Timur. Pusat kota biasanya berada di dekat alun-alun dengan Masjid Kaumannya. Ini adalah ciri khas kota di Jawa khususnya Jawa Timur. Begitu juga dengan Jombang memiliki alun-alun dengan masjid Kaumannya. Kota Jombang ini lebih kurang dua jam perjalanan dari Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur. Letaknya bukan di pesisir atau dekat pegunungan. Jadi, ngga ada tempat wisata atau tempat menarik yang bisa dijadikan tujuan rekreasi. Di Jombang ini kami hanya sempat jalan-jalan ke alun-alun dan nonton film di bioskop. Walaupun kota kecil ternyata ada juga bioskop twenty one-nya. Kebetulan waktu itu ada film City Hunter-nya Jacky Chen. Jadi deh kita nonton. Gue pikir ngapain juga nonton bioskop di Depok aja bisa kok? Habis bingung juga sih mau maen kemana karena ngga ada tempat menarik yang bisa dikunjungi.

Dari Jombang kami mengarahkan tujuan kami ke kota lain yang bisa ditempuh dalam waktu 3 jam perjalanan dari Jombang. Teman kami, Dani, memiliki famili di kota ini. Kota ini dikenal sebagai kota apel dan berada di daerah pegunungan. Ya, kamu semua pasti udah tau kan itu adalah kota Malang. Kota ini emang udah terkenal karena udara dinginnya dan pendidikannya. Di Malang ini ada banyak opsi tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi selain memang kotanya sendiri yang terdapat beberapa kampus terkenal. Di kota inilah nantinya gue akan menetap untuk menuntut ilmu.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Gunung Bromo. Alasannya adalah transportasinya yang tersedia dan tempatnya yang memang sudah dirancang sebagai tempat wisata. Kalau kita pergi ke Bromo jangan dikira kita akan naik gunung sebagaimana kita naik gunung Gede, Salak, atau Semeru. Makanya gue nulis di sini pergi ke G Bromo bukan mendaki G Bromo karena memang kita seolah-olah pergi ke tempat wisata bukan naik gunung.

Wah, ternyata ngga terasa udah jam 11 malem nih. Gue harus istirahat dulu nih, besok gue lanjutin lagi deh ceritanya. Tuh kan udah nguap, ngantuk ye ….

08 May 2008

Finally, I have a blog

Salam semuanya,

Finally, I have a blog. Setelah selama ini memendam ide dan keinginan untuk menuliskan semua kisah dan pengalaman hidupku, akhirnya gue bisa mewujudkannya hari ini. Ide untuk membuat blog ini sendiri baru beberapa hari terakhir ini muncul. sebenarnya, gue udah pernah punya blog sebelumnya tapi gue belum puas dan belum menampilkan diri gue sebenarnya. Jadi, blog inilah wujud diri gue di dunia maya ini. Semoga aja blog ini bisa mewakili diri gue, pendapat-pendapat gue, or curhat gue di dunia maya ini.

Beberapa hari terakhir ini memang di benak gue banyak banget ide atau keinginan untuk menuangkan ide-ide, cerita, dan pengalaman gue bahkan seolah-olah blog itu sudah terwujud dalam benak gue. Akhir-akhir ini emang gue banyak merenung dan introspeksi diri sambil mengingat-ingat kembali pengalaman-pengalaman yang pernah gua alamin. Gue jadi inget betapa nekatnya gue pergi ke G. Bromo tanpa membawa perlengkapan yang cukup. Trus gue inget banget eksotika air terjun Madakaripura yang sangat unik dan mempesona. Gue jadi terharu dan baru sadar bahwa banyak kejadian yang unik yang pernah gue alamin dan bisa gue sharing dengan teman-teman semua.

Untuk itulah blog ini dibuat. And, gue harap ada yang mau berbagi juga pengalamannya sama gue. Walau bagaimanapun kita perlu ingat kata pepatah Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Dengan pengalaman itu kita bisa lebih dewasa dan matang dalam menjalani kehidupan ini.

Oke, mungkin sekian dulu pengantar dari gue. Berhubung menggunakan fasilitas kantor gue cukupkan dulu. Gue lanjutin di waktu yang lain. Dan, dengan cerita-cerita yang unik tentunya.

Salam ...