04 July 2008

Transformasi Lorentz

Gue ngga liqo lagi. Akhirnya, statemen ini keluar juga dari mulut gue. Dengan berat hati dan sejuta perasaan bersalah gue terpaksa mengeluarkan statemen ini. Sebenarnya ngga ada yang salah dengan liqo atau tarbiyah, tapi gue ngga bisa lagi bermuka dua. Di satu sisi mengaku sebagai kader tarbiyah tapi di sisi lain sama sekali tidak menunjukkan diri sebagai kader tarbiyah sejati. Gue emang (kelihatan) alim, ngga pernah ketinggalan salat lima waktu dan sering ke masjid, suka puasa senin kamis, punya istri berjilbab, dan seabrek citra lain yang memungkinkan gue untuk disebut ikhwan. Tapi semua itu ngga cukup untuk dijadikan alasan dan pengakuan bahwa diri gue pantes disebut ikhwan dan bahkan bisa jadi sekedar kamuflase di balik sisi gelap gue yang lain.

Gue yang sekarang ini memang lain dengan gue waktu masih kuliah dulu. Dulu, gue dikenal sebagai cowok yang selalu mengisi hari-hari siang malem dengan aktivitas dakwah dan tarbiyah. Gue yang ngga pernah memandang cewek (akhwat) yang bukan muhrimnya. Gue yang senang mengkaji ilmu al-quran dan menghafalkan al-quran. Gue yang cuma mengenal tiga tempat: kampus, perpustakaan, dan masjid. Cewek dan pacaran adalah dua kata yang bisa membuatnya muntah karena jijiknya. Gue hidup dengan segudang idealisme tanpa pernah melihat realitas yang ada. Saat itulah liqo dan tarbiyah adalah dua kata indah dan wajib dalam hidup gue.

Waktu itu juga segala yang berhubungan dengan musik, nyanyian, dan film gue singkirin dari kamus hidup gue. Karena bagi kami hal itu sia-sia dan maksiat. Sebagai gantinya kami menggelorakan semangat kami melalui nasyid. Itu loh nyanyian tanpa musik yang mengobarkan semangat jihad, atau nyanyian yang hanya diiringi oleh gendang (tapi bukan dangdut ya!). Kami benar-benar menjaga diri kami dari hal-hal yang nyerempet maksiat dan sia-sia.

Itu bisa aja dilakukan waktu gue masih kuliah. Saat di mana kita bisa melakukan apa saja yang kita mau tanpa ada yang bisa menggugat. Mahasiswa gitu loh, apa pun bisa gue lakukan. Persetan dengan dunia dan orang lain. Gue seolah berada di dunia lain, dunia antah berantah yang sangat jauh berbeda dengan dunia tempat kita hidup. Saat itu gue ngga pernah berpikir bahwa gue ngga akan selamanya di kampus dan satu saat akan terjun ke masyarakat. Gue ngga pernah berpikir bahwa gue harus membuka mata terhadap masyarakat sekitar.

Tapi, gue baru sadar saat gue lulus kuliah dan dihadapkan dengan realitas dan dunia nyata. Gue baru agak ngeh dan sadar bahwa selama ini gue bagaikan katak di dalam tempurung. Gue cuma mengenal idealisme sebagai realitas semu tanpa sadar akan realitas yang sesungguhnya.

Saat gue kuliah dulu kebetulan gue tergabung dalam komunitas yang mengusung idealisme yang sama. Kami sangat kuat memegang prinsip dan keyakinan. Maklum, anak kuliah yang sedang on fire. Kami membangun ikatan hati dan ukhuwah dan mematok target besar di masa datang.

Dalam suasana seperti itulah gue memutuskan untuk mencari pendamping hidup yang memiliki kesamaan visi dan pandangan. Waktu itu idealisme gue udah agak menurun karena gue sadar diperlukan sesuatu yang lebih besar dari sekedar idealisme, gue perlu mempertimbangkan masa depan buat keluarga gue.

Masih dalam suasana tarbiyah, gue memilih pendamping hidup gue. Padanya gue menggantungkan masa depan anak-anak gue. Saat inilah gue benar-benar dibenturkan pada dua hal yaitu menjaga prinsip dan keyakinan, dan memperoleh pekerjaan dan karir untuk masa depan keluarga gue. Gue dihadapkan pada kenyataan dimana gue harus memilih menikmati pekerjaan dimana gue harus berhadapan dengan segala risiko dan konsekuensi dari pekerjaan yang terkadang tidak sesuai dengan prinsip kita dan menjaga prinsip dan keyakinan kita dengan kuat.

Akhirnya, gue ngga bisa lagi menjaga prinsip gue dengan teguh dan terbawa pada arus dan kenyataan yang harus gue hadapi. Dan sialnya gue merasa sangat nyaman dengan kondisi ini. Di lain pihak gue jadi merasa asing dengan komunitas yang gue pernah menjadi bagian penting darinya. Gue udah jauh dari aliran dan arus komunitas itu sehingga dengan berat hati gue memutuskan ikatan dengannya.

Saat ini, semua hal yang dulunya tabu dan haram buat gue dengan santainya gue nikmati seolah-olah gue bukan orang yang pernah membenci hal itu. Apakah ini suatu kematangan hidup? ataukah gue yang emang ngga pernah sungguh-sungguh menjalankan kehidupan gue yang dulu itu?

Gue merasa telah mengalami transformasi, yaitu perubahan bentuk dan karakter. Meminjam istilah dalam fisika: transformasi lorentz.

Perlukah gue kembali ke kehidupan gue yang dulu?

To be continued ...

11 comments:

rie said...

Awalnya aja ya loe terkesan alim dan kalem, ternyata makin kesini loe makin caur. Itukah wajah asli Mas Bayu?? Kok to be continued? kayak sinetron??

AryaNst said...

Wah, Mas Bay... Justru salut Mas bisa menjalani masa kuliah seperti itu. Kalau dibandingkan saya yang udah ngaco dari SMA-nya sih Mas jauh lebih baik, hehehe...

Semoga kita mendapatkan jalan yang terbaik ya, Mas... :)

rie said...

Heran, Mas Irman kalo ngasih komentar ke Mas Bayu selalu normal dan lurus, kenapa kalo komentar ke blog gue selalu ngawur dan ngaco?

Bayu Sapta Hari said...

gue emang belon selesai makanya gue tulis to be continued ...

Bayu Sapta Hari said...

makanya rie kalo bikin tulisan yang "bener" juga jadi komennya juga bener ...

AryaNst said...

Haha... itu Mas Bayu loh yang ngomong Rie ya, bukan gua.. :P

Meskipun itu memang jawaban yang bakal gua kasih, hehehe...

Tapi baca donk komen gua di entry issue lu. Gua udah komenin lagi tuh. Normal dan lurus komen gua yang itu :D

rie said...

Jadi Mas Bayu yang sekarang beda sama Mas Bayu yang dulu? "Kau bukan yang dulu...lagi.."(nyanyikan dengan gaya Dewi Yull. Hehehe). Tiap orang memang berubah Mas (KBH RX kali..), tiap orang pasti beradaptasi dengan lingkungannya. Mungkin yang loe lakukan cuma berusaha buat diri loe merasa nyaman dengan lingkungan tempat loe yang baru (kantor kita bukan?). Kalo kita gak ngerasa nyaman, mana mungkin kita bisa tahan? Betul gak?

Bayu Sapta Hari said...

cuma masalahnya ada orang-orang dekat gue yang ngga suka dengan perubahan yang gue alamin. mereka pingin gue yang dulu ... dilematis ....

Akhina Ifa said...

Assalmualikum
Salam kenal mas... :D

Rupanya bukan teman ana aja ya yang ngerasain kayak gitu,hal itu semua terjadi lantaran keadaan dan kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan diri untuk menjadi org2x yang "dulu". Knp? karena manusia punya sifat adabtasi, atau dapat berubah perasaannya ketika dia berada di tempat lain. :)(kata mas: "saya juga tahu dek :D " )

Nah, bukan berarti mas yang saat ini bisa dikatakan tidak seperti yang dulu, sehingga mas merasa kurang pantas untuk menjadi anak halaqoh lagi, apalagi mas merasa tidak pantas dibilang ikhwan, biar gimanapun mas adalah ikhwan masa akhwat :p )
Jadi,s etelah kita merasa ftur total, bukanlah saatnya kita menyalahkan diri dan merasa jadi org yang tidak pantas dalam menjalin Hidayah kita kepada Allah, justru dengan kefuturan kita itu kita diharapkan untuk meraih hal-hal yang memungkinkan kita tidak futur mas. Hal ini bukan lantaran pantas atau tidak, namun Ibadah dll, adalah sarana dimana org itu menjadi berubah lantaran dia melakukan ibadah tersebut :) . contoh sederhana adalah Shalat, apakah kita harus baik dulu baru shalat atau shalat itu memang wajib bagi siapa saja?.
Tidak, ternyata Allah, menjelaskan bahwa Shalat itulah yang membuat kita menjauhi perbuatan2x yang jelek(baca: keji dan mungkar) seperti yang tertulis pada AlAnkabuut:45

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (AlAnkabuut:45)

Tuh kan, jadi bukan org dulu yang harus menghindari sesuatu yang keji dan mungkar, melainkan ia setidaknya shalat dulu karena dengan shalat tersebut dirinya dapat terhidar dari keji dan mungkar.

Satu contoh lagi deh mengapa wanita di suruh pake jilbab? apakah karena wanita itu harus menjadi baik dulu, baru pake jilbab atau malah pakai jilbab dulu baru menjadi lebih baik?. Keduanya memang benar, namun, yang paling berkesan adalah dari tidak mengetahui apa2x sehingga org yang menggunakan itu menjadi tahu. Dimana jilbabnya itu menjadi sekolah baginya, dimana seorang jilbaber itu diajarkan akhlaknya dengan Jilbab itu... (itu yang saya tahu :D )

Analoginya begini deh, apakah anak kecil yang masih bodoh harus pintar dulu baru masuk sekolah atau memng sekolah itu bagi anak2x bodoh?. Yang jelas sekolah itu bertujuan untuk membuat pintar anak2x bodoh, klo pintar, ngapain di sekolahin, lah orgnya udah pintar ko.. kira2x begitu :D

Afwna klo banyak omong :D

Jadi kesimpulannya, klo mas pgn seperti dulu, sebaiknya mas ikut aja lagi tarbiyahnya, ingat lo mas ngak semua org bisa mendapatkan kesempatan berharga untuk liqo :). Dan liqo itu bukan untuk org2x yang berilmu saja, melainkan liqo adalah tempat belajar bagi org2x yang tidak tahu menjadi tahu.. dari jahil menjadi tidak jahil :)

Yaudah thanx ya dah diizinin bicara banyak2x disini :)

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (AlMAidah:50)

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (AlBaqoroh:147>

Keep Ukhuwah :)
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Alhujuraat:10

:) :) :)

Bayu Sapta Hari said...

to akhina ifa

makasih atas tausiyah dan komennya. untuk ikut liqo lagi, its complicated karena waktu terakhir sy liqo sy udah ngerasa ngga sreg krn suasana liqonya menurut sy ngga kondusif. anggota jarang hadir, ngga komitmen, kurang perhatian, dll. jadi, saya trauma ikut liqo lagi, sy tidak menemukan suasana liqo dan ukhuwah seperti dulu yg pernah saya rasakan. sedih rasanya ....

Dan bibirku berdesir... said...

kum..
Gimana klo aku punya usul agar Mas Bayu, ikut di halaqoh yang masih Idealis :D ya gabung sama yang muda2x gitu deh, biasanyakan yang muda2x atau yang sepantaran anak2x kuliah, idealisnya masih pada membara, mendingan mas deketin aja mereka, klo ngak sering2x mengunjungi forum2x islam kyk myquran dan dudung, masalahnya ada juga lo seseorg anggota forum yang kelahiran 60-an, alsannya? katanya mau membuat dirinya agar bisa idealis lagi kayak anak muda :D
Maaf ya mas klo ada salah2x kata
Wassalm