09 Juli 2009

Nyoblos .. eh Nyontreng

kemarin ikut nyontreng di TPS. pilpres kali ini ngga ribet seperti waktu pemilu legislatif yang lalu, lebih sederhana dan mudah. saya nyontreng di TPS 26 rw 7 kelurahan sukma jaya depok. seharusnya perhitungan suaranya juga lebih cepat ngga susah ngitungnya seperti pemilu legislatif kemarin.



tanpa mikir lagi saya nyontreng nomor ... (rahasia donk .. hehehe) tapi gue kayaknya lupa yang tengah ataw yang pinggir ya ..



Masyarakat menggunakan hak pilihnya dan berharap ada perubahan dan ke depannya bisa menjadi lebih baik.



Firdaus dan Izzaty ngga ketinggalan ikut nyontreng .. eh bukan deh .. cuma maen-maen doank di sekitar TPS.

23 Juni 2009

Kompetisi Inovasi Bidang Wireless Kembali Digelar

Indosat kembali meluncurkan Indosat Wireless Innovation Contest (IWIC) 2009, sebuah kompetisi inovasi di bidang Wireless. Dengan mengambil tema “Innovation, Research and Developing Entrepreneurship in Wireless Business”. IWIC 2009 menghadirkan kategori baru yaitu kompetisi Research and Development in Wireless Technology untuk perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Kategori baru lainnya adalah Mobile Wireless Application yang merupakan pengembangan dari kategori sebelumnya.

Peluncuran IWIC 2009 sengaja diselenggarakan di Stasiun Bumi Indosat di Jatiluhur, Purwakarta, tempat inovasi Indosat dimulai sejak tahun 1967. Acara peluncuran dihadiri oleh Dirjen Postel yang diwakili oleh Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio Depkominfo, Tulus Rahardjo, dan Ketua BPPT yang diwakili Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi, Tatang A. Taufik oleh serta jajaran Direksi Indosat.

Kompetisi IWIC yang diselenggarakan untuk ke-4 kalinya ini bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai penasehat (advisor) program sekaligus anggota tim penilai, khususnya untuk kategori Research and Development Competition, dan Inkubator Industri dan Bisnis ITB sebagai mitra pengembangan kewirausahaan khususnya bagi kategori mobile wireless application. Kemitraan ini diharapkan dapat menambah value program IWIC dengan hasil kompetisi yang makin berkualitas.

“Program IWIC 2009 merupakan kelanjutan dari inisiatif Indosat untuk menjadi pelopor inovasi dengan membangun nilai dan semangat berinovasi dalam diri generasi muda dan masyarakat pada umumnya. Lebih dari itu, program IWIC juga menjadi implementasi program tanggung jawab perusahaan dalam bidang pendidikan melalui payung INDONESIA BELAJAR,” demikian disampaikan Johnny Swandi Sjam, Direktur Utama Indosat.

Ajang IWIC 2009 ini diselenggarakan dalam 2 kategori, yaitu kategori Mobile Wireless Application dan Research and Development in Wireless Technology. Mobile Wireless Application ditujukan bagi perorangan atau individu, mahasiswa dan masyarakat umum dengan beberapa sub kategori :
a. Business and Commerce, aplikasi yang terkait langsung dengan lingkup bisnis dan komersial, seperti: aplikasi dalam mobile advertising, mobile tracking and navigation, mobile payment, dll
b. Social Networking, aplikasi yang terkait dengan aktifitas jaringan sosial, misalkan pengembangan dari aplikasi jaringan sosial yang telah ada (advance social networking, instant messaging, etc)
c. Learning and Education, aplikasi yang terkait aktifitas pendidikan, seperti: aplikasi untuk mobile learning, dll.

Para nominator nantinya akan berkesempatan untuk mengikuti program inkubasi kewirausahaan di bidang wireless yang bekerjasama dengan pihak Inkubator Industri dan Bisnis ITB.

Sedangkan di kategori kedua, yaitu Research and Development for Wireless Technology, para peserta harus membuat konsep atau proposal lengkap mulai dari metodologi hingga rencana pengembangan yang akan diimplementasikan terkait teknologi wireless. Kategori ini ditujukan bagi kelompok (maksimum beranggotakan 3 orang) yang terdiri dari dosen dan/atau mahasiswa S1/S2/S3 yang mewakili universitas atau perguruan tinggi

Selain kategori-kategori di atas, terdapat beberapa persyaratan lain bagi peserta, yaitu karya yang dihasilkan dapat dijalankan atau diaplikasikan di berbagai platform, karya harus original, unik, dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba lain sebelumnya, serta karya yang terpilih menjadi pemenang, akan direview oleh Indosat, untuk dapat ditindaklanjuti sebagai fitur yang akan dikomersialkan Indosat dan akan dilakukan negosiasi terpisah.

Peserta yang berminat mengikuti kompetisi ini dapat menyerahkan langsung karyanya ke Galeri Indosat di seluruh Indonesia, mengirimkan via email ke iwic2009@indosat.com, via pos yang ditujukan ke alamat Public Relations Indosat – IWIC 2009, di Gd. Indosat, Jl. Medan Merdeka Barat no. 21, Jakarta 10110 ataupun melalui website Indosat di www.i-wirelessinnovation.com yang akan di re-route ke www.iwic.kongkoow.com, dimana web site ini dikelola bersama dengan IM2 (Indosat Mega Media) . Peserta cukup melampirkan data diri (nama, alamat, No. HP produk Indosat/Telpon, tingkat pendidikan, nama perguruan tinggi/universitas), foto copy identitas diri (KTP/SIM/Kartu Mahasiswa/Kartu Pengenal lainnya) serta karya tulis/konsep yang akan dilombakan (prototype dibuat setelah peserta terpilih menjadi finalis).

Indosat telah mempersiapkan berbagai apresiasi bagi karya inovatif ini, yaitu hadiah total ratusan juta rupiah beserta perangkat gadget paling mutakhir untuk kategori Mobile Wireless Application. Sedangkan bagi para pemenang Research and Development in Wireless Technology akan mendapatkan Dana Riset senilai total 500 juta rupiah.

Untuk memberikan wadah berkomunikasi sekaligus menjadi pusat informasi tentang berbagai hal terkait program IWIC, peserta dapat mengunjungi portal IWIC dengan alamat: www.i-wirelessinnovation.com, FaceBook Group di Indosat Wireless Innovation Contest – Internet & Technology Mobile serta www.indosat.com/iwic.

sumber: http://ads2.kompas.com/layer/blackberrycorner/news.php?id=7

18 Juni 2009

Kampanye = obral janji, adakah alternatif lain?

Kalau kita memperhatikan materi kampanye dari setiap capres, hanya ada satu kesimpulan: kampanye = obral janji. Baik yang saat ini sedang berkuasa maupun yang berusaha ingin berkuasa, semua mengklaim dan berjanji untuk memenuhi kemauan rakyat. Saya percaya janji-janji ini hanya omong kosong dan hanya retorika semata. Ketika isu kerakyatan menjadi bahasan dan tema popular yang harus menjadi bagian dari kepemimpinannya kelak, semua calon pun berusaha dan mengklaim bahwa mereka adalah yang paling berhak menyandang gelar kerakyatan, entah itu ekonomi kerakyatan atau bekerja untuk rakyat.

Buat saya, masa kampanye adalah saat untuk tidak mempercayai semua yang disampaikan dan dijanjikan oleh setiap calon. Karena retorika mudah dibuat dan mudah juga diabaikan atau dilupakan.

Kampanye semacam ini memang wajar dalam rangka menumbuhkan citra positif di mata rakyat. Namun, apakah kita memilih untuk sebuah citra semata? Bukankah kita memilih pemimpin yang dapat membawa kepada kemakmuran dan kesejahteraan rakyat?

Melihat kampanye yang demikian yang amat jauh berbeda dengan realitas, saya berpikir untuk memberikan alternatif bentuk kampanye yang lain. Jika selama ini kampanye dilakukan hanya sekedar menampilkan image dan citra yang baik (namun 100 persen menipu!!), mengapa tidak dibuat semacam penilaian kinerja berbasis project. Jika seorang pimpinan lembaga negara (misalnya Pertamina, PLN, gubernur BI) dipilih melalui tes kelayakan, mengapa tidak dilakukan juga terhadap capres-cawapres? Capres merupakan posisi yang sangat strategis, sudah sepantasnya dipilih dari mereka-mereka yang memang memiliki kapabilitas yang sesuai.

Jika seorang sarjana, master, dan doktor perlu melalui serangkaian project dan comprehensive test, maka seorang calon pemimpin eksekutif negara sangat perlu dipilih setelah melalui serangkaian test yang benar-benar akan memperlihatkan kualitas dan kapabilitasnya dalam memimpin negara.

Debat atau penyampaian visi-misi menurut saya juga kurang efektif untuk menilai kualitas calon karena debat masih berbasis retorika yang bersifat relatif sehingga belum dapat menunjukkan kemampuan yang sebenarnya. Hanya dengan penilaian berbasis project dan kinerja, kita dapat menilai secara objektif.

Kata-kata sangat mudah diucapkan. Janji janji sangat mudah dibuat dan ditetapkan. Namun, apa yang bisa kita dan seluruh rakyat tuntut atas semua kata-kata dan janji-janji yang sudah diucapkan tersebut?

Mungkin inilah salah satu kelemahan dari sistem demokrasi, yang didasarkan pada suara terbanyak. Semestinya seorang pemimpin dipilih tidak hanya didasarkan pada dukungan massa yang besar saja, namun dengan didasarkan pada kualitas dan kapabilitasnya untuk menjadi pemimpin. Dengan sistem demokrasi, seseorang dengan kualitas dan kapabilitas yang baik tidak bisa menjadi pemimpin karena tidak didukung oleh suara yang banyak. Sebaliknya, orang dapat berpeluang besar menjadi pemimpin karena mendapat dukungan yang besar meskipun kualitas dan kapabilitasnya masih perlu dipertanyakan.

Maka penilaian dan ujian berbasis project diperlukan untuk menilai dan menunjukkan kapabilitas dari calon pemimpin negara.

09 Juni 2009

Firdaus Belajar Membaca



tidak terasa Firdaus sekarang udah mau masuk sekolah SD. setelah dua tahun bermain dan belajar di taman kanak-kanak, sekarang waktunya Firdaus masuk SD. sudah banyak yang bisa dilakukan Firdaus sejauh ini, alhamdulillah. walaupun Firdaus masih harus banyak belajar lagi, dan tentunya kami sebagai orangtuanya bertanggung jawab untuk membimbingnya dalam belajar. dan, yang lebih penting lagi adalah menyiapkan Firdaus menjadi manusia yang mampu dan akan terus menerus belajar dari kehidupan ini.

belajar tentu saja tidak hanya dipahami sebagai belajar secara formal di sekolah saja. belajar dalam makna yang lebih luas tentu meliputi semua aspek kehidupan dari segi keilmuan atau pengetahuan sampai aspek amalan dan praktik dari pengetahuan yang telah didapat. dalam istilah pendidikannya, belajar meliputi aspek kognitif (pengetahuan), afektif, dan psikomotorik (kebetulan aja abis baca dan ngedit buku tentang teori pendidikan jadi baru ngeh istilah-istilah ini ...).

calistung atau baca, tulis, dan berhitung (istilah ini juga udah lama saya denger dan baca tapi baru paham artinya belakangan ini ...) adalah kemampuan dasar yang mesti dimiliki oleh anak seusia Firdaus yang akan memasuki SD. Firdaus sendiri senang sekali membaca buku maksudnya melihat-lihat gambar di dalam buku. ini sudah dilakukan dan sengaja kami kenalkan kepada Firdaus sejak dini.



kami sengaja menyediakan banyak buku bergambar untuk Firdaus dan adiknya Izzaty supaya mereka terdorong untuk belajar membaca sejak dini. pada awalnya mereka bisa jadi hanya tertarik dengan gambar-gambar yang ada di buku tersebut. namun lama kelamaan mereka juga mulai tertarik untuk berusaha menceritakan gambar berdasarkan bahasa mereka. dan akhirnya kami berharap mereka akan berusaha membaca isi dari buku tersebut. tentu sesuai dengan perkembangan mereka.

Saat ini Firdaus sudah bisa membaca walaupun masih belum lancar benar. yang lebih penting adalah motivasi dan kemauan Firdaus untuk berusaha membaca tulisan-tulisan yang ada di buku. Melihat abangnya membaca, sang adik pun tidak mau kalah. Izzaty juga mencoba membuka dan membolak-balik buku yang kami miliki. Firdaus sangat senang membaca buku tentang dinosaurus dan tidak sungkan untuk menceritakannya kepada orang lain. dengan bahasanya sendiri tentunya.

detikcom : Hidayat Tak Masuk Timses

title : Hidayat Tak Masuk Timses
summary : Setidaknya ada 243 nama yang terdaftar dalam susunan struktur jurkamnas pasangan SBY-Beodiono. Semua jajaran elite partai baik yang menjabat menteri atau pimpinan lembaga tinggi negara masuk dalam struktur ini kecuali elite PKS, Hidayat Nur Wahid. Ada apa? (read more)

27 Mei 2009

Islam dan Warga Negara

Sebagai warga negara kita tentu perlu menunjukkan bukti kewarganegaraan kita. Dan kita juga perlu menunjukkan identitas kita sebagai warga negara.

Ada seorang warga negara yang tidak punya KTP dan menganggap tidak perlu memiliki KTP. Baginya menunjukkan identitas sebagai muslim sudah cukup buatnya. Dia merasa cukup dengan identitasnya sebagai muslim dan tidak merasa perlu menunjukkan identitas sebagai warga negara.

Pada suatu hari, orang tersebut ditangkap polisi. Dia ditanyakan oleh polisi identitasnya berupa KTP. Tentu saja orang ini tidak bisa menunjukkan KTP-nya karena memang dia tidak punya. Namun demikian, dia tetap berusaha menunjukkan bahwa dia adalah seorang muslim. Polisi tidak bisa menerimanya dan tetap berusaha meyakinkan orang itu untuk tetap menunjukkan identitas warga negaranya. Orang itu juga tetap tidak mau menunjukkan identitas kewarganegaraannya sambil tetap keukeuh menunjukkan jati dirinya sebagai muslim.

Karena orang ini tidak mau menunjukkan kewarganegaraannya, polisi kemudian menyuruhnya untuk pindah saja ke negara Islam yang lain. Polisi beralasan karena orang itu tidak diakui sebagai warga negara ini dan tidak mau menunjukkan identitas kewarganegaraannya. Orang ini jadi bingung, mana mungkin saya pindah ke negara lain. Belum tentu dia diterima di negara lain itu walaupun dia pindah ke negara Islam dan dia mengaku sebagai muslim.

Ini cuma gambaran sederhana bagaimana seorang muslim tetap harus menunjukkan identitas kewarganegaraannya dengan berusaha mengikuti setiap prosedur dan proses administrasinya. Hal ini bukan berarti dia berhukum kepada negara itu dan telah menduakan ALLAH dalam rasa cintanya. Bagaimana pun setiap muslim yang berada di setiap wilayah administratif hukum suatu negara tetap perlu mengikuti prosedur hukum di negara tempat dia tinggal, tentu saja tanpa perlu menanggalkan identitasnya sebagai muslim.

Identitas sebagai seorang warga negara tidak bisa lepas dari diri seorang muslim. Di mana pun dia tinggal. Seorang muslim yang tinggal di Arab Saudi tentu memiliki identitas sebagai warga negara Arab saudi, selain identitasnya sebagai seorang muslim tentunya. Seorang muslim yang tinggal dan terlahir sebagai warga negara Jerman memiliki identitas sebagai warga negara Jerman tentunya, selain identitasnya sebagai seorang muslim.

Jadi, jika seorang muslim berusaha menunjukkan identitasnya sebagai seorang warga negara yang berada di suatu wilayah negara, tentu ini perlu dipahami sebagai usaha dia dalam kapasitas warga negara.

Dan, menurut ana upaya ini yang sedang dilakukan PKS, yaitu berusaha menunjukkan identitasnya sebagai muslim dan juga tetap menunjukkan identitas sebagai warga negara yang menetap di sebuah wilayah suatu negara.

25 Mei 2009

Aku pernah naik Hercules (bag. 2)

Senin pagi itu, waktu subuh belum lagi menjelang namun kesibukan dan kegaduhan sudah terjadi di rumah saya. Maklum, pagi itu bulek sekeluarga akan berpamitan dan pulang ke tempat tinggalnya di Pasuruan. Buat saya, ini sangat berat meninggalkan teman bermain yang selama seminggu terakhir dihabiskan bersama-sama. Saya masih ingin melanjutkan kebahagiaan dan kegembiraan ini. Namun, masing-masing kami harus kembali melanjutkan kegiatan rutin kami. Saya dan keluarga harus kembali bersekolah setelah masa liburan habis, demikian juga dengan bulek dan pak lek sekeluarga.

Sesuai dengan rencana, bulek dan keluarga akan menumpang pesawat Hercules ke Surabaya dan melanjutkan dengan bus ke Pasuruan. Karena bukan pesawat komersial, jadwal keberangkatan pesawat Hercules yang akan kami tumpangi sangat tidak umum, yaitu pukul 05.00 pagi di lanud Halim Perdanakusuma. Kami harus maklum dengan kondisi ini dan berusaha memenuhi jadwal yang telah ditetapkan. Mungkin karena gembiranya ingin pertama kalinya naik pesawat, kami tidak terlalu memikirkan jadwal penerbangan yang amat menyulitkan ini. Bahkan, semalaman pun kami tidak bisa tidur karena takut terlambat bangun dan kesiangan. Tidak bisa dibayangkan gembiranya dan deg degannya hati kami menunggu pagi datang menjelang.

Karena sudah sangat akrab dengan anak bulek yang tertua, saya memaksa untuk ikut mengantar bulek sampai di bandara Halim. Bapak, om, dan saya ikut mengantar bulek ke bandara Halim. Dengan mobil sewaan kami berangkat ke Halim di pagi buta itu saat subuh belum datang. Di perjalanan sayup-sayup kami mendengar kumandang azan subuh dari speaker masjid sepanjang perjalanan.

Pakaian yang saya kenakan saat itu biasa saja karena memang niatnya Cuma mau mengantar aja dan langsung pulang. Jadi, saya ngga mempersiapkan pakaian yang khusus sebagaimana kalo mau bepergian jauh. Dengan kemeja sederhana dan celana pendek, saya pikir cukup untuk sekedar mengantar ke bandara Halim saja.

Sebelum jam 5 kami sudah tiba di Halim, dan bertemu dengan teman om yang akan mengantarkan sampai ke pesawat. Karena hanya kalangan tertentu saja yang bisa memanfaatkan layanan ini, kontak person dengan orang yang menghubungkan kami dengan petugas sangat diperlukan. Setelah urusan administrasi selesai kami diperbolehkan menuju pesawat.

Saat inilah bapak diberi kabar bahwa masih ada sisa bangku kosong yang bisa ditempati jika memang masih ada penumpang lain yang mau ikut. Bapak yang saat itu kebetulan masih punya waktu luang melihat satu kesempatan. Kenapa ngga ikut aja sekalian ke rumah bulek di Pasuruan sekalian numpang pesawat Hercules ini yang masih kosong? Tanpa ragu-ragu bapak mengajak saya ikut naik ke pesawat. Saya hanya terbengong-bengong aja. Perasaan saya campur aduk antara senang, kaget, dan bingung. Mau pergi jauh tapi ngga bawa perlengkapan memadai. Hanya baju dan celana yang saya dan bapak pakai ini aja yang bisa dibawa.

Saya pun ikut naik ke pesawat dengan perasaan yang belum yakin benar. saat itu hari masih gelap. Akhirnya, kesampaian juga saya naik pesawat. Dan, dalam kondisi yang amat mengejutkan dan tidak terduga-duga.

Pesawat Hercules ini sangat jauh berbeda dengan pesawat komersial pada umumnya. Karena tidak dibuat untuk angkutan penumpang yang nyaman, tempat duduk penumpangnya dibuat memanjang seperti di dalam angkot. Dan, tempat duduknya hanya berupa kain parasut saja bukan berupa jok yang nyaman. Ngga masalah lah seperti ini yang penting bisa cepat sampai di tempat tujuan, begitulah mungkin yang ada di benak kami.

Saya sempat melihat beberapa penumpang lain seperti kami, sepertinya memang sudah jamak banyak penumpang “titipan” seperti kami pada penerbangan nonkemersial semacam ini. Saya sendiri saat itu merasa sangat beruntung bisa menumpang pesawat terbang secara tidak resmi dan tanpa disengaja pula. Benar-benar sebuah kebetulan yang amat tidak terduga.

Rasa gembira dan kaget yang saat itu memenuhi perasaan saya tiba-tiba saja perlahan berubah menjadi kecemasan dan rasa dingin yang amat menusuk tatkala pesawat mulai bergerak dan mulai lepas landas. Saya baru sadar bahwa saya akan melayang di ketinggian ribuan meter di atas tanah, padahal saya hanya mengenakan pakaian seadanya dan celana pendek. Dalam sekejap rasa dingin menyelimuti tubuh saya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Coba bayangkan, berada di atas ketinggian ribuan meter tanpa jaket. Sekujur tubuh saya terasa beku dan mulai menggigil kedinginan. Saya hanya berharap semoga perjalanan ini cepat dilalui.

Saat lepas landas dan mendarat barang-barang bawaan kami ikut bergeser ke bawah dan ke atas. Karena tidak tersedia bagasi, kami menaruh saja barang bawaan kami di bawah tempat duduk. Sehingga akan mudah bergerak ke sana ke mari mengikuti arah gerak pesawat.

Walaupun hanya satu jam perjalanan menempuh jarak Jakarta Surabaya, saya merasa ini adalah perjalanan yang amat lama. Bibir saya masih terasa kaku, tangan dan kaki saya masih terasa membeku, dan tulang saya masih terasa ngilu saat pesawat tiba di bandara Juanda Surabaya.

Saya bersyukur akhirnya saya bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan dan saya bisa lepas dari rasa dingin yang sangat menusuk ini. meskipun demikian, saya tetap senang dengan perjalanan ini, pengalaman pertama kali naik pesawat secara tidak sengaja.

saya hanya bisa tersenyum-senyum saja saat mengenang pengalaman ini.