25 May 2009

Aku pernah naik Hercules (bag. 2)

Senin pagi itu, waktu subuh belum lagi menjelang namun kesibukan dan kegaduhan sudah terjadi di rumah saya. Maklum, pagi itu bulek sekeluarga akan berpamitan dan pulang ke tempat tinggalnya di Pasuruan. Buat saya, ini sangat berat meninggalkan teman bermain yang selama seminggu terakhir dihabiskan bersama-sama. Saya masih ingin melanjutkan kebahagiaan dan kegembiraan ini. Namun, masing-masing kami harus kembali melanjutkan kegiatan rutin kami. Saya dan keluarga harus kembali bersekolah setelah masa liburan habis, demikian juga dengan bulek dan pak lek sekeluarga.

Sesuai dengan rencana, bulek dan keluarga akan menumpang pesawat Hercules ke Surabaya dan melanjutkan dengan bus ke Pasuruan. Karena bukan pesawat komersial, jadwal keberangkatan pesawat Hercules yang akan kami tumpangi sangat tidak umum, yaitu pukul 05.00 pagi di lanud Halim Perdanakusuma. Kami harus maklum dengan kondisi ini dan berusaha memenuhi jadwal yang telah ditetapkan. Mungkin karena gembiranya ingin pertama kalinya naik pesawat, kami tidak terlalu memikirkan jadwal penerbangan yang amat menyulitkan ini. Bahkan, semalaman pun kami tidak bisa tidur karena takut terlambat bangun dan kesiangan. Tidak bisa dibayangkan gembiranya dan deg degannya hati kami menunggu pagi datang menjelang.

Karena sudah sangat akrab dengan anak bulek yang tertua, saya memaksa untuk ikut mengantar bulek sampai di bandara Halim. Bapak, om, dan saya ikut mengantar bulek ke bandara Halim. Dengan mobil sewaan kami berangkat ke Halim di pagi buta itu saat subuh belum datang. Di perjalanan sayup-sayup kami mendengar kumandang azan subuh dari speaker masjid sepanjang perjalanan.

Pakaian yang saya kenakan saat itu biasa saja karena memang niatnya Cuma mau mengantar aja dan langsung pulang. Jadi, saya ngga mempersiapkan pakaian yang khusus sebagaimana kalo mau bepergian jauh. Dengan kemeja sederhana dan celana pendek, saya pikir cukup untuk sekedar mengantar ke bandara Halim saja.

Sebelum jam 5 kami sudah tiba di Halim, dan bertemu dengan teman om yang akan mengantarkan sampai ke pesawat. Karena hanya kalangan tertentu saja yang bisa memanfaatkan layanan ini, kontak person dengan orang yang menghubungkan kami dengan petugas sangat diperlukan. Setelah urusan administrasi selesai kami diperbolehkan menuju pesawat.

Saat inilah bapak diberi kabar bahwa masih ada sisa bangku kosong yang bisa ditempati jika memang masih ada penumpang lain yang mau ikut. Bapak yang saat itu kebetulan masih punya waktu luang melihat satu kesempatan. Kenapa ngga ikut aja sekalian ke rumah bulek di Pasuruan sekalian numpang pesawat Hercules ini yang masih kosong? Tanpa ragu-ragu bapak mengajak saya ikut naik ke pesawat. Saya hanya terbengong-bengong aja. Perasaan saya campur aduk antara senang, kaget, dan bingung. Mau pergi jauh tapi ngga bawa perlengkapan memadai. Hanya baju dan celana yang saya dan bapak pakai ini aja yang bisa dibawa.

Saya pun ikut naik ke pesawat dengan perasaan yang belum yakin benar. saat itu hari masih gelap. Akhirnya, kesampaian juga saya naik pesawat. Dan, dalam kondisi yang amat mengejutkan dan tidak terduga-duga.

Pesawat Hercules ini sangat jauh berbeda dengan pesawat komersial pada umumnya. Karena tidak dibuat untuk angkutan penumpang yang nyaman, tempat duduk penumpangnya dibuat memanjang seperti di dalam angkot. Dan, tempat duduknya hanya berupa kain parasut saja bukan berupa jok yang nyaman. Ngga masalah lah seperti ini yang penting bisa cepat sampai di tempat tujuan, begitulah mungkin yang ada di benak kami.

Saya sempat melihat beberapa penumpang lain seperti kami, sepertinya memang sudah jamak banyak penumpang “titipan” seperti kami pada penerbangan nonkemersial semacam ini. Saya sendiri saat itu merasa sangat beruntung bisa menumpang pesawat terbang secara tidak resmi dan tanpa disengaja pula. Benar-benar sebuah kebetulan yang amat tidak terduga.

Rasa gembira dan kaget yang saat itu memenuhi perasaan saya tiba-tiba saja perlahan berubah menjadi kecemasan dan rasa dingin yang amat menusuk tatkala pesawat mulai bergerak dan mulai lepas landas. Saya baru sadar bahwa saya akan melayang di ketinggian ribuan meter di atas tanah, padahal saya hanya mengenakan pakaian seadanya dan celana pendek. Dalam sekejap rasa dingin menyelimuti tubuh saya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Coba bayangkan, berada di atas ketinggian ribuan meter tanpa jaket. Sekujur tubuh saya terasa beku dan mulai menggigil kedinginan. Saya hanya berharap semoga perjalanan ini cepat dilalui.

Saat lepas landas dan mendarat barang-barang bawaan kami ikut bergeser ke bawah dan ke atas. Karena tidak tersedia bagasi, kami menaruh saja barang bawaan kami di bawah tempat duduk. Sehingga akan mudah bergerak ke sana ke mari mengikuti arah gerak pesawat.

Walaupun hanya satu jam perjalanan menempuh jarak Jakarta Surabaya, saya merasa ini adalah perjalanan yang amat lama. Bibir saya masih terasa kaku, tangan dan kaki saya masih terasa membeku, dan tulang saya masih terasa ngilu saat pesawat tiba di bandara Juanda Surabaya.

Saya bersyukur akhirnya saya bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan dan saya bisa lepas dari rasa dingin yang sangat menusuk ini. meskipun demikian, saya tetap senang dengan perjalanan ini, pengalaman pertama kali naik pesawat secara tidak sengaja.

saya hanya bisa tersenyum-senyum saja saat mengenang pengalaman ini.

2 comments:

diyan said...

mas, saya mau ngerasain naik hercules. bagaimana akses ke sana ya ? masih ada channel untuk bisa menumpang ?

terimakasih...

Bayu Sapta Hari said...

makasih diyan udah mampir

saya naek hercules dalam cerita ini udah lama banget, 20 tahun yg lalu .. kayaknya harus punya kenalan orang angkatan udara deh