03 June 2008

Obrolan kecil di pagi hari

Tidak seperti biasanya, pagi ini gue berangkat ke kantor agak pagi. Pagi ini ngga ada makanan yang bisa gue bawa ke kantor buat makan siang. Biasanya istri gue nyiapin makan siang buat gue bawa ke kantor. Tapi, berhubung pagi ini ngga ada makanan yang bisa dibawa, istri gue ngga nyiapin makan siang.

Karena ngga bawa makan siang, gue pengen beli nasi uduk buat makan siang. Nasi uduk ini menurut gue agak spesial karena gue belum pernah ngerasaan nasi uduk yang enak dibandingkan nasi uduk ini. Penjual nasi uduk ini berjualan di dekat rumah gue satu arah menuju tempat gue nungguin angkot.

Pagi ini iseng-iseng kami bertanya kepada ibu penjual nasi uduk saat dia sedang menyiapkan nasi uduk yang kami pesan. "Bu, jam berapa mulai masak untuk nyiapin nasi uduk ini?" tanya kami. Ibu penjual nasi uduk itu menjawab dengan santai dan tanpa beban, "Saya mah bangun jam 3 pagi dan mulai masak nasi uduk. Sambil mencuci baju dan menyetrika saya juga menggoreng tempe dan bakwan." Dan, pagi itu seperti biasa semua hidangan sarapan pagi telah siap sedia.

Kami agak terkejut dan langsung terkagum-kagum dalam hati. Ternyata tidak mudah dan butuh perjuangan yang keras ya, menjalani hidup seperti ini. Bayangkan, ibu itu sudah memulai hari-harinya semenjak jam 3 pagi untuk berusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan berjualan nasi uduk. Jam 3 pagi di saat banyak orang masih terbuai oleh mimpi-mimpinya, ada orang-orang "hebat" yang telah memulai perjuangannya menjalani kehidupan yang keras. Tapi, itu belum seberapa ...

Belum hilang rasa terkejut dan rasa kagum kami, kami lanjut bertanya, "Wah, pagi-pagi sudah sibuk, ya. Trus habis jualan ini, ibu baru bisa istirahat dong?" Tetap dengan ekspresi yang santai ibu itu menjawab lagi, "Setelah berjualan nasi uduk ini, Saya pergi ke pondok (maksudnya perumahan pondok sukma jaya) untuk mencuci." Awalnya kami belum paham maksud kata-kata ibu ini, tapi kami langsung ngeh, oh ternyata ibu itu juga menjadi pembantu rumah tangga di salah satu rumah di Perumahan Pondok itu. Dia membantu tuan rumah mencuci dan menyetrika pakaian mereka. Kami benar-benar kagum dengan apa yang baru saja kami dengar tadi.

Seorang ibu yang benar-benar menunjukkan kepada kami betapa hidup itu adalah suatu perjuangan tanpa henti dan tanpa kenal lelah. Kami membayangkan seorang perempuan yang telah bangun jam 3 pagi untuk menyiapkan dagangannya berupa nasi uduk dan pernik-perniknya. Kemudian di siang harinya dia harus menjalani tugasnya untuk mencuci dan menyetrika pakaian di rumah majikannya. Entah jam berapa dia memiliki waktu untuk dirinya, waktu untuk beristirahat. Karena mungkin di sore harinya dia harus menyiapkan bahan-bahan untuk nasi uduknya di pagi hari. Demikianlah setiap hari dia menjalani kehidupannya yang keras tanpa putus asa dan tanpa kenal lelah. Dan kami tidak mendapati sedikit pun kesusahan dan kesedihan dalam wajahnya yang selalu ramah melayani pelanggannya termasuk kami. Sungguh suatu pelajaran berharga di pagi hari ini.

Yang kami tahu, ibu itu selalu siap melayani pelanggannya setiap pagi. Pelanggan yang tidak sabar ingin mengisi pagi harinya dengan sarapan yang nikmat. Yang kami tahu, banyak pelanggannya tidak sabar menunggu datangnya pagi hari, waktu di mana mereka dengan setia datang membeli nasi uduknya yang spesial.

Setelah saya membayar nasi uduk itu, saya melanjutkan perjalanan saya ke kantor. Dalam hati saya bersyukur bahwa obrolan kecil di pagi hari ini telah membuka mata saya bahwa banyak pejuang-pejuang hidup yang dengan segenap kemampuannya menjalani kehidupannya tanpa kenal lelah. sekarang bandingkan dengan diri kita yang telah banyak mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidup ini, masih saja kita mengeluh dan tidak bersyukur dengan kemudahan-kemudahan itu. Saya jadi malu sendiri.

Saya yakin masih banyak perempuan-perempuan "super" yang lain. Yang tidak tunduk dan pasrah pada kelemahan dan kenyataan hidup yang harus mereka jalani. Sesungguhnya merekalah para pahlawan. Merekalah para pejuang hidup yang dengan gagah berani menghadapi kenyataan hidup tanpa kenal lelah dan pantang menyerah.

Sudahkah kita mensyukuri nikmat-nikmat yang kita dapatkan?

2 comments:

AryaNst said...

Obrolan kecil yang berdampak besar, ya, Mas?

Thanks for sharing.

Bayu Sapta Hari said...

he he he ... emang itu maksud gue. sesuai dengan tema blog ini sesuatu yang besar selalu berawal dari sesuatu yang kecil.

Thanks for your comment