19 May 2008

Wonder Woman

Hari minggu adalah waktu di mana kebanyakan orang bisa bersantai ria menikmati sedikit kebebasan dan keluangan waktu dari segala rutinitas yang bisa mendatangkan kejenuhan. Namun, tidak demikian halnya dengan yang dialami oleh sosok wanita yang satu ini. Tak tampak sedikit pun suasana santai yang menghiasi kegiatannya pagi itu. Justru dia tampak bergegas menyiapkan sesuatu yang diperlukan. Setelah menyapa suami dan anak-anaknya, dan tak lupa pula dia menyiapkan hidangan untuk sarapan suami dan anak-anaknya, berangkatlah dia ke kampusnya. Ternyata dia harus kuliah di hari minggu ini, sesuatu yang dapat menggambarkan bagaimana kuat tekadnya untuk menggapai obsesi dan cita-citanya. Suasana di minggu pagi ini bisa jadi hanyalah sedikit gambaran keteguhan hati dan kuatnya tekad dari sosok wanita itu.

Dia adalah wanita dari suku minang, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Masa kecilnya dilalui di suatu kampung yang masuk dalam wilayah Payakumbuh Sumatera Barat. Sebagai anak pertama, dia menanggung beban untuk membiayai keluarganya. Untuk itu seluruh keluarga sangat mendukungnya menyelesaikan kuliahnya di jurusan peternakan di salah satu perguruan tinggi negeri di Padang. Dengan susah payah akhirnya dia bisa menyelesaikan kuliahnya dan menyandang gelar sarjana peternakan.

Saat pertama kali dikenalkan sebagai orang padang (walaupun bukan berasal dari kota Padang, setiap orang Sumatera Barat disebut orang padang. Kalo menurut gue sih lebih pas nyebutnya orang minang), dia disebut-sebut tidak mewarisi sifat-sifat atau cap negatif “orang padang”. Karena orang padang sudah dikenal orang sebagai orang yang memiliki banyak sifat negatif (lo tau sendiri lah!). Ketika kita berbicara dengannya sama sekali tak tampak cap yang biasa disematkan kepada orang padang. Sikapnya ramah, supel, dan fleksibel meski penampilannya selalu dihiasi oleh jilbab panjang dan baju kurung (gamis). Dia selalu bersikap tegas kepada siapapun baik sesama jenis maupun lawan jenis.

Sikapnya yang ramah dan supel itu membawanya menekuni profesi sebagai guru sekolah dasar. Kemampuannya berinteraksi sangat cocok dan membuatnya menjadi sosok yang ideal sebagai seorang guru walaupun latar belakang pendidikannya bukan dari bidang pendidikan.

Dia menikah dengan pria keturunan Jawa. Seorang pria yang sedang berusaha menggapai cita-citanya. Dia berjanji kepada pria ini untuk mengabdi dengan sepenuh hati dan berharap dapat menjadi sosok yang lebih baik melalui pernikahan ini. Saat menikah dia sadar beban yang harus dipikulnya bertambah karena dia masih tetap menjadi tulang punggung keluarganya selain sebagai istri dari suaminya. Saat itu dia memutuskan tetap bekerja sebagai guru di salah satu sekolah dasar Islam di Depok.

Karena sikapnya yang supel dan tegas, dia kerap menjadi tempat curhat teman-temannya sesama guru baik teman wanita maupun teman prianya. Bahkan, banyak juga orang tua murid di sekolahnya yang curhat mengenai rumah tangganya. Berbagai masalah diceritakan mulai masalah keluarga, pribadi, sampai masalah uang. Dan, semua masalah itu selalu dihadapi dan coba diselesaikannya. Ini bisa jadi memang sudah bawaannya karena posisinya sebagai anak pertama di dalam keluarganya yang membuatnya terbiasa mengambil keputusan-keputusan penting.

Sikap ini juga dibawanya dalam keluarga yang baru dibangunnya bersama suaminya. Dia memandang suaminya kurang tegas dan kurang tanggap dalam memutuskan sesuatu. Walhasil banyak keputusan cepat yang coba diambilnya sendiri tanpa menunggu keputusan suaminya. Hal ini dilakukan demi kebaikan keluarganya. Dengan posisinya yang memiliki penghasilan sendiri dan mempunyai tanggungan orang tua dan adik yang perlu dinafkahi, dia kerap kali membuat keputusan-keputusan yang mengandung banyak konflik kepentingan antara suami dan keluarganya sendiri. Ini tampak ketika dia memutuskan menanggung biaya kuliah adiknya meski kondisi ekonomi dia bersama suami dan anak-anaknya masih belum stabil. Saat itu dia kerap kali dihadapkan kepada konflik kepentingan suami dan anak-anaknya dengan keluarga orang tuanya. Namun, dia tetap teguh dan tegar dalam kondisi yang sangat tidak nyaman ini.

Keluarga yang dibangun bersama suaminya sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Suaminya yang meskipun memiliki potensi dan kemampuan akademis yang tidak jelek, belum mendapatkan karir yang dapat menjanjikan masa depan yang cerah. Kondisi yang paling buruk adalah saat suaminya memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai karyawan tetap di suatu perusahaan yang sudah relatif mapan. Dengan pendapatan yang lumayan dan tetap tiap bulannya ditambah tambahan bonus tiap tahunnya, sebenarnya bukanlah sesuatu yang buruk buat suaminya saat bekerja di perusahaan itu. Namun, dengan suatu alasan yang tidak jelas suaminya malah keluar dan pindah ke perusahaan yang ngga jelas juntrungannya. Alasannya ingin mencari suasana dan tantangan baru, kata suaminya. Dengan berat hati dan rasa khawatir yang cukup besar diterimalah keputusan itu. Dan ternyata benar apa yang dikhawatirkannya, yaitu suaminya tidak betah dan keluar lagi setelah hanya bekerja seminggu di tempatnya yang baru.

Bisa dibayangkan betapa hancur hatinya melihat kondisi ini. Di saat dirinya masih harus bekerja untuk membantu memberi nafkah orang tua dan adiknya, dia harus menerima kenyataan bahwa suaminya tidak bekerja yang berarti tidak mempunyai pendapatan. Saat itu dia telah dikaruniai seorang anak laki-laki dan sedang mengandung anak keduanya dan dia harus menjalani profesinya sebagai guru. Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan untuk menggambarkan keadaan hatinya saat itu. Tidak ada air mata yang menetes di pipinya. Dia coba angkat beban yang berat ini sekuat tenaganya. Kalau bukan karena keteguhan dan ketegaran hatinya, dia tidak mungkin bisa melewati masa buruk itu dengan kuat. Sungguh luar biasa wanita ini bagaikan memiliki hati baja. Wonder woman??!!

Ternyata itu hanyalah satu bagian saja dari kehidupannya yang pahit. Suaminya sebagai tempatnya mengabdi dan bernaung, tidak kunjung mendapatkan pekerjaan yang yang diidam-idamkan. Memang sih setelah itu suaminya kembali mendapatkan pekerjaan. Tetapi tetap saja bukan pekerjaan yang diidamkan dan tidak menjamin masa depan yang lebih baik. Sebenarnya dia sudah hampir mencapai keinginannya, tetapi semua harus musnah saat suaminya keluar dari tempatnya bekerja. Sampai saat ini keinginannya masih belum bisa diwujudkan. Sampai saat ini dia masih tidak bisa menerima kenyataan pahit tersebut dan selalu mempertanyakan tanggung jawab suaminya. Namun, kelembutan hati kewanitaannya selalu memanggil tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Kelembutan hati seorang wanita dan ketegaran hati sekuat baja adalah alasannya untuk tetap berada di sisi suaminya dan tetap memberikan kasih sayangnya sepenuh hati kepada suami dan anak-anaknya. Meskipun luka itu masih ada, dia tetap tegar menghadapi kenyataan pahit di hadapannya.

Saat ini dia telah diamanahkan oleh ALLAH dua orang anak yang lucu dan menggemaskan. Dia masih harus berjuang memperbaiki kehidupannya dan keluarganya, mencapai cita-citanya, dan menjaga kelangsungan keluarganya yang dibangun bersama suaminya. Dia dan suaminya masih harus terus berjuang untuk membangun rumah tangga dan membangun masa depan anak-anak mereka.

Life must go on, and its just begin.

Wonder woman menurut gue cocok disematkan untuknya. Thanks god because that wonder woman is belong to me. Yeah! She is my wife.

Wonder woman, I always love u. I promise, I’ll never make you sad again.

6 comments:

AryaNst said...

So sweet :)

Semoga Mas dan keluarga akan mendapatkan semua yang terbaik di dunia dan akhirat.

Bayu Sapta Hari said...

Terima kasih atas dukungan moralnya.

rie said...

jangan cuma ceritanya dong...
foto juga perlu di pajang dong...

AryaNst said...

Yah, Rie... Katanya editor... Dipajang rie, bukan di pajang :P

rie said...

DILARANG MENGHINA ORANG LAIN DI BLOG YANG BUKAN BLOG LU SENDIRI.

dr Siti Chandra SpRM said...

Nice journal brother ;)