“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901)
“Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.” (HR. Bukhari, no. 1044)
Ringkasnya, agar tidak terlalu berpanjang lebar, tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:
[1] Berniat di dalam hati.
[2] Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.
[3] Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah:
”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)
[4]Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.
[5]Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’
[6]Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
[7]Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.
[8]Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).
[9]Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
[10]Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
[11]Salam.
[12]Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. (Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1/438).
sumber: dari catatan facebook teman
Showing posts with label tarbiyah. Show all posts
Showing posts with label tarbiyah. Show all posts
15 January 2010
18 November 2009
Catatan Perjalanan Dakwah dan Tarbiyah
Ini adalah sedikit catatan tentang perjalanan dakwah dan tarbiyah yang telah kami lalui dan rasakan sejauh ini. Kami yang telah melalui jalan dakwah dan tarbiyah ini dan telah melalui beberapa tahapannya, dari mulai dakwah secara sembunyi-sembunyi sampai sekarang yang sudah sampai pada dakwah secara jahriyah (terang-terangan). Dari semenjak dakwah yang belum memiliki institusi resmi sampai pada dakwah yang secara jelas menjelma dalam bentuk partai.
Catatan ini kami buat tidak lain sebagai ungkapan cinta yang dalam kepada dakwah dan harokah ini. Dan, kami juga tak lupa menyampaikan rasa hormat serta ucapan terima kasih kepada para pendahulu dalam dakwah dan tarbiyah ini yang telah mengenalkan kami kepada jalan dakwah ini. Amalan baik kami tentu akan senantiasa mengalir kepada mereka sebagai orang-orang yang telah mengantarkan kami kepada kebaikan ini.
Tentu saja sudah banyak suka duka yang kami rasakan selama perjalanan dakwah dan tarbiyah ini. Dakwah dan tarbiyah yang selama ini telah memenuhi hati dan perasaan kami, serta menaungi otak dan pikiran kami. Dakwah dan tarbiyah inilah yang telah membentuk jiwa dan perasaan kami, serta mengasah otak dan pemikiran kami. Yang telah menjadi landasan kami dalam berpikir dan bertindak. Yang telah membuat kami menjadi manusia-manusia yang sejati. Namun, dakwah ini pula yang saat ini telah membuat kami bertanya-tanya. Seperti inikah dakwah dan tarbiyah yang selama ini kami kenal dan kami pahami?
Kami paham sepenuhnya bahwa selalu ada perubahan dalam setiap perjalanan dakwah dan tarbiyah. Bahwa zaman dan kondisi masyarakat akan selalu berubah sehingga memerlukan respon yang cepat dan sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada. Tapi, haruskah perubahan kondisi dan situasi juga mengubah cara pandang dan orientasi dakwah dan tarbiyah yang telah sama-sama kita pahami dan jalani selama ini.
Kami paham sepenuhnya bahwa dakwah dan tarbiyah itu senantiasa fleksibel sebagaimana Islam yang selalu fleksibel dan selalu cocok dengan situasi dan kondisi zaman dan tempat dimana pun dan kapan pun kita ada. Kami paham dengan realitas itu semua. Namun, janganlah fleksibilitas Islam itu disesuaikan dengan hawa nafsu dan keinginan kita dengan mengatasnamakan keinginan kita itu dengan syariat dan ketaatan atas jamaah. Justru hawa nafsu dan keinginan akan sesuatu yang semu yang mestinya harus diklopkan dengan syariat. Syariatlah yang semestinya menjadi patokan dan acuan dalam setiap langkah dan pola pikir.
Kami bukannya ingin bernostalgia dengan suasana tarbiyah masa lalu dimana semua aktivitas dakwah tidak memiliki tendensi kekuasaan dan politik. Tapi, tidak dapat dibantah bahwa kami merasa dakwah dan tarbiyah tanpa tendensi kekuasaan itulah fase terbaik dalam periode tarbiyah kami. Dimana seluruh potensi jasmani dan ruhiyah terfokus untuk menyukseskan suatu project yang nilainya hanya dikembalikan sepenuhnya kepada Allah. Tanpa berharap orang-orang akan memilih golongan kami saat pemilu ataupun pilkada.
Kami bukannya tidak ingin membantu dakwah dan tarbiyah ini. tapi, kami hanya ingin mengenalkan Islam ini secara murni dan tulus kepada semua umat manusia tanpa ada embel-embel politik dan kekuasaan. Ketika kami dituntut untuk merekrut anggota untuk ikut ke dalam golongan “kita” untuk sebuah kepentingan sesaat bernama pemilu atau pilkada, maka bukankah hal ini merupakan sebuah tuntutan yang cenderung duniawi dan bernilai sesaat. Padahal yang kita inginkan adalah sebuah tujuan yang sangat besar walaupun harus ditempuh dengan perjalanan yang sangat panjang.
Kami bukannya tidak ingin ikut ambil bagian dalam kaderisasi dan pembinaan anggota. Tapi, jika perekrutan anggota hanya untuk melibatkan mereka para anggota dalam kegiatan kampanye dan mobilisasi dukungan, apa yang dapat kita berikan kepada para anggota. Kami hanya ingin mengenalkan Islam secara kaffah kepada mereka dan memperkuat keyakinan dan aqidah mereka, sebagaimana yang pernah kami rasakan dulu.
Kami hanya ingin kehangatan ukhuwah yang murni bukan hanya ikatan jamaiyah dan keorganisasian yang semu. Dengan kehangatan ukhuwah inilah dahulu kami dapat bersatu dan merasakan sebuah kebangkitan ruhaniyah yang sangat kuat dan dalam, dimana rasa ini tidak pernah dapat kami rasakan lagi saat ini.
Ukhuwah yang dapat melupakan kami dari segala kesulitan hidup yang melilit kami yang mampu membuat kami bahagia dan merasa bahwa kami adalah orang-orang yang paling bahagia dan paling kaya di dunia ini. Walaupun kondisi kami saat itu jauh dari gambaran orang-orang yang berada dalam kondisi sangat baik, kami dapat merasakan suasana ruhiyah yang sangat tentram dan damai sebagai dampak dari ukhuwah yang kuat yang lepas dari tendensi organisasi dan kepartaian.
Ukhuwah itu bukanlah sebuah nostalgia, tapi dia adalah sebuah keniscayaan yang mestinya tidak pernah luntur dan berubah oleh situasi dan kondisi yang ada. Bukanlah sebuah kejelekan untuk kembali ke keadaan sebelumnya jika terbukti keadaan tersebut memang lebih baik. Kita bukannya ingin kembali ke masa lalu, tetapi nilai-nilai positif yang ada itulah yang mestinya bisa dikembalikan lagi dan tetap terwujud walaupun dalam situasi dan zaman yang berbeda.
Kami hanya ingin suasana tarbiyah yang penuh dengan kehangatan ukhuwah dan ruhiyah bukan sekedar wahana untuk pelaporan yang penuh dengan target dan tuntutan. Peralihan marhalah atau tahapan dakwah bukan berarti menghilangkan keceriaan dan kehangatan ukhuwah yang ada. Perluasan cakupan dakwah tidak perlu menjadikan hubungan persaudaraan berubah dan beralih menjadi hubungan organisatoris yang penuh dengan beban, tekanan, dan tendensi. Ikatan hati dan ukhuwah tidak boleh terhapus oleh apapun karena atas landasan ukhuwah itulah kita justru seharusnya saling memperkuat dan terlepas dari ikatan kedudukan dan posisi dalam organisasi dakwah.
Kami ingin memberikan segala yang kami miliki untuk dakwah ini, jiwa, pikiran, harta, dan waktu kami namun kami juga tidak ingin melihat keluarga kami telantar. Tidak mungkin kami membiarkan keluarga kami telantar sementara kami juga dituntut untuk menjadi figur-figur yang terkemuka di mata masyarakat dan lingkungan sekitar kami. Tentu saja kami perlu menampilkan citra sebagai keluarga yang baik untuk menjaga citra kami sebagai orang-orang yang terbina oleh sebuah organisasi dakwah.
Tak perlu kami menghitung cucuran keringat dan air mata bahkan darah yang telah kami tumpahkan ke bumi yang suci dan mulia ini untuk membuktikan rasa cinta kami yang dalam dan tulus kepada dakwah dan tarbiyah ini. Sembah sujud serta rentetan doa selalu kami haturkan kepada Ilahi Robbi agar dakwah dan tarbiyah ini selalu berada dalam naungan, perlindungan, dan ridho-Nya sampai di suatu hari nanti kemuliaan dan keagungannya itu akan tampak di bumi ini.
Catatan ini kami buat tidak lain sebagai ungkapan cinta yang dalam kepada dakwah dan harokah ini. Dan, kami juga tak lupa menyampaikan rasa hormat serta ucapan terima kasih kepada para pendahulu dalam dakwah dan tarbiyah ini yang telah mengenalkan kami kepada jalan dakwah ini. Amalan baik kami tentu akan senantiasa mengalir kepada mereka sebagai orang-orang yang telah mengantarkan kami kepada kebaikan ini.
Tentu saja sudah banyak suka duka yang kami rasakan selama perjalanan dakwah dan tarbiyah ini. Dakwah dan tarbiyah yang selama ini telah memenuhi hati dan perasaan kami, serta menaungi otak dan pikiran kami. Dakwah dan tarbiyah inilah yang telah membentuk jiwa dan perasaan kami, serta mengasah otak dan pemikiran kami. Yang telah menjadi landasan kami dalam berpikir dan bertindak. Yang telah membuat kami menjadi manusia-manusia yang sejati. Namun, dakwah ini pula yang saat ini telah membuat kami bertanya-tanya. Seperti inikah dakwah dan tarbiyah yang selama ini kami kenal dan kami pahami?
Kami paham sepenuhnya bahwa selalu ada perubahan dalam setiap perjalanan dakwah dan tarbiyah. Bahwa zaman dan kondisi masyarakat akan selalu berubah sehingga memerlukan respon yang cepat dan sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada. Tapi, haruskah perubahan kondisi dan situasi juga mengubah cara pandang dan orientasi dakwah dan tarbiyah yang telah sama-sama kita pahami dan jalani selama ini.
Kami paham sepenuhnya bahwa dakwah dan tarbiyah itu senantiasa fleksibel sebagaimana Islam yang selalu fleksibel dan selalu cocok dengan situasi dan kondisi zaman dan tempat dimana pun dan kapan pun kita ada. Kami paham dengan realitas itu semua. Namun, janganlah fleksibilitas Islam itu disesuaikan dengan hawa nafsu dan keinginan kita dengan mengatasnamakan keinginan kita itu dengan syariat dan ketaatan atas jamaah. Justru hawa nafsu dan keinginan akan sesuatu yang semu yang mestinya harus diklopkan dengan syariat. Syariatlah yang semestinya menjadi patokan dan acuan dalam setiap langkah dan pola pikir.
Kami bukannya ingin bernostalgia dengan suasana tarbiyah masa lalu dimana semua aktivitas dakwah tidak memiliki tendensi kekuasaan dan politik. Tapi, tidak dapat dibantah bahwa kami merasa dakwah dan tarbiyah tanpa tendensi kekuasaan itulah fase terbaik dalam periode tarbiyah kami. Dimana seluruh potensi jasmani dan ruhiyah terfokus untuk menyukseskan suatu project yang nilainya hanya dikembalikan sepenuhnya kepada Allah. Tanpa berharap orang-orang akan memilih golongan kami saat pemilu ataupun pilkada.
Kami bukannya tidak ingin membantu dakwah dan tarbiyah ini. tapi, kami hanya ingin mengenalkan Islam ini secara murni dan tulus kepada semua umat manusia tanpa ada embel-embel politik dan kekuasaan. Ketika kami dituntut untuk merekrut anggota untuk ikut ke dalam golongan “kita” untuk sebuah kepentingan sesaat bernama pemilu atau pilkada, maka bukankah hal ini merupakan sebuah tuntutan yang cenderung duniawi dan bernilai sesaat. Padahal yang kita inginkan adalah sebuah tujuan yang sangat besar walaupun harus ditempuh dengan perjalanan yang sangat panjang.
Kami bukannya tidak ingin ikut ambil bagian dalam kaderisasi dan pembinaan anggota. Tapi, jika perekrutan anggota hanya untuk melibatkan mereka para anggota dalam kegiatan kampanye dan mobilisasi dukungan, apa yang dapat kita berikan kepada para anggota. Kami hanya ingin mengenalkan Islam secara kaffah kepada mereka dan memperkuat keyakinan dan aqidah mereka, sebagaimana yang pernah kami rasakan dulu.
Kami hanya ingin kehangatan ukhuwah yang murni bukan hanya ikatan jamaiyah dan keorganisasian yang semu. Dengan kehangatan ukhuwah inilah dahulu kami dapat bersatu dan merasakan sebuah kebangkitan ruhaniyah yang sangat kuat dan dalam, dimana rasa ini tidak pernah dapat kami rasakan lagi saat ini.
Ukhuwah yang dapat melupakan kami dari segala kesulitan hidup yang melilit kami yang mampu membuat kami bahagia dan merasa bahwa kami adalah orang-orang yang paling bahagia dan paling kaya di dunia ini. Walaupun kondisi kami saat itu jauh dari gambaran orang-orang yang berada dalam kondisi sangat baik, kami dapat merasakan suasana ruhiyah yang sangat tentram dan damai sebagai dampak dari ukhuwah yang kuat yang lepas dari tendensi organisasi dan kepartaian.
Ukhuwah itu bukanlah sebuah nostalgia, tapi dia adalah sebuah keniscayaan yang mestinya tidak pernah luntur dan berubah oleh situasi dan kondisi yang ada. Bukanlah sebuah kejelekan untuk kembali ke keadaan sebelumnya jika terbukti keadaan tersebut memang lebih baik. Kita bukannya ingin kembali ke masa lalu, tetapi nilai-nilai positif yang ada itulah yang mestinya bisa dikembalikan lagi dan tetap terwujud walaupun dalam situasi dan zaman yang berbeda.
Kami hanya ingin suasana tarbiyah yang penuh dengan kehangatan ukhuwah dan ruhiyah bukan sekedar wahana untuk pelaporan yang penuh dengan target dan tuntutan. Peralihan marhalah atau tahapan dakwah bukan berarti menghilangkan keceriaan dan kehangatan ukhuwah yang ada. Perluasan cakupan dakwah tidak perlu menjadikan hubungan persaudaraan berubah dan beralih menjadi hubungan organisatoris yang penuh dengan beban, tekanan, dan tendensi. Ikatan hati dan ukhuwah tidak boleh terhapus oleh apapun karena atas landasan ukhuwah itulah kita justru seharusnya saling memperkuat dan terlepas dari ikatan kedudukan dan posisi dalam organisasi dakwah.
Kami ingin memberikan segala yang kami miliki untuk dakwah ini, jiwa, pikiran, harta, dan waktu kami namun kami juga tidak ingin melihat keluarga kami telantar. Tidak mungkin kami membiarkan keluarga kami telantar sementara kami juga dituntut untuk menjadi figur-figur yang terkemuka di mata masyarakat dan lingkungan sekitar kami. Tentu saja kami perlu menampilkan citra sebagai keluarga yang baik untuk menjaga citra kami sebagai orang-orang yang terbina oleh sebuah organisasi dakwah.
Tak perlu kami menghitung cucuran keringat dan air mata bahkan darah yang telah kami tumpahkan ke bumi yang suci dan mulia ini untuk membuktikan rasa cinta kami yang dalam dan tulus kepada dakwah dan tarbiyah ini. Sembah sujud serta rentetan doa selalu kami haturkan kepada Ilahi Robbi agar dakwah dan tarbiyah ini selalu berada dalam naungan, perlindungan, dan ridho-Nya sampai di suatu hari nanti kemuliaan dan keagungannya itu akan tampak di bumi ini.
17 July 2009
Isra Mi’raj, Al-Quds, dan Palestina
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS Al-Isra atau surat Bani Israil (17): 1)
Tahukah kamu bahwa saat ini kita telah berada di bulan Rajab dalam kalender Hijriah? Ada apa dengan bulan Rajab? Masih ingatkah kita kepada saudara-saudara muslim kita di Palestina? Apa hubungannya bulan Rajab dengan Palestina dan Al-Quds?
Ayat di atas banyak diperdengarkan di saat-saat ini di bulan Rajab ini, baik di masjid-masjid maupun di pengajian-pengajian. Ayat ini memang bercerita tentang suatu kejadian penting yang terjadi di bulan Rajab, suatu keajaiban dan mukjizat yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw.
Ya, peristiwa itu adalah Isra dan Miraj yang dialami oleh Baginda Nabi. Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa telah menunjukkan kebesaran dan mukjizatnya dengan memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di kota Mekah (sekarang termasuk dalam negara Arab Saudi) ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dua tempat ini berjarak ratusan kilometer dan memakan waktu berhari-hari untuk mencapainya dalam satu perjalanan yang dilakukan saat itu, zaman di mana kuda dan onta adalah satu-satunya kendaraan yang tersedia. Dan, Nabi Muhammad saw hanya memerlukan waktu beberapa detik saja untuk melakukannya tentunya atas izin dan kekuasaan Allah swt.
Saya tidak ingin membahas bagaimana kekuasaan Allah itu dapat terjadi atau bagaimana bentuk buraq, binatang yang ditunggangi Nabi Muhammad dalam perjalanan itu. Saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana nasib bangsa Palestina yang saat ini masih terlunta-lunta. Padahal dalam ayat di atas disebutkan dengan jelas bahwa
“… yang telah Kami berkahi sekelilingnya …”
Allah telah menyatakan bahwa negeri-negeri di sekitar Masjidil Aqsha merupakan tempat yang diberkahi-Nya. Semestinya Palestina adalah negeri yang penuh berkah di mana di sana berdiri dengan kokoh Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam (udah pada tau khan?). Tapi, apa yang terjadi saat ini? Palestina hanyalah sebuah negeri yang penuh dengan noda darah, air mata, dan perpecahan, yang selalu disebut-sebut sebagai sarang teroris oleh barat (AS dan sekutunya).
Boleh jadi, zionis yahudi dan sekutunya lebih memahami ayat ini sehingga mereka memilih palestina sebagai tempat berdirinya negara Israel. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa tanah Palestina yang diberkahi itu dijadikan target dan tempat berdirinya negara Israel. Bisa jadi kaum Yahudi memang dari awal telah mengetahui bahwa Palestina memang tempat yang sangat strategis dan merupakan pusat dari pusaran konstelasi dunia. Dengan menempatkan Israel menduduki wilayah Palestina, Yahudi dan zionis Israel mempunyai posisi strategis di dunia. Dan, dengan mudah mereka bersama dengan sekutu-sekutunya memainkan kendali atas umat Islam secara global. Ini perlu disadari kembali oleh seluruh umat Islam di dunia.
Keberadaan Israel dan Zionis yang menduduki wilayah Palestina memang amat merugikan posisi umat Islam dalam konstelasi politik dunia. secara geografis dan politik Israel telah melemahkan posisi umat Islam yang membuat perpecahan yang berlarut-larut di wilayah timur tengah yang efeknya melemahkan kekuatan Islam secara global di seluruh dunia.
Telah terbukti bahwa wilayah Timur tengah merupakan kawasan petro dolar dimana minyak telah menjadi komoditas yang telah membuat para pembesar kerajaan di wilayah itu hidup dalam kegelimangan harta dan pundi-pundi dolar. Namun, ada satu tugas besar yang telah dilupakan, yaitu keberadaan zionis Israel yang pada dasarnya telah melemahkan kekuatan umat Islam secara global. selama Israel masih mengangkangi wilayah Palestina, selama itu pula kekuatan dan keberkahan Islam yang telah dijanjikan Allah tidak akan terwujud secara nyata.
Saya pikir bulan Rajab ini dan lebih khusus lagi peringatan Isra Miraj yang sebentar lagi akan kita jalani (tanggal 27 Rajab bertepatan dengan tanggal 18 Juli 2008 (?), saya agak bingung nih karena di kalender tanggal merahnya hari senin tgl 20 Juli), adalah momen yang sangat tepat untuk mengingat kembali bahwa masih ada tugas kita sebagai seorang Muslim untuk ikut merasakan dan membantu penderitaan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara di Palestina.
tulisan ini juga diposting di kompasiana.com
http://public.kompasiana.com/2009/07/17/isra-miraj-al-quds-dan-palestina/
(QS Al-Isra atau surat Bani Israil (17): 1)
Tahukah kamu bahwa saat ini kita telah berada di bulan Rajab dalam kalender Hijriah? Ada apa dengan bulan Rajab? Masih ingatkah kita kepada saudara-saudara muslim kita di Palestina? Apa hubungannya bulan Rajab dengan Palestina dan Al-Quds?
Ayat di atas banyak diperdengarkan di saat-saat ini di bulan Rajab ini, baik di masjid-masjid maupun di pengajian-pengajian. Ayat ini memang bercerita tentang suatu kejadian penting yang terjadi di bulan Rajab, suatu keajaiban dan mukjizat yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw.
Ya, peristiwa itu adalah Isra dan Miraj yang dialami oleh Baginda Nabi. Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa telah menunjukkan kebesaran dan mukjizatnya dengan memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di kota Mekah (sekarang termasuk dalam negara Arab Saudi) ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dua tempat ini berjarak ratusan kilometer dan memakan waktu berhari-hari untuk mencapainya dalam satu perjalanan yang dilakukan saat itu, zaman di mana kuda dan onta adalah satu-satunya kendaraan yang tersedia. Dan, Nabi Muhammad saw hanya memerlukan waktu beberapa detik saja untuk melakukannya tentunya atas izin dan kekuasaan Allah swt.
Saya tidak ingin membahas bagaimana kekuasaan Allah itu dapat terjadi atau bagaimana bentuk buraq, binatang yang ditunggangi Nabi Muhammad dalam perjalanan itu. Saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana nasib bangsa Palestina yang saat ini masih terlunta-lunta. Padahal dalam ayat di atas disebutkan dengan jelas bahwa
“… yang telah Kami berkahi sekelilingnya …”
Allah telah menyatakan bahwa negeri-negeri di sekitar Masjidil Aqsha merupakan tempat yang diberkahi-Nya. Semestinya Palestina adalah negeri yang penuh berkah di mana di sana berdiri dengan kokoh Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam (udah pada tau khan?). Tapi, apa yang terjadi saat ini? Palestina hanyalah sebuah negeri yang penuh dengan noda darah, air mata, dan perpecahan, yang selalu disebut-sebut sebagai sarang teroris oleh barat (AS dan sekutunya).
Boleh jadi, zionis yahudi dan sekutunya lebih memahami ayat ini sehingga mereka memilih palestina sebagai tempat berdirinya negara Israel. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa tanah Palestina yang diberkahi itu dijadikan target dan tempat berdirinya negara Israel. Bisa jadi kaum Yahudi memang dari awal telah mengetahui bahwa Palestina memang tempat yang sangat strategis dan merupakan pusat dari pusaran konstelasi dunia. Dengan menempatkan Israel menduduki wilayah Palestina, Yahudi dan zionis Israel mempunyai posisi strategis di dunia. Dan, dengan mudah mereka bersama dengan sekutu-sekutunya memainkan kendali atas umat Islam secara global. Ini perlu disadari kembali oleh seluruh umat Islam di dunia.
Keberadaan Israel dan Zionis yang menduduki wilayah Palestina memang amat merugikan posisi umat Islam dalam konstelasi politik dunia. secara geografis dan politik Israel telah melemahkan posisi umat Islam yang membuat perpecahan yang berlarut-larut di wilayah timur tengah yang efeknya melemahkan kekuatan Islam secara global di seluruh dunia.
Telah terbukti bahwa wilayah Timur tengah merupakan kawasan petro dolar dimana minyak telah menjadi komoditas yang telah membuat para pembesar kerajaan di wilayah itu hidup dalam kegelimangan harta dan pundi-pundi dolar. Namun, ada satu tugas besar yang telah dilupakan, yaitu keberadaan zionis Israel yang pada dasarnya telah melemahkan kekuatan umat Islam secara global. selama Israel masih mengangkangi wilayah Palestina, selama itu pula kekuatan dan keberkahan Islam yang telah dijanjikan Allah tidak akan terwujud secara nyata.
Saya pikir bulan Rajab ini dan lebih khusus lagi peringatan Isra Miraj yang sebentar lagi akan kita jalani (tanggal 27 Rajab bertepatan dengan tanggal 18 Juli 2008 (?), saya agak bingung nih karena di kalender tanggal merahnya hari senin tgl 20 Juli), adalah momen yang sangat tepat untuk mengingat kembali bahwa masih ada tugas kita sebagai seorang Muslim untuk ikut merasakan dan membantu penderitaan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara di Palestina.
tulisan ini juga diposting di kompasiana.com
http://public.kompasiana.com/2009/07/17/isra-miraj-al-quds-dan-palestina/
18 February 2009
Once Upon A Time
"Jangan lupa akh nanti sore ada rapat kammi di watu gilang .."
"Antum siang ini ada agenda ngisi kajian di SMA Kepanjen kan .. jangan lupa ya .."
Kalimat-kalimat itu kembali terngiang-ngiang di telinga ana eh saya. Kata-kata yang dulu menjadi keseharian saya namun tidak pernah lagi saya dengar saat ini. Ingatan saya menerawang kembali ke masa itu (gue lagi menjalani perjalanan waktu nih kembali ke masa lalu ... kayak teori relativitas Einstein aja). Masa di mana waktu saya dihabiskan untuk berdakwah dan mensyiarkan Islam. Waktu dimana saya tidak pernah memikirkan hal-hal selain dakwah Islam. Masa yang tidak lagi saya jalani saat ini.
Masa itu bisa jadi merupakan masa-masa terbaik dan terindah dalam hidup saya. Masa dimana saya merasakan nilai kehidupan yang hakiki. Periode dimana saya merasa memiliki dan menjadi "sesuatu", menjadi bagian dari masyarakat dan berjuang untuk ummmat. Hidup di dalam jamaah bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki idealisme dan cita-cita yang sama: menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Di masa itu, saya memang sedang on fire, seorang pemuda dengan idealisme tinggi. Berbagai amanah dibebankan di pundak saya saat itu. Aktif di kepartaian (waktu itu partai keadilan PK), KAMMI (kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia), forkalam, dan forsimaja (forum silaturahmi mahasiswa jakarta) adalah sebagian aktivitas yang saya jalani sehari-hari. Saya masih ingat satu hari saya harus rapat sebanyak lima kali pagi siang sore malam. saking padatnya aktivitas yang saya lakukan. Sehari-hari diisi dengan berbagai aktivitas semacam itu: mengisi kajian, rapat kegiatan atau evaluasi, mengikuti kajian Islam, dan sederet aktivitas lainnya. Dengan kondisi semacam ini saya tidak protes kalau ada yang menyebut saya Ikhwan (ya iya lah masa disebut akhwat sih).
Saya tidak pernah bisa melupakan masa-masa itu, masa yang sudah tidak pernah lagi saya alami saat ini. Saya hanya bisa tersenyum kecut saat ini ketika mengingat masa indah itu karena kehidupan saya sekarang begitu berbeda dengan apa yang pernah saya jalani dan pernah menjadi cita-cita saya dulu: menjadi dai yang bekerja dan berjuang untuk Islam.
Ada rasa bersalah dalam hati saya, saat melihat teman-teman seperjuangan saya yang begitu gigih dan keras berjuang untuk memperjuangkan kemenangan Islam melalui wadah partai (PKS), sementara saya masih saja disibukkan dengan urusan pribadi, keluarga, dan urusan ngga penting lainnya. Ada perasaan malu melihat semangat kader-kader (dimana saya pernah menjadi bagian darinya) yang tetap kokoh dalam tekad dan prinsip perjuangannya. Mana idealisme yang pernah antum yakini itu? Mana cita-cita dan obsesi yang pernah menjadi bagian dari prinsip antum dulu? Demikianlah kata-kata yang sering terlintas dalam pikiran saya.
Hari ini kerinduan atas aktivitas masa lalu itu mendorong saya untuk search dengan kata kunci "pks Malang". Begitu inginnya saya mengetahui kondisi sahabat seperjuangan saya dulu. Sampailah saya pada kenyataan yang begitu menyesakkan hati. Melalui salah satu situs blog, saya membaca "kepergian" salah satu kader yang juga teman seperjuangan saya dulu saat saya menjalani aktivitas di Malang.
lebih detailnya bisa dibaca berikut ini.
http://pks-world.blogspot.com/2008/12/berpulang-ketika-istri-melahirkan.html
http://pksmalang.wordpress.com/2008/12/21/telah-berpulang/
Saya begitu tersentak membaca kabar itu. Kabar telah meninggalnya salah satu kader dakwah yang juga saya kenal dan pernah bersama-sama beraktivitas dalam dakwah. Dahulu saya pernah bareng-bareng main bola dan kemping bersama. Saat terakhir, beliau sedang dicalonkan sebagai caleg PKS untuk kabupaten Malang. Saya hanya bisa berdoa semoga beliau mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya.
Sebagai ungkapan rasa cinta saya yang dalam kepada PKS dan tarbiyah yang telah memberikan dan mengajarkan kepada saya arti kehidupan yang hakiki, saya memasang gambar PKS di situs ini. Meskipun kecil yang saya lakukan ini semoga ini bisa menjadi ungkapan cinta dan bahwa PKS selalu ada di dalam hati saya. Semoga saya dapat kembali mendapat semangat untuk menjalani kehidupan dan masa terbaik saya seperti yang pernah saya rasakan dulu.
"Antum siang ini ada agenda ngisi kajian di SMA Kepanjen kan .. jangan lupa ya .."
Kalimat-kalimat itu kembali terngiang-ngiang di telinga ana eh saya. Kata-kata yang dulu menjadi keseharian saya namun tidak pernah lagi saya dengar saat ini. Ingatan saya menerawang kembali ke masa itu (gue lagi menjalani perjalanan waktu nih kembali ke masa lalu ... kayak teori relativitas Einstein aja). Masa di mana waktu saya dihabiskan untuk berdakwah dan mensyiarkan Islam. Waktu dimana saya tidak pernah memikirkan hal-hal selain dakwah Islam. Masa yang tidak lagi saya jalani saat ini.
Masa itu bisa jadi merupakan masa-masa terbaik dan terindah dalam hidup saya. Masa dimana saya merasakan nilai kehidupan yang hakiki. Periode dimana saya merasa memiliki dan menjadi "sesuatu", menjadi bagian dari masyarakat dan berjuang untuk ummmat. Hidup di dalam jamaah bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki idealisme dan cita-cita yang sama: menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Di masa itu, saya memang sedang on fire, seorang pemuda dengan idealisme tinggi. Berbagai amanah dibebankan di pundak saya saat itu. Aktif di kepartaian (waktu itu partai keadilan PK), KAMMI (kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia), forkalam, dan forsimaja (forum silaturahmi mahasiswa jakarta) adalah sebagian aktivitas yang saya jalani sehari-hari. Saya masih ingat satu hari saya harus rapat sebanyak lima kali pagi siang sore malam. saking padatnya aktivitas yang saya lakukan. Sehari-hari diisi dengan berbagai aktivitas semacam itu: mengisi kajian, rapat kegiatan atau evaluasi, mengikuti kajian Islam, dan sederet aktivitas lainnya. Dengan kondisi semacam ini saya tidak protes kalau ada yang menyebut saya Ikhwan (ya iya lah masa disebut akhwat sih).
Saya tidak pernah bisa melupakan masa-masa itu, masa yang sudah tidak pernah lagi saya alami saat ini. Saya hanya bisa tersenyum kecut saat ini ketika mengingat masa indah itu karena kehidupan saya sekarang begitu berbeda dengan apa yang pernah saya jalani dan pernah menjadi cita-cita saya dulu: menjadi dai yang bekerja dan berjuang untuk Islam.
Ada rasa bersalah dalam hati saya, saat melihat teman-teman seperjuangan saya yang begitu gigih dan keras berjuang untuk memperjuangkan kemenangan Islam melalui wadah partai (PKS), sementara saya masih saja disibukkan dengan urusan pribadi, keluarga, dan urusan ngga penting lainnya. Ada perasaan malu melihat semangat kader-kader (dimana saya pernah menjadi bagian darinya) yang tetap kokoh dalam tekad dan prinsip perjuangannya. Mana idealisme yang pernah antum yakini itu? Mana cita-cita dan obsesi yang pernah menjadi bagian dari prinsip antum dulu? Demikianlah kata-kata yang sering terlintas dalam pikiran saya.
Hari ini kerinduan atas aktivitas masa lalu itu mendorong saya untuk search dengan kata kunci "pks Malang". Begitu inginnya saya mengetahui kondisi sahabat seperjuangan saya dulu. Sampailah saya pada kenyataan yang begitu menyesakkan hati. Melalui salah satu situs blog, saya membaca "kepergian" salah satu kader yang juga teman seperjuangan saya dulu saat saya menjalani aktivitas di Malang.
lebih detailnya bisa dibaca berikut ini.
http://pks-world.blogspot.com/2008/12/berpulang-ketika-istri-melahirkan.html
http://pksmalang.wordpress.com/2008/12/21/telah-berpulang/
Saya begitu tersentak membaca kabar itu. Kabar telah meninggalnya salah satu kader dakwah yang juga saya kenal dan pernah bersama-sama beraktivitas dalam dakwah. Dahulu saya pernah bareng-bareng main bola dan kemping bersama. Saat terakhir, beliau sedang dicalonkan sebagai caleg PKS untuk kabupaten Malang. Saya hanya bisa berdoa semoga beliau mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya.
Sebagai ungkapan rasa cinta saya yang dalam kepada PKS dan tarbiyah yang telah memberikan dan mengajarkan kepada saya arti kehidupan yang hakiki, saya memasang gambar PKS di situs ini. Meskipun kecil yang saya lakukan ini semoga ini bisa menjadi ungkapan cinta dan bahwa PKS selalu ada di dalam hati saya. Semoga saya dapat kembali mendapat semangat untuk menjalani kehidupan dan masa terbaik saya seperti yang pernah saya rasakan dulu.
05 February 2009
Caleg PKS: Berita yang terlalu dibesar-besarkan
Hari ini, berita tentang caleg PKS yang kedapatan sedang berada di sebuah panti pijat menjadi headline berita di hampir semua media online. Detik.com dan Kompas.com adalah dua media on-line terkemuka yang menjadikan berita tentang caleg PKS sebagai headline beritanya. Satu pertanyaan yang mengemuka atas kondisi ini, mengapa pemberitaan ini seolah-olah adalah sebuah berita besar? Mengapa ketika PKS yang melakukan sebuah kesalahan kecil, orang melihatnya sebagai dosa besar yang tidak dapat diampuni? Tidakkah mereka (orang-orang) melihat bagaimana anggota legislatif dari partai lain yang korup sebagai bahan berita yang lebih besar?
Saya menganggap pemberitaan tentang caleg PKS ini terlalu berlebihan dan terkesan menjadi berita besar hanya karena sang caleg adalah caleg dari sebuah partai PKS yang selama ini dikenal sebagai partai yang bersih dan tidak punya cacat politik. Saya menduga ini dijadikan sarana bagi partai lain (musuh politik) untuk menjatuhkan citra PKS di mata publik. Bayangkan, caleg (ini baru caleg lho belum menjadi anggota legislatif) di daerah telah menjadi berita nasional yang diekspos secara besar-besaran. Terlihat sekali kesan untuk menjadikan berita ini menjadi berita nasional yang harus dilihat oleh semua orang bahkan dunia.
Kesan yang sangat terlihat yang seolah-olah ingin menunjukkan kepada semua orang kepada dunia bahwa "nih lihat caleg PKS main ke panti pijat ... katanya PKS bersih, menjunjung moral, anti maksiat, mana buktinya?" Seakan-akan orang ingin menunjukkan bahwa PKS aja yang bersih bisa terlibat dalam praktik yang menyerempet maksiat.
Saya sendiri sangat menyayangkan kejadian ini, caleg PKS dapat terjerumus dalam hal-hal yang melanggar moral, tapi ya ngga usah dibesar-besarkan seperti inilah. Saya setuju sangsi harus dijatuhkan kepada caleg tersebut, tapi kalo kejadian ini diekspos secara besar-besaran ya ngga fair lah. Apakah mereka lupa bahwa siapa anggota lepislatif yang paling banyak terlibat kasus korupsi dan kejahatan-kejahatan lain? coba lihat prestasi anggota legislatif berikut ini: Yahya Zaini yang terlibat affair dengan Maria Eva, Max Moein yang dilaporkan oleh sekretarisnya karena pelecehan seksual, Amin Nasution suaminya penyanyi Kristina yang terlibat korupsi, Hamka Yamdu tersandung kasus BI, dan banyak lagi yang lain, yang kalo dikumpulkan bikin enek orang yang membacanya. Siapa dan dari partai mana para pelaku kejahatan ini?
Coba bayangkan kasus ini, pada pemilihan ketua DPRD di suatu kota terdapat dua kubu, PKS dan bukan PKS yang merupakan gabungan partai-partai lain. Ketika ketua DPRD yang terpilih bukan dari PKS, anggota DPRD yang bukan PKS seluruhnya sujud syukur dan membatalkan puasa (padahal saat itu sedang puasa ramadan. Bagaimana moral anggota legislatif semacam ini? Moral yang bejat dan trik-trik murahan sering ditunjukkan oleh anggota legislatif yang bukan dari PKS. Mengapa ini tidak diekspos?
Apakah orang-orang PKS adalah orang-orang bersih yang harus bebas dari dosa? Malaikat kali kalo ngga punya dosa. Saya bukannya membela sang caleg PKS yang memang telah berbuat kesalahan tetapi kalau kemudian menganggap kesalahan ini sebagai sesuatu yang sangat besar itu yang saya anggap ngga wajar.
Kalau kemudian orang menjadikan hal ini sebagai alat untuk menjatuhkan citra PKS, ini adalah cara yang sangat konyol dan tidak elegan. Karena lebih banyak alasan untuk mencari kesalahan partai-partai lain ketimbang menjadikan isu ini untuk menjatuhkan citra PKS.
Sekarang coba pikirkan dengan hati yang jernih, partai mana yang secara nyata menentang ketidakadilan seperti ketidakadilan agresi Israel terhadap Palestina? Partai mana yang melalui ormasnya langsung terjun dalam menanggulangi musibah yang terjadi di Indonesia? Partai mana yang dengan berpihak kepada rakyat yang dengan suka rela mengembalikan dana tidak jelas di dewan kepada pemerintah?
Saya yakin isu ini tidak akan berpengaruh banyak terhadap citra PKS di masyarakat karena masyarakat sudah tahu siapa sebenarnya yang harus dicap sebagai partai yang busuk. Masyarakat sudah tahu partai mana atau politisi mana yang benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat ketimbang mereka yang terus-menerus berkoar-koar sebagai partai rakyat tetapi tidak ada karya nyatanya bagi rakyat.
Saya menganggap pemberitaan tentang caleg PKS ini terlalu berlebihan dan terkesan menjadi berita besar hanya karena sang caleg adalah caleg dari sebuah partai PKS yang selama ini dikenal sebagai partai yang bersih dan tidak punya cacat politik. Saya menduga ini dijadikan sarana bagi partai lain (musuh politik) untuk menjatuhkan citra PKS di mata publik. Bayangkan, caleg (ini baru caleg lho belum menjadi anggota legislatif) di daerah telah menjadi berita nasional yang diekspos secara besar-besaran. Terlihat sekali kesan untuk menjadikan berita ini menjadi berita nasional yang harus dilihat oleh semua orang bahkan dunia.
Kesan yang sangat terlihat yang seolah-olah ingin menunjukkan kepada semua orang kepada dunia bahwa "nih lihat caleg PKS main ke panti pijat ... katanya PKS bersih, menjunjung moral, anti maksiat, mana buktinya?" Seakan-akan orang ingin menunjukkan bahwa PKS aja yang bersih bisa terlibat dalam praktik yang menyerempet maksiat.
Saya sendiri sangat menyayangkan kejadian ini, caleg PKS dapat terjerumus dalam hal-hal yang melanggar moral, tapi ya ngga usah dibesar-besarkan seperti inilah. Saya setuju sangsi harus dijatuhkan kepada caleg tersebut, tapi kalo kejadian ini diekspos secara besar-besaran ya ngga fair lah. Apakah mereka lupa bahwa siapa anggota lepislatif yang paling banyak terlibat kasus korupsi dan kejahatan-kejahatan lain? coba lihat prestasi anggota legislatif berikut ini: Yahya Zaini yang terlibat affair dengan Maria Eva, Max Moein yang dilaporkan oleh sekretarisnya karena pelecehan seksual, Amin Nasution suaminya penyanyi Kristina yang terlibat korupsi, Hamka Yamdu tersandung kasus BI, dan banyak lagi yang lain, yang kalo dikumpulkan bikin enek orang yang membacanya. Siapa dan dari partai mana para pelaku kejahatan ini?
Coba bayangkan kasus ini, pada pemilihan ketua DPRD di suatu kota terdapat dua kubu, PKS dan bukan PKS yang merupakan gabungan partai-partai lain. Ketika ketua DPRD yang terpilih bukan dari PKS, anggota DPRD yang bukan PKS seluruhnya sujud syukur dan membatalkan puasa (padahal saat itu sedang puasa ramadan. Bagaimana moral anggota legislatif semacam ini? Moral yang bejat dan trik-trik murahan sering ditunjukkan oleh anggota legislatif yang bukan dari PKS. Mengapa ini tidak diekspos?
Apakah orang-orang PKS adalah orang-orang bersih yang harus bebas dari dosa? Malaikat kali kalo ngga punya dosa. Saya bukannya membela sang caleg PKS yang memang telah berbuat kesalahan tetapi kalau kemudian menganggap kesalahan ini sebagai sesuatu yang sangat besar itu yang saya anggap ngga wajar.
Kalau kemudian orang menjadikan hal ini sebagai alat untuk menjatuhkan citra PKS, ini adalah cara yang sangat konyol dan tidak elegan. Karena lebih banyak alasan untuk mencari kesalahan partai-partai lain ketimbang menjadikan isu ini untuk menjatuhkan citra PKS.
Sekarang coba pikirkan dengan hati yang jernih, partai mana yang secara nyata menentang ketidakadilan seperti ketidakadilan agresi Israel terhadap Palestina? Partai mana yang melalui ormasnya langsung terjun dalam menanggulangi musibah yang terjadi di Indonesia? Partai mana yang dengan berpihak kepada rakyat yang dengan suka rela mengembalikan dana tidak jelas di dewan kepada pemerintah?
Saya yakin isu ini tidak akan berpengaruh banyak terhadap citra PKS di masyarakat karena masyarakat sudah tahu siapa sebenarnya yang harus dicap sebagai partai yang busuk. Masyarakat sudah tahu partai mana atau politisi mana yang benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat ketimbang mereka yang terus-menerus berkoar-koar sebagai partai rakyat tetapi tidak ada karya nyatanya bagi rakyat.
22 December 2008
Menjadi muslim yang profesional dengan konsep tawazun
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari seorang muslim melakukan banyak hal mulai dari keluarga dan kehidupan sosial, sampai profesi dan pekerjaan. Dalam menjalani kehidupannya tersebut seorang muslim harus melakukannya secara proporsional dan seimbang. Proporsional dan seimbang ini bukan berarti melakukannya dengan porsi yang sama antara satu bagian dengan bagian yang lain, melainkan sesuai dengan proporsi dan prioritas. Di sinilah konsep tawazun menjadi penting dan perlu diangkat kembali ke permukaan.
Dalam Islam seorang muslim mempunyai kewajiban-kewajiban yang diembannya dalam seluruh aspek kehidupannya dan sesuai dengan minat dan potensi yang dimilikinya. Tidak semua muslim harus berprofesi sama (misalnya, harus menjadi guru) tetapi seorang muslim bebas menjalani profesi yang sesuai dengan kecenderungan, minat, dan potensi yang dimilikinya. Namun, sesuatu yang pasti adalah setiap muslim adalah seorang dai yang mengemban amanat untuk menyebarkan, mensyiarkan, dan memberikan teladan islam kepada orang lain, masyarakat, dan umat manusia. Dalam hal ini seorang dai bukanlah seorang dengan pakaian islami yang menyampaikan konsep islam di mimbar-mimbar saja, melainkan seorang dengan wawasan keislaman yang terbentuk dan terintegrasi baik dalam kata-kata maupun perbuatan yang setiap kata-kata dan perbuatannya bermanfaat bagi orang lain dan alam sekitarnya.
Dengan predikat sebagai dai itulah seorang muslim bergaul, berinteraksi, menyatu, dan memberikan pandangannya dalam berbagai aspek kehidupan manusia dengan berbagai profesi yang dia miliki. Kekuatannya adalah sejauh mana dia dapat berinteraksi dengan masyarakat, menyampaikan, dan mewarnainya dengan nilai-nilai keislaman dalam bentuk kata-kata, perbuatan, dan aksi positif tanpa terpengaruh dan terjerumus dalam gaya hidup masyarakat di mana dia berinteraksi.
Di sinilah konsep tawazun menjadi konsep yang penting yang perlu dimiliki oleh setiap muslim plus (muslim yang mengemban amanah sebagai dai). Seorang muslim perlu memperhatikan setiap aspek kehidupannya secara menyeluruh. Ini berarti baik jasmani dan rohani, keluarga, pekerjaan, masyarakat, diri sendiri, maupun orang lain perlu diperhatikan dan diperlakukan secara seimbang dan proporsional. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah seimbang antara dunia dan akhirat. Dalam surat al-qashas ayat 77 Allah berfirman untuk memperhatikan dunia dan akhirat secara seimbang.
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”
Dalam menyampaikan dakwah dan syiar Islam, seorang muslim tidak perlu menunggu sampai berdiri di atas mimbar dan di hadapan orang banyak. Bahkan perbuatan, tingkah laku, dan tutur kata yang Islami dan menyentuh hati lebih mulia dan lebih mencerminkan sikap seorang muslim sejati dibandingkan kata-kata kosong di hadapan orang banyak. Oleh karena itu, ruang kerja, warung tempat berbelanja, halte tempat menunggu bis (atau stasiun), dan setiap tempat (di bumi) di mana seorang muslim berpijak merupakan mimbar-mimbar tempat menyampaikan dakwah dan syiar Islam melalui sikap, tutur kata, dan perbuatan yang Islami.
Seorang office boy yang menunjukkan sikap, tutur kata, dan perbuatan yang Islami lebih mulia dibandingkan seorang manajer yang kurang disukai bawahannya karena sikapnya yang kurang baik. (Namun, tentu saja seorang manajer yang menunjukkan sikap, tutur kata, dan perbuatan yang Islami dan tulus ikhlas tanpa pamrih jauh lebih baik).
Sikap seperti ini hanya bisa diperoleh melalui pemahaman yang baik terhadap konsep tawazun. Seorang muslim yang tawazun tidak hanya memikirkan dirinya sendiri melainkan juga menjaga sikapnya agar bermanfaat bagi orang lain. Karena berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain tidak mendapatkan balasan langsung di dunia tetapi di akhirat, maka sikap ini tentu lahir dari pemahaman yang mendalam atas konsep keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Sikap tawazun akan menjadi landasan yang kokoh bagi seorang muslim yang profesional. Setiap muslim dituntut untuk menjadi manusia-manusia yang profesional dan menjadi teladan bagi umat manusia. Apapun profesi yang dijalaninya, seorang muslim harus selalu menjalankannya secara profesional, dan sikap tawazun adalah landasan yang amat diperlukan dalam proses ini.
Seorang muslim belum dikatakan sebagai manusia yang sukses apabila kecemerlangan dan kehebatan kariernya tidak disertai dengan keharmonisan dalam hubungan keluarga dan sosial. Seorang manajer belum dikatakan sempurna dan cakap apabila tidak memiliki kemampuan berinteraksi secara sosial yang baik. Di sinilah diperlukan sikap tawazun yang menjadi landasan sikapnya secara integral.
Dalam Islam seorang muslim mempunyai kewajiban-kewajiban yang diembannya dalam seluruh aspek kehidupannya dan sesuai dengan minat dan potensi yang dimilikinya. Tidak semua muslim harus berprofesi sama (misalnya, harus menjadi guru) tetapi seorang muslim bebas menjalani profesi yang sesuai dengan kecenderungan, minat, dan potensi yang dimilikinya. Namun, sesuatu yang pasti adalah setiap muslim adalah seorang dai yang mengemban amanat untuk menyebarkan, mensyiarkan, dan memberikan teladan islam kepada orang lain, masyarakat, dan umat manusia. Dalam hal ini seorang dai bukanlah seorang dengan pakaian islami yang menyampaikan konsep islam di mimbar-mimbar saja, melainkan seorang dengan wawasan keislaman yang terbentuk dan terintegrasi baik dalam kata-kata maupun perbuatan yang setiap kata-kata dan perbuatannya bermanfaat bagi orang lain dan alam sekitarnya.
Dengan predikat sebagai dai itulah seorang muslim bergaul, berinteraksi, menyatu, dan memberikan pandangannya dalam berbagai aspek kehidupan manusia dengan berbagai profesi yang dia miliki. Kekuatannya adalah sejauh mana dia dapat berinteraksi dengan masyarakat, menyampaikan, dan mewarnainya dengan nilai-nilai keislaman dalam bentuk kata-kata, perbuatan, dan aksi positif tanpa terpengaruh dan terjerumus dalam gaya hidup masyarakat di mana dia berinteraksi.
Di sinilah konsep tawazun menjadi konsep yang penting yang perlu dimiliki oleh setiap muslim plus (muslim yang mengemban amanah sebagai dai). Seorang muslim perlu memperhatikan setiap aspek kehidupannya secara menyeluruh. Ini berarti baik jasmani dan rohani, keluarga, pekerjaan, masyarakat, diri sendiri, maupun orang lain perlu diperhatikan dan diperlakukan secara seimbang dan proporsional. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah seimbang antara dunia dan akhirat. Dalam surat al-qashas ayat 77 Allah berfirman untuk memperhatikan dunia dan akhirat secara seimbang.
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”
Dalam menyampaikan dakwah dan syiar Islam, seorang muslim tidak perlu menunggu sampai berdiri di atas mimbar dan di hadapan orang banyak. Bahkan perbuatan, tingkah laku, dan tutur kata yang Islami dan menyentuh hati lebih mulia dan lebih mencerminkan sikap seorang muslim sejati dibandingkan kata-kata kosong di hadapan orang banyak. Oleh karena itu, ruang kerja, warung tempat berbelanja, halte tempat menunggu bis (atau stasiun), dan setiap tempat (di bumi) di mana seorang muslim berpijak merupakan mimbar-mimbar tempat menyampaikan dakwah dan syiar Islam melalui sikap, tutur kata, dan perbuatan yang Islami.
Seorang office boy yang menunjukkan sikap, tutur kata, dan perbuatan yang Islami lebih mulia dibandingkan seorang manajer yang kurang disukai bawahannya karena sikapnya yang kurang baik. (Namun, tentu saja seorang manajer yang menunjukkan sikap, tutur kata, dan perbuatan yang Islami dan tulus ikhlas tanpa pamrih jauh lebih baik).
Sikap seperti ini hanya bisa diperoleh melalui pemahaman yang baik terhadap konsep tawazun. Seorang muslim yang tawazun tidak hanya memikirkan dirinya sendiri melainkan juga menjaga sikapnya agar bermanfaat bagi orang lain. Karena berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain tidak mendapatkan balasan langsung di dunia tetapi di akhirat, maka sikap ini tentu lahir dari pemahaman yang mendalam atas konsep keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Sikap tawazun akan menjadi landasan yang kokoh bagi seorang muslim yang profesional. Setiap muslim dituntut untuk menjadi manusia-manusia yang profesional dan menjadi teladan bagi umat manusia. Apapun profesi yang dijalaninya, seorang muslim harus selalu menjalankannya secara profesional, dan sikap tawazun adalah landasan yang amat diperlukan dalam proses ini.
Seorang muslim belum dikatakan sebagai manusia yang sukses apabila kecemerlangan dan kehebatan kariernya tidak disertai dengan keharmonisan dalam hubungan keluarga dan sosial. Seorang manajer belum dikatakan sempurna dan cakap apabila tidak memiliki kemampuan berinteraksi secara sosial yang baik. Di sinilah diperlukan sikap tawazun yang menjadi landasan sikapnya secara integral.
04 August 2008
... Mereka Hidup di sisi Tuhannya Mendapat Rezki
وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
(QS Ali Imran: 169)
Atas takdir Allah kaum muslimin dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka dipertemukan dengan musuh mereka (orang-orang kafir) dalam suatu peperangan besar. Tidak ada pilihan lain bagi kaum muslimin kecuali menghadapi peperangan ini, sebagai bagian dari komitmen mereka kepada Allah dan rasul-Nya.
Tapi ada sebagian dari kaum muslimin yang menolak perintah ini. Mereka adalah orang-orang munafik yang dengan segala macam alasan tidak ikut berperang menghadapi orang kafir.
Dan, pada perang Uhud itu, kaum muslimin mengalami kekalahan akibat kelalaian mereka sendiri.
Orang-orang munafik (yang tidak ikut berperang) ini mengatakan kepada saudara-saudara mereka, “andaikan kalian tidak ikut berperang, tentu kalian tidak akan terbunuh dalam peperangan ini.”
Maka Allah menjawab celaan orang-orang munafik ini melalui ayat di atas.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
Inilah sekelumit kisah dalam Al-quran yang mengandung banyak hikmah. Orang-orang munafik mengira bahwa orang-orang yang mati dalam peperangan (jihad) adalah sesuatu yang sia-sia. Dan bisa jadi pola pikir seperti ini yang ada dalam pikiran kita semua. Tapi Allah yang Maha Besar memiliki pandangan lain bahwa sesungguhnya orang-orang yang gugur di jalan Allah tidaklah mati tetapi hidup di sisi Allah dengan mendapatkan rezki dari Allah.
Tidakkah kita menginginkan hal ini, hidup di sisi Allah dengan segala kenikmatan dan rezki-Nya? Sesungguhnya inilah kenikmatan terbesar dan hakiki bagi kita. Dan Allah telah membuka jalan bagi kita semua untuk dapat meraihnya, yaitu dengan cara berjuang di jalan Allah. Pada zaman rasul, ini bisa diwujudkan dengan berperang melawan musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang kafir.
Bagaimana mewujudkan hal ini di zaman sekarang yang berbeda dengan kondisi pada zaman Rasul? Tentu saja kita tidak bisa menyamakan kondisi pada zaman Rasul dengan kondisi sekarang. Kita tidak bisa melakukan perang secara terbuka dengan orang kafir sebagaimana Rasul bersama kaum muslimin melakukannya pada masa lalu.
Perjuangan yang kita lakukan saat ini secara fisik tentu saja tidak sama dengan perjuangan dan jihad pada masa Rasul. Bagi mereka di Palestina, berjuang melawan penjajah Israel adalah jihad mereka. Dan, mereka wajib melakukannya. Tapi, bagi kaum muslimin di AS atau di Eropa, tentu saja tidak bisa melakukan perjuangannya dengan berperang melawan orang-orang kafir. Mereka melakukannya dengan syiar dan dakwah Islam. Begitu bukan?
Begitu juga perjuangan umat Islam di Indonesia (seperti kita, kita … lu kali …) tentu saja memiliki bentuk perjuangannya sendiri. Banyak yang bisa kita lakukan. Kita bisa melakukan banyak hal dalam memperjuangkan Islam.
Waktu gue kuliah dulu, gue menafsirkan berjuang di jalan Allah baik dengan melakukan aktivitas dakwah dalam organisasi di kampus maupun melalui pendekatan personal kepada orang-orang yang kita kenal. Idealisme kami waktu itu adalah ingin menegakkan syariat Islam di kampus. Tentu saja ini sungguh mulia.
Namun, saat ini ketika gue sudah lulus dari kampus dan berada di dunia kerja yang wilayahnya lebih luas, gue dihadapkan pada sesuatu yang berbeda. Gue, dan mungkin semua rekan-rekan yang berpandangan sama dengan gue, dihadapkan pada bentuk perjuangan yang lain dimana terjadi banyak benturan antara idealisme dan realitas, di saat kita harus memilih dua pilihan yang kadang bertentangan tapi mempunyai efek yang sama terhadap kita, dan di saat kematangan dan kedewasaan pikiran dituntut.
Gue yang merasa telah berbuat banyak ketika melakukan aktivitas di kampus, baru disadarkan pada realitas sesungguhnya di hadapan gue. Ternyata semua yang gue lakukan di kampus tidak ada apa-apanya. Bahwa perjuangan baru saja dimulai, perjuangan sesungguhnya di dunia yang sangat luas.
Mari kita renungkan firman allah, “… bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya akan melihat pekerjaan kamu …” saat ini kita dituntut untuk menunjukkan sejauh mana kita berbuat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dengan “bekerja” itulah kita berjuang di jalan Allah. Tentu saja bekerja disini mempunyai makna yang sangat luas. Dengan bekerja kita dapat bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana dalam suatu hadis “sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat buat orang lain”.
Tidakkah kita menginginkan menjadi orang atau hamba yang terbaik di mata Allah dan mendapatkan kenikmatan hidup di sisinya pada kedudukan yang mulia dengan mendapat berkah dan rezki-Nya?
Semoga! amin
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
(QS Ali Imran: 169)
Atas takdir Allah kaum muslimin dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka dipertemukan dengan musuh mereka (orang-orang kafir) dalam suatu peperangan besar. Tidak ada pilihan lain bagi kaum muslimin kecuali menghadapi peperangan ini, sebagai bagian dari komitmen mereka kepada Allah dan rasul-Nya.
Tapi ada sebagian dari kaum muslimin yang menolak perintah ini. Mereka adalah orang-orang munafik yang dengan segala macam alasan tidak ikut berperang menghadapi orang kafir.
Dan, pada perang Uhud itu, kaum muslimin mengalami kekalahan akibat kelalaian mereka sendiri.
Orang-orang munafik (yang tidak ikut berperang) ini mengatakan kepada saudara-saudara mereka, “andaikan kalian tidak ikut berperang, tentu kalian tidak akan terbunuh dalam peperangan ini.”
Maka Allah menjawab celaan orang-orang munafik ini melalui ayat di atas.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
Inilah sekelumit kisah dalam Al-quran yang mengandung banyak hikmah. Orang-orang munafik mengira bahwa orang-orang yang mati dalam peperangan (jihad) adalah sesuatu yang sia-sia. Dan bisa jadi pola pikir seperti ini yang ada dalam pikiran kita semua. Tapi Allah yang Maha Besar memiliki pandangan lain bahwa sesungguhnya orang-orang yang gugur di jalan Allah tidaklah mati tetapi hidup di sisi Allah dengan mendapatkan rezki dari Allah.
Tidakkah kita menginginkan hal ini, hidup di sisi Allah dengan segala kenikmatan dan rezki-Nya? Sesungguhnya inilah kenikmatan terbesar dan hakiki bagi kita. Dan Allah telah membuka jalan bagi kita semua untuk dapat meraihnya, yaitu dengan cara berjuang di jalan Allah. Pada zaman rasul, ini bisa diwujudkan dengan berperang melawan musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang kafir.
Bagaimana mewujudkan hal ini di zaman sekarang yang berbeda dengan kondisi pada zaman Rasul? Tentu saja kita tidak bisa menyamakan kondisi pada zaman Rasul dengan kondisi sekarang. Kita tidak bisa melakukan perang secara terbuka dengan orang kafir sebagaimana Rasul bersama kaum muslimin melakukannya pada masa lalu.
Perjuangan yang kita lakukan saat ini secara fisik tentu saja tidak sama dengan perjuangan dan jihad pada masa Rasul. Bagi mereka di Palestina, berjuang melawan penjajah Israel adalah jihad mereka. Dan, mereka wajib melakukannya. Tapi, bagi kaum muslimin di AS atau di Eropa, tentu saja tidak bisa melakukan perjuangannya dengan berperang melawan orang-orang kafir. Mereka melakukannya dengan syiar dan dakwah Islam. Begitu bukan?
Begitu juga perjuangan umat Islam di Indonesia (seperti kita, kita … lu kali …) tentu saja memiliki bentuk perjuangannya sendiri. Banyak yang bisa kita lakukan. Kita bisa melakukan banyak hal dalam memperjuangkan Islam.
Waktu gue kuliah dulu, gue menafsirkan berjuang di jalan Allah baik dengan melakukan aktivitas dakwah dalam organisasi di kampus maupun melalui pendekatan personal kepada orang-orang yang kita kenal. Idealisme kami waktu itu adalah ingin menegakkan syariat Islam di kampus. Tentu saja ini sungguh mulia.
Namun, saat ini ketika gue sudah lulus dari kampus dan berada di dunia kerja yang wilayahnya lebih luas, gue dihadapkan pada sesuatu yang berbeda. Gue, dan mungkin semua rekan-rekan yang berpandangan sama dengan gue, dihadapkan pada bentuk perjuangan yang lain dimana terjadi banyak benturan antara idealisme dan realitas, di saat kita harus memilih dua pilihan yang kadang bertentangan tapi mempunyai efek yang sama terhadap kita, dan di saat kematangan dan kedewasaan pikiran dituntut.
Gue yang merasa telah berbuat banyak ketika melakukan aktivitas di kampus, baru disadarkan pada realitas sesungguhnya di hadapan gue. Ternyata semua yang gue lakukan di kampus tidak ada apa-apanya. Bahwa perjuangan baru saja dimulai, perjuangan sesungguhnya di dunia yang sangat luas.
Mari kita renungkan firman allah, “… bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya akan melihat pekerjaan kamu …” saat ini kita dituntut untuk menunjukkan sejauh mana kita berbuat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dengan “bekerja” itulah kita berjuang di jalan Allah. Tentu saja bekerja disini mempunyai makna yang sangat luas. Dengan bekerja kita dapat bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana dalam suatu hadis “sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat buat orang lain”.
Tidakkah kita menginginkan menjadi orang atau hamba yang terbaik di mata Allah dan mendapatkan kenikmatan hidup di sisinya pada kedudukan yang mulia dengan mendapat berkah dan rezki-Nya?
Semoga! amin
28 July 2008
Memaknai Isra Miraj
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS Al-Isra atau surat Bani Israil (17): 1)
Tahukah kamu bahwa saat ini kita telah berada di bulan Rajab dalam kalender Hijriah? Ada apa dengan bulan Rajab? Masih ingatkah kita kepada saudara-saudara muslim kita di Palestina? Apa hubungannya bulan Rajab dengan Palestina dan Al-Quds?
Ayat di atas banyak diperdengarkan di saat-saat ini di bulan Rajab ini, baik di masjid-masjid maupun di pengajian-pengajian. Ayat ini memang bercerita tentang suatu kejadian penting yang terjadi di bulan Rajab, suatu keajaiban dan mukjizat yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw.
Ya, peristiwa itu adalah Isra dan Miraj yang dialami oleh Baginda Nabi. Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa telah menunjukkan kebesaran dan mukjizatnya dengan memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di kota Mekah (sekarang termasuk dalam negara Arab Saudi) ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dua tempat ini berjarak ratusan kilometer dan memakan waktu berhari-hari untuk mencapainya dalam satu perjalanan yang dilakukan saat itu, zaman di mana kuda dan onta adalah satu-satunya kendaraan yang tersedia. Dan, Nabi Muhammad saw hanya memerlukan waktu beberapa detik saja untuk melakukannya tentunya atas izin dan kekuasaan Allah swt.
Saya tidak ingin membahas bagaimana kekuasaan Allah itu dapat terjadi atau bagaimana bentuk buraq, binatang yang ditunggangi Nabi Muhammad dalam perjalanan itu. Saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana nasib bangsa Palestina yang saat ini masih terlunta-lunta. Padahal dalam ayat di atas disebutkan dengan jelas bahwa
“… yang telah Kami berkahi sekelilingnya …”
Semestinya Palestina adalah negeri yang penuh berkah di mana di sana berdiri dengan kokoh Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam (udah pada tau khan?). Tapi, apa yang terjadi saat ini? Palestina hanyalah sebuah negeri yang penuh dengan noda darah, air mata, dan perpecahan, yang selalu disebut-sebut sebagai sarang teroris oleh barat (AS dan sekutunya).
Saya pikir bulan Rajab ini dan lebih khusus lagi peringatan Isra Miraj yang sebentar lagi akan kita jalani (tanggal 27 Rajab bertepatan dengan tanggal 30 Juli 2008), adalah momen yang sangat tepat untuk mengingat kembali bahwa masih ada tugas kita sebagai seorang Muslim untuk ikut merasakan dan membantu penderitaan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara di Palestina. Siapa lagi yang dapat membantu perjuangan Palestina kalau bukan kita sebagai saudara sesama muslim. Siapapun mereka, apabila mereka mengucapkan syahadat maka mereka adalah saudara kita.
Sebagai bentuk solidaritas dan kesetiakawanan kepada sesama muslim di Palestina, mari kita bergabung bersama dalam acara
KONSER KEMANUSIAAN UNTUK KEMERDEKAAN RAKYAT PELESTINA
Yang akan diselenggarakan pada
Ahad, 6 Agustus 2008 di Tennis Indoor Senayan
Acara ini dibagi menjadi tiga sesi
- sesi I (09.00 – 12.00 WIB)
- sesi II (13.00 – 16.00 WIB)
- sesi III (18.30 – 21.30 WIB)
Acara ini dimeriahkan oleh tokoh-tokoh dan cendikiawan Muslim dan Palestina di antaranya.
Hidayat Nur Wahid (ketua MPR), Adhyaksa Dault (Menteri Pemuda dan Olahraga), Arifin Ilham (pemimpin majelis zikir), Izzatul Islam, Ar-Ruhul Jadid, dan lain-lain.
Wah, kayaknya bakalan rame dan seru nih …
So, buat sobat-sobat yang ngaku Islam dan cinta perdamaian dan kemerdekaan, ini adalah wadah yang tepat untuk menunjukkannya. Mari kita hadir bersama-sama, dan jangan lupa ngajak nyak-babe dan teman-temannya, kakak dan konco-konconya, adik, saudara, tetangga, temannya tetangga, kerabat, dan semuanya deh biar rame … he3x …
Don’t miss it!
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS Al-Isra atau surat Bani Israil (17): 1)
Tahukah kamu bahwa saat ini kita telah berada di bulan Rajab dalam kalender Hijriah? Ada apa dengan bulan Rajab? Masih ingatkah kita kepada saudara-saudara muslim kita di Palestina? Apa hubungannya bulan Rajab dengan Palestina dan Al-Quds?
Ayat di atas banyak diperdengarkan di saat-saat ini di bulan Rajab ini, baik di masjid-masjid maupun di pengajian-pengajian. Ayat ini memang bercerita tentang suatu kejadian penting yang terjadi di bulan Rajab, suatu keajaiban dan mukjizat yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw.
Ya, peristiwa itu adalah Isra dan Miraj yang dialami oleh Baginda Nabi. Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa telah menunjukkan kebesaran dan mukjizatnya dengan memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di kota Mekah (sekarang termasuk dalam negara Arab Saudi) ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dua tempat ini berjarak ratusan kilometer dan memakan waktu berhari-hari untuk mencapainya dalam satu perjalanan yang dilakukan saat itu, zaman di mana kuda dan onta adalah satu-satunya kendaraan yang tersedia. Dan, Nabi Muhammad saw hanya memerlukan waktu beberapa detik saja untuk melakukannya tentunya atas izin dan kekuasaan Allah swt.
Saya tidak ingin membahas bagaimana kekuasaan Allah itu dapat terjadi atau bagaimana bentuk buraq, binatang yang ditunggangi Nabi Muhammad dalam perjalanan itu. Saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana nasib bangsa Palestina yang saat ini masih terlunta-lunta. Padahal dalam ayat di atas disebutkan dengan jelas bahwa
“… yang telah Kami berkahi sekelilingnya …”
Semestinya Palestina adalah negeri yang penuh berkah di mana di sana berdiri dengan kokoh Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam (udah pada tau khan?). Tapi, apa yang terjadi saat ini? Palestina hanyalah sebuah negeri yang penuh dengan noda darah, air mata, dan perpecahan, yang selalu disebut-sebut sebagai sarang teroris oleh barat (AS dan sekutunya).
Saya pikir bulan Rajab ini dan lebih khusus lagi peringatan Isra Miraj yang sebentar lagi akan kita jalani (tanggal 27 Rajab bertepatan dengan tanggal 30 Juli 2008), adalah momen yang sangat tepat untuk mengingat kembali bahwa masih ada tugas kita sebagai seorang Muslim untuk ikut merasakan dan membantu penderitaan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara di Palestina. Siapa lagi yang dapat membantu perjuangan Palestina kalau bukan kita sebagai saudara sesama muslim. Siapapun mereka, apabila mereka mengucapkan syahadat maka mereka adalah saudara kita.
Sebagai bentuk solidaritas dan kesetiakawanan kepada sesama muslim di Palestina, mari kita bergabung bersama dalam acara
KONSER KEMANUSIAAN UNTUK KEMERDEKAAN RAKYAT PELESTINA
Yang akan diselenggarakan pada
Ahad, 6 Agustus 2008 di Tennis Indoor Senayan
Acara ini dibagi menjadi tiga sesi
- sesi I (09.00 – 12.00 WIB)
- sesi II (13.00 – 16.00 WIB)
- sesi III (18.30 – 21.30 WIB)
Acara ini dimeriahkan oleh tokoh-tokoh dan cendikiawan Muslim dan Palestina di antaranya.
Hidayat Nur Wahid (ketua MPR), Adhyaksa Dault (Menteri Pemuda dan Olahraga), Arifin Ilham (pemimpin majelis zikir), Izzatul Islam, Ar-Ruhul Jadid, dan lain-lain.
Wah, kayaknya bakalan rame dan seru nih …
So, buat sobat-sobat yang ngaku Islam dan cinta perdamaian dan kemerdekaan, ini adalah wadah yang tepat untuk menunjukkannya. Mari kita hadir bersama-sama, dan jangan lupa ngajak nyak-babe dan teman-temannya, kakak dan konco-konconya, adik, saudara, tetangga, temannya tetangga, kerabat, dan semuanya deh biar rame … he3x …
Don’t miss it!
14 July 2008
Lesson from the Holy Qur'an
Sebagaimana biasa setiap minggu malam sesudah salat Magrib gue menyempatkan diri bertilawah Al-Qur’an. Demikian pula minggu malam kemarin, gue manfaatkan kesempatan ini untuk sedikit menenangkan hati dan berzikir kepada Allah. Selama gue bekerja memang gue jadi lebih jarang melakukan hal ini. Beda dengan ketika gue masih kuliah dulu yang ngga pernah ketinggalan membaca Al-Qur’an setiap pagi dan petang.
Kalo gue pikir-pikir kebangetan juga ya kalo kita sampe ngga sempet baca Qur’an. Selama 24 jam x 7 hari waktu yang kita punya selama seminggu, masa kita sampe ngga punya waktu untuk baca Qur’an. Sungguh terlalu! Makanya gue usahain banget dalam seminggu itu paling ngga hari sabtu dan minggu untuk baca Qur’an.
Gue jadi inget dalam satu pengajian dikatakan bahwa rasulullah Muhammad saw salat malam sampe bengkak kakinya, saking lamanya dia berdiri ketika salat. Bayangin tiap malem beliau selalu menunaikan salat malam dan menghabiskan sepertiga malam untuk melakukan hal itu. Bandingin dengan kita yang pada saat yang sama dengan sangat khusyunya tidur (kita emang bisa khusyu kalo tidur doang kali ye!) dan terbuai dalam mimpi. Beda banget!
Saat gue baca Qur’an itu, gue sampe ke ayat yang terjemahannya berikut ini.
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal (berperang) itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Dan Allah-lah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS Al-Baqarah: 216)
Setelah selesai baca Qur’an, gue baca lagi terjemahan ayat di atas. Gue pikir-pikir bener juga ya, terkadang kita mengalami keadaan di mana kita malas melakukan sesuatu padahal kita benci atau berat untuk melakukannya. Dan ini banyak gue alami dalam kehidupan sehari-hari. Seolah-olah gue diingatkan melalui ayat ini.
Gue kadang merasakan seolah-olah realitas tidak sejalan dengan keinginan dan cita-cita kita. Gue terkadang melupakan realitas yang ada di hadapan kita, dan terus bermimpi akan sesuatu yang jauh dari jangkauan kita. Terkadang kita membenci realitas yang terjadi. Dalam keadaan ini ada baiknya kita ingat:
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.
Dalam keadaan yang lain, kita terkadang terlena oleh sesuatu yang seolah-olah baik tanpa pernah merenungkannya kembali. Kita hanyut dalam kesenangan yang semu. Di sini ada baiknya kita ingat:
Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
Sesuatu yang baik menurut pandangan kita, bisa jadi tidak bermakna di mata Allah. Jadi, ayat ini seolah-olah mengarahkan kita untuk menjadikan pandangan baik dan buruk berdasarkan pandangan Allah bukan semata-mata datang dari nafsu dan perasaan kita.
Dan Allah-lah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
Dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah, ada baiknya kita selalu mengingat ayat ini. Ayat ini dapat dimaknai secara luas dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kalo gue pikir-pikir kebangetan juga ya kalo kita sampe ngga sempet baca Qur’an. Selama 24 jam x 7 hari waktu yang kita punya selama seminggu, masa kita sampe ngga punya waktu untuk baca Qur’an. Sungguh terlalu! Makanya gue usahain banget dalam seminggu itu paling ngga hari sabtu dan minggu untuk baca Qur’an.
Gue jadi inget dalam satu pengajian dikatakan bahwa rasulullah Muhammad saw salat malam sampe bengkak kakinya, saking lamanya dia berdiri ketika salat. Bayangin tiap malem beliau selalu menunaikan salat malam dan menghabiskan sepertiga malam untuk melakukan hal itu. Bandingin dengan kita yang pada saat yang sama dengan sangat khusyunya tidur (kita emang bisa khusyu kalo tidur doang kali ye!) dan terbuai dalam mimpi. Beda banget!
Saat gue baca Qur’an itu, gue sampe ke ayat yang terjemahannya berikut ini.
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal (berperang) itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Dan Allah-lah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS Al-Baqarah: 216)
Setelah selesai baca Qur’an, gue baca lagi terjemahan ayat di atas. Gue pikir-pikir bener juga ya, terkadang kita mengalami keadaan di mana kita malas melakukan sesuatu padahal kita benci atau berat untuk melakukannya. Dan ini banyak gue alami dalam kehidupan sehari-hari. Seolah-olah gue diingatkan melalui ayat ini.
Gue kadang merasakan seolah-olah realitas tidak sejalan dengan keinginan dan cita-cita kita. Gue terkadang melupakan realitas yang ada di hadapan kita, dan terus bermimpi akan sesuatu yang jauh dari jangkauan kita. Terkadang kita membenci realitas yang terjadi. Dalam keadaan ini ada baiknya kita ingat:
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.
Dalam keadaan yang lain, kita terkadang terlena oleh sesuatu yang seolah-olah baik tanpa pernah merenungkannya kembali. Kita hanyut dalam kesenangan yang semu. Di sini ada baiknya kita ingat:
Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
Sesuatu yang baik menurut pandangan kita, bisa jadi tidak bermakna di mata Allah. Jadi, ayat ini seolah-olah mengarahkan kita untuk menjadikan pandangan baik dan buruk berdasarkan pandangan Allah bukan semata-mata datang dari nafsu dan perasaan kita.
Dan Allah-lah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
Dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah, ada baiknya kita selalu mengingat ayat ini. Ayat ini dapat dimaknai secara luas dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
04 July 2008
Transformasi Lorentz
Gue ngga liqo lagi. Akhirnya, statemen ini keluar juga dari mulut gue. Dengan berat hati dan sejuta perasaan bersalah gue terpaksa mengeluarkan statemen ini. Sebenarnya ngga ada yang salah dengan liqo atau tarbiyah, tapi gue ngga bisa lagi bermuka dua. Di satu sisi mengaku sebagai kader tarbiyah tapi di sisi lain sama sekali tidak menunjukkan diri sebagai kader tarbiyah sejati. Gue emang (kelihatan) alim, ngga pernah ketinggalan salat lima waktu dan sering ke masjid, suka puasa senin kamis, punya istri berjilbab, dan seabrek citra lain yang memungkinkan gue untuk disebut ikhwan. Tapi semua itu ngga cukup untuk dijadikan alasan dan pengakuan bahwa diri gue pantes disebut ikhwan dan bahkan bisa jadi sekedar kamuflase di balik sisi gelap gue yang lain.
Gue yang sekarang ini memang lain dengan gue waktu masih kuliah dulu. Dulu, gue dikenal sebagai cowok yang selalu mengisi hari-hari siang malem dengan aktivitas dakwah dan tarbiyah. Gue yang ngga pernah memandang cewek (akhwat) yang bukan muhrimnya. Gue yang senang mengkaji ilmu al-quran dan menghafalkan al-quran. Gue yang cuma mengenal tiga tempat: kampus, perpustakaan, dan masjid. Cewek dan pacaran adalah dua kata yang bisa membuatnya muntah karena jijiknya. Gue hidup dengan segudang idealisme tanpa pernah melihat realitas yang ada. Saat itulah liqo dan tarbiyah adalah dua kata indah dan wajib dalam hidup gue.
Waktu itu juga segala yang berhubungan dengan musik, nyanyian, dan film gue singkirin dari kamus hidup gue. Karena bagi kami hal itu sia-sia dan maksiat. Sebagai gantinya kami menggelorakan semangat kami melalui nasyid. Itu loh nyanyian tanpa musik yang mengobarkan semangat jihad, atau nyanyian yang hanya diiringi oleh gendang (tapi bukan dangdut ya!). Kami benar-benar menjaga diri kami dari hal-hal yang nyerempet maksiat dan sia-sia.
Itu bisa aja dilakukan waktu gue masih kuliah. Saat di mana kita bisa melakukan apa saja yang kita mau tanpa ada yang bisa menggugat. Mahasiswa gitu loh, apa pun bisa gue lakukan. Persetan dengan dunia dan orang lain. Gue seolah berada di dunia lain, dunia antah berantah yang sangat jauh berbeda dengan dunia tempat kita hidup. Saat itu gue ngga pernah berpikir bahwa gue ngga akan selamanya di kampus dan satu saat akan terjun ke masyarakat. Gue ngga pernah berpikir bahwa gue harus membuka mata terhadap masyarakat sekitar.
Tapi, gue baru sadar saat gue lulus kuliah dan dihadapkan dengan realitas dan dunia nyata. Gue baru agak ngeh dan sadar bahwa selama ini gue bagaikan katak di dalam tempurung. Gue cuma mengenal idealisme sebagai realitas semu tanpa sadar akan realitas yang sesungguhnya.
Saat gue kuliah dulu kebetulan gue tergabung dalam komunitas yang mengusung idealisme yang sama. Kami sangat kuat memegang prinsip dan keyakinan. Maklum, anak kuliah yang sedang on fire. Kami membangun ikatan hati dan ukhuwah dan mematok target besar di masa datang.
Dalam suasana seperti itulah gue memutuskan untuk mencari pendamping hidup yang memiliki kesamaan visi dan pandangan. Waktu itu idealisme gue udah agak menurun karena gue sadar diperlukan sesuatu yang lebih besar dari sekedar idealisme, gue perlu mempertimbangkan masa depan buat keluarga gue.
Masih dalam suasana tarbiyah, gue memilih pendamping hidup gue. Padanya gue menggantungkan masa depan anak-anak gue. Saat inilah gue benar-benar dibenturkan pada dua hal yaitu menjaga prinsip dan keyakinan, dan memperoleh pekerjaan dan karir untuk masa depan keluarga gue. Gue dihadapkan pada kenyataan dimana gue harus memilih menikmati pekerjaan dimana gue harus berhadapan dengan segala risiko dan konsekuensi dari pekerjaan yang terkadang tidak sesuai dengan prinsip kita dan menjaga prinsip dan keyakinan kita dengan kuat.
Akhirnya, gue ngga bisa lagi menjaga prinsip gue dengan teguh dan terbawa pada arus dan kenyataan yang harus gue hadapi. Dan sialnya gue merasa sangat nyaman dengan kondisi ini. Di lain pihak gue jadi merasa asing dengan komunitas yang gue pernah menjadi bagian penting darinya. Gue udah jauh dari aliran dan arus komunitas itu sehingga dengan berat hati gue memutuskan ikatan dengannya.
Saat ini, semua hal yang dulunya tabu dan haram buat gue dengan santainya gue nikmati seolah-olah gue bukan orang yang pernah membenci hal itu. Apakah ini suatu kematangan hidup? ataukah gue yang emang ngga pernah sungguh-sungguh menjalankan kehidupan gue yang dulu itu?
Gue merasa telah mengalami transformasi, yaitu perubahan bentuk dan karakter. Meminjam istilah dalam fisika: transformasi lorentz.
Perlukah gue kembali ke kehidupan gue yang dulu?
To be continued ...
Gue yang sekarang ini memang lain dengan gue waktu masih kuliah dulu. Dulu, gue dikenal sebagai cowok yang selalu mengisi hari-hari siang malem dengan aktivitas dakwah dan tarbiyah. Gue yang ngga pernah memandang cewek (akhwat) yang bukan muhrimnya. Gue yang senang mengkaji ilmu al-quran dan menghafalkan al-quran. Gue yang cuma mengenal tiga tempat: kampus, perpustakaan, dan masjid. Cewek dan pacaran adalah dua kata yang bisa membuatnya muntah karena jijiknya. Gue hidup dengan segudang idealisme tanpa pernah melihat realitas yang ada. Saat itulah liqo dan tarbiyah adalah dua kata indah dan wajib dalam hidup gue.
Waktu itu juga segala yang berhubungan dengan musik, nyanyian, dan film gue singkirin dari kamus hidup gue. Karena bagi kami hal itu sia-sia dan maksiat. Sebagai gantinya kami menggelorakan semangat kami melalui nasyid. Itu loh nyanyian tanpa musik yang mengobarkan semangat jihad, atau nyanyian yang hanya diiringi oleh gendang (tapi bukan dangdut ya!). Kami benar-benar menjaga diri kami dari hal-hal yang nyerempet maksiat dan sia-sia.
Itu bisa aja dilakukan waktu gue masih kuliah. Saat di mana kita bisa melakukan apa saja yang kita mau tanpa ada yang bisa menggugat. Mahasiswa gitu loh, apa pun bisa gue lakukan. Persetan dengan dunia dan orang lain. Gue seolah berada di dunia lain, dunia antah berantah yang sangat jauh berbeda dengan dunia tempat kita hidup. Saat itu gue ngga pernah berpikir bahwa gue ngga akan selamanya di kampus dan satu saat akan terjun ke masyarakat. Gue ngga pernah berpikir bahwa gue harus membuka mata terhadap masyarakat sekitar.
Tapi, gue baru sadar saat gue lulus kuliah dan dihadapkan dengan realitas dan dunia nyata. Gue baru agak ngeh dan sadar bahwa selama ini gue bagaikan katak di dalam tempurung. Gue cuma mengenal idealisme sebagai realitas semu tanpa sadar akan realitas yang sesungguhnya.
Saat gue kuliah dulu kebetulan gue tergabung dalam komunitas yang mengusung idealisme yang sama. Kami sangat kuat memegang prinsip dan keyakinan. Maklum, anak kuliah yang sedang on fire. Kami membangun ikatan hati dan ukhuwah dan mematok target besar di masa datang.
Dalam suasana seperti itulah gue memutuskan untuk mencari pendamping hidup yang memiliki kesamaan visi dan pandangan. Waktu itu idealisme gue udah agak menurun karena gue sadar diperlukan sesuatu yang lebih besar dari sekedar idealisme, gue perlu mempertimbangkan masa depan buat keluarga gue.
Masih dalam suasana tarbiyah, gue memilih pendamping hidup gue. Padanya gue menggantungkan masa depan anak-anak gue. Saat inilah gue benar-benar dibenturkan pada dua hal yaitu menjaga prinsip dan keyakinan, dan memperoleh pekerjaan dan karir untuk masa depan keluarga gue. Gue dihadapkan pada kenyataan dimana gue harus memilih menikmati pekerjaan dimana gue harus berhadapan dengan segala risiko dan konsekuensi dari pekerjaan yang terkadang tidak sesuai dengan prinsip kita dan menjaga prinsip dan keyakinan kita dengan kuat.
Akhirnya, gue ngga bisa lagi menjaga prinsip gue dengan teguh dan terbawa pada arus dan kenyataan yang harus gue hadapi. Dan sialnya gue merasa sangat nyaman dengan kondisi ini. Di lain pihak gue jadi merasa asing dengan komunitas yang gue pernah menjadi bagian penting darinya. Gue udah jauh dari aliran dan arus komunitas itu sehingga dengan berat hati gue memutuskan ikatan dengannya.
Saat ini, semua hal yang dulunya tabu dan haram buat gue dengan santainya gue nikmati seolah-olah gue bukan orang yang pernah membenci hal itu. Apakah ini suatu kematangan hidup? ataukah gue yang emang ngga pernah sungguh-sungguh menjalankan kehidupan gue yang dulu itu?
Gue merasa telah mengalami transformasi, yaitu perubahan bentuk dan karakter. Meminjam istilah dalam fisika: transformasi lorentz.
Perlukah gue kembali ke kehidupan gue yang dulu?
To be continued ...
Subscribe to:
Posts (Atom)
