Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

17 June 2011

Belajar

Mamat: kalo gw sih belajar agama bukan pengen disebut ustad, met ..
Memet: oh gitu .. Lantas??
Mamat: gw belajar agama krn pengen menjadi orang yang bertakwa
Memet: betul itu mat .. Belajar agama adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan
Mamat: agama dipelajari untuk dihayati dan diamalkan
Memet: tapi tetap harus ada orang2 yang scr khusus belajar sekaligus mengajarkan nilai2 agama. Mereka itulah yang sering dipanggil ustad
Mamat: iya met, tapi konsekuensinya berat karena mereka harus bisa mengamalkan apa yang mereka sampaikan
Memet: sepakat mat ..

28 April 2010

Cukup

Sore itu Muthy kedatangan tamu. Adik kelasnya yang kebetulan sedang bersilaturahmi ke rumahnya. Mereka bercengkerama di teras rumah Muthy. Teras rumah Muthy terasa amat teduh dan sejuk sore itu yang diiringi dengan sapuan angin sore yang begitu lembut. Suasana ini begitu tenang setenang hati Muthy dan Kayla, adik kelasnya. Namun, tidak demikian dengan obrolan mereka yang begitu riuh rendah.

Namanya juga ibu-ibu kalo lagi ngobrol dan ngegosip ... seru abis deh. Ditambah lagi dengan tingkah polah bocah-bocah yang sedang bermain di halaman rumah. Suara deraian tawa Muthy diselingi dengan teriakan histeris bocah-bocah yang berlari kesana kemari. Begitu meriah suasana sore yang tenang itu.

"Wah .. mbak Muthy udah enak ya. Punya rumah sendiri. Anak-anaknya dah gede dan lucu-lucu," kata Kayla melihat suasana meriah di rumah Muthy.

"Alhamdulillah udah banyak diberi rizki dan kemudahan dari Allah. Makanya La, nikah donk. Menurut sunah nabi, menikahlah maka kamu akan kaya," kata Muthy menanggapi. "nah, cobalah mengikuti sunah nabi itu." lanjut Muthy.

"Saya sih sebenernya udah pengen mengamalkan sunah nabi itu tapi kok belum berjodoh ya," ujar Kayla. "Makanya saya silaturahmi ke tempat mbak, sekalian nanya-nanya, siapa tau ada udang di balik rempeyek .. he he he .. tau kan maksud saya Mbak," lanjut Kayla mulai mengutarakan maksud-maksudnya yang tersembunyi.

"yes yes I know what you mean," kata Muthy sambil mencoba cas cis cus beringgris ria walaupun masih belepotan. "dont worry be happy ... he he .. eh maksudnya mbak ngerti kok dik," lanjut Muthy.

"sebenarnya mbak punya beberapa kenalan ikhwan, eh kamu mencari yang ikhwan khan," kata Muthy mencoba lebih detil ke masalah yang lebih fokus lagi.

"Ya iya lah Mbak, masa mau sama akhwat ... emang saya cewe apaan ... he he he," kata Kayla. "Saya sih ngga usah muluk-muluk deh mbak asalkan cocok," lanjut Kayla lagi.

"Ha ha .. jadi kamu maunya sama ikhwan yang seperti apa," tanya Muthy kepada Kayla.

"Pertama, dia harus cowok tulen .. hihi .. alias ikhwan. dan ngga gokil .. he he," kata Kayla masih iseng dan bercanda. "Ok deh, saya ngga terlalu masalah sih yang penting cocok dan cukuplah," lanjut Kayla.

"Maksud saya cukup buat beli mobil, cukup buat beli rumah, cukup buat naek haji, he he he ... ada ga yah," kata Kayla sambil cengengesan. "Ga kok Mbak becanda .. tapi kalo ada mau banget tuh ... xixixi," masih dengan ekspresi Kayla yang tanpa beban tapi sedikit konyol.

"Ha ha ... kamu bisa aja. Mau nyari enaknya aja ya. Tapi, jangan khawatir, banyak kok ikhwan yang kayak gitu," kata Muthy sambil tertawa menanggapi guyonan adik kelasnya ini. "Cuma masalahnya ikhwan itu mau ga sama kamu .. he he he," lanjut Muthy.

"Lagipula kayaknya ikhwan yang kayak gitu udah ada yang punya deh .. seperti yayang Mbak," kembali Muthy meneruskan jawaban isengnya kepada Kayla.

"Walah .. bener juga ya Mbak," ujar Kayla sambil tersipu malu.

Derai tawa mereka berdua masih berlangsung sampai saat Kayla pamit untuk pulang. Muthy pun berjanji mencarikan jodoh untuk Kayla, sedangkan Kayla mencoba sabar untuk tetap menunggu keputusan Allah. Karena Kayla sadar keputusan Allah-lah yang terbaik buatnya.

06 January 2010

change

Now, we’re here in a new year. Time when we can reflect about what we already done in the past. And at the same time it’s a time for us to make a new perspective about things that we can do in the future.

The word that can reflect about our resolution or plan in this new year is change. The change is a suitable word that describe about us and the world around us. We have to realize that the world around us are always change and it’s very dynamize. The world around us will always change time to time.

The things around us are not a static thing. New technology discover and produce from to time. New concept and method always establish every day. These things are change our life and our thinking and will advancing our quality of life.

It’s us who must follow the world around us. And, it’s not them who will follow us. So, we must change. change to be a better person who always suitable with the time we live and suitable with the world around us.

I also post this article at kompasiana
http://ekstra.kompasiana.com/group/english/2010/01/02/change/

17 July 2009

Isra Mi’raj, Al-Quds, dan Palestina

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

(QS Al-Isra atau surat Bani Israil (17): 1)

Tahukah kamu bahwa saat ini kita telah berada di bulan Rajab dalam kalender Hijriah? Ada apa dengan bulan Rajab? Masih ingatkah kita kepada saudara-saudara muslim kita di Palestina? Apa hubungannya bulan Rajab dengan Palestina dan Al-Quds?

Ayat di atas banyak diperdengarkan di saat-saat ini di bulan Rajab ini, baik di masjid-masjid maupun di pengajian-pengajian. Ayat ini memang bercerita tentang suatu kejadian penting yang terjadi di bulan Rajab, suatu keajaiban dan mukjizat yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw.

Ya, peristiwa itu adalah Isra dan Miraj yang dialami oleh Baginda Nabi. Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa telah menunjukkan kebesaran dan mukjizatnya dengan memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di kota Mekah (sekarang termasuk dalam negara Arab Saudi) ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dua tempat ini berjarak ratusan kilometer dan memakan waktu berhari-hari untuk mencapainya dalam satu perjalanan yang dilakukan saat itu, zaman di mana kuda dan onta adalah satu-satunya kendaraan yang tersedia. Dan, Nabi Muhammad saw hanya memerlukan waktu beberapa detik saja untuk melakukannya tentunya atas izin dan kekuasaan Allah swt.

Saya tidak ingin membahas bagaimana kekuasaan Allah itu dapat terjadi atau bagaimana bentuk buraq, binatang yang ditunggangi Nabi Muhammad dalam perjalanan itu. Saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana nasib bangsa Palestina yang saat ini masih terlunta-lunta. Padahal dalam ayat di atas disebutkan dengan jelas bahwa

“… yang telah Kami berkahi sekelilingnya …”

Allah telah menyatakan bahwa negeri-negeri di sekitar Masjidil Aqsha merupakan tempat yang diberkahi-Nya. Semestinya Palestina adalah negeri yang penuh berkah di mana di sana berdiri dengan kokoh Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam (udah pada tau khan?). Tapi, apa yang terjadi saat ini? Palestina hanyalah sebuah negeri yang penuh dengan noda darah, air mata, dan perpecahan, yang selalu disebut-sebut sebagai sarang teroris oleh barat (AS dan sekutunya).

Boleh jadi, zionis yahudi dan sekutunya lebih memahami ayat ini sehingga mereka memilih palestina sebagai tempat berdirinya negara Israel. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa tanah Palestina yang diberkahi itu dijadikan target dan tempat berdirinya negara Israel. Bisa jadi kaum Yahudi memang dari awal telah mengetahui bahwa Palestina memang tempat yang sangat strategis dan merupakan pusat dari pusaran konstelasi dunia. Dengan menempatkan Israel menduduki wilayah Palestina, Yahudi dan zionis Israel mempunyai posisi strategis di dunia. Dan, dengan mudah mereka bersama dengan sekutu-sekutunya memainkan kendali atas umat Islam secara global. Ini perlu disadari kembali oleh seluruh umat Islam di dunia.

Keberadaan Israel dan Zionis yang menduduki wilayah Palestina memang amat merugikan posisi umat Islam dalam konstelasi politik dunia. secara geografis dan politik Israel telah melemahkan posisi umat Islam yang membuat perpecahan yang berlarut-larut di wilayah timur tengah yang efeknya melemahkan kekuatan Islam secara global di seluruh dunia.

Telah terbukti bahwa wilayah Timur tengah merupakan kawasan petro dolar dimana minyak telah menjadi komoditas yang telah membuat para pembesar kerajaan di wilayah itu hidup dalam kegelimangan harta dan pundi-pundi dolar. Namun, ada satu tugas besar yang telah dilupakan, yaitu keberadaan zionis Israel yang pada dasarnya telah melemahkan kekuatan umat Islam secara global. selama Israel masih mengangkangi wilayah Palestina, selama itu pula kekuatan dan keberkahan Islam yang telah dijanjikan Allah tidak akan terwujud secara nyata.

Saya pikir bulan Rajab ini dan lebih khusus lagi peringatan Isra Miraj yang sebentar lagi akan kita jalani (tanggal 27 Rajab bertepatan dengan tanggal 18 Juli 2008 (?), saya agak bingung nih karena di kalender tanggal merahnya hari senin tgl 20 Juli), adalah momen yang sangat tepat untuk mengingat kembali bahwa masih ada tugas kita sebagai seorang Muslim untuk ikut merasakan dan membantu penderitaan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara di Palestina.

tulisan ini juga diposting di kompasiana.com

http://public.kompasiana.com/2009/07/17/isra-miraj-al-quds-dan-palestina/

15 December 2008

No body care about her

Seperti biasa, malam itu saya sedang duduk dengan nyaman di dalam sebuah bus ukuran ¾ jurusan Depok Timur. Kali ini saya cukup beruntung karena mendapat bus yang masih baru dan lumayan bagus dan nyaman dengan ruang antartempat duduk yang lega, biasanya bus-bus jurusan depok timur-kp rambutan diisi oleh jajaran bus tua berbentuk kotak sabun yang kurang layak ditumpangi.

Saya naik bus ini di daerah Pasar Rebo di saat bus masih kosong belum terisi banyak orang. Bus ini biasanya akan ngetem di halte dekat fly over Pasar Rebo ke arah Cijantung dan baru akan jalan setelah bus terisi penuh penumpang.

Saya sengaja memilih tempat duduk di deretan kanan baris ketiga di pojok dekat jendela dan duduk dengan nyaman di sana. Karena masih kosong, saya punya banyak pilihan dan kebetulan posisi ini adalah favorit saya, di pojok dekat jendela. Posisi ini favorit karena saya bisa “bebas dari gangguan” yang sewaktu-waktu bisa saja datang (Saya berharap tidak ada ibu-ibu membawa anak, nenek-nenek, atau wanita hamil yang akan naik).

“Depok Timur, Cisalak, Simpangan” terdengar teriakan calo di halte.

Satu per satu penumpang naik mengisi tempat duduk yang masih kosong. Seorang bapak-bapak duduk di sebelah saya, dan langsung menutup jendela yang sebelumnya memang sengaja saya buka lebar-lebar. Jendela ini memang sengaja saya buka lebar biar udara segar di luar yang habis tersiram hujan bisa masuk, AC alam gitu loh. Dalam hati saya bergumam, “ngga sopan nih orang ngga boleh orang senang ya.” Tapi, saya diam aja sambil berpikir positif, mungkin saja orang ini sedang kurang enak badan.

“Depok Timur, kosong kosong langsung berangkat yang mau cepat,” terdengar lagi teriakan sang calo tanpa melihat bahwa bus sudah terisi penuh tanpa ada bangku kosong.

Bus pun melaju setelah terisi penuh penumpang. Saya pun menyandarkan kepala dengan nyaman dan mencoba memejamkan mata. Mumpung busnya nyaman, saya mencoba menikmati perjalanan ini dengan sejenak memejamkan mata melepas lelah.

Mata saya sedang setengah terpejam saat secara samar-samar saya melihat seorang ibu sambil menggendong anak naik ke atas bus yang sedang saya tumpangi. Wah, akhirnya kekhawatiran gue terjadi juga. Apakah saya akan meninggalkan kenyamanan ini dan memberikan tempat duduk saya kepada ibu yang baru naik ini? dalam hati saya bimbang.

Meskipun ibu ini terlihat cukup kuat dan tabah, saya merasa kasihan juga. Saya mencoba membela diri, saya juga membawa tas yang cukup berat, jadi saya berhak dengan tempat duduk ini. saya menunggu reaksi penumpang lain, siapa tahu ada yang berbaik hati memberikan tempat duduknya yang nyaman kepada ibu yang sedang menggendong anak ini. tapi, saya hanya bisa berharap.

Saya melihat penumpang yang duduk, kebanyakan mereka duduk dengan mata terpejam (atau sengaja memejamkan mata walaupun sebenarnya ngga ngantuk).

Saya benar-benar ngga tega. Akhirnya, saya pun berdiri sambil mencolek pundak ibu itu seraya memberikan tempat duduk yang sebelumnya saya duduki tanpa melihat ke belakang. Tapi, tanpa diduga dari belakang saya datang ibu yang lain langsung menyerobot duduk di tempat yang akan saya berikan kepada ibu yang menggendong anak tadi.

Saya benar-benar ngga menduga kejadian ini. ibu yang menggendong anak pun terlihat terkejut tapi ngga bisa berbuat apa-apa. Ibu itu tetap berdiri dengan tegar sambil menggendong anaknya yang mulai terlelap pulas. Sejenak saya bingung, ngga bisa berpikir. Saya juga melihat penumpang lain, sama sekali ngga ada perhatian. Seolah-olah ngga terjadi apa-apa.

Entah apa yang ada di kepala ibu yang menyerobot duduk ataupun ibu yang menggendong anak. Ibu yang menggendong anak tampaknya sebel tapi ngga bisa berbuat apa-apa. Ibu yang menyerobot duduk tenang-tenang saja di tempat duduknya tanpa merasa bersalah.

Penumpang yang lain pun tampak ngga peduli, tetap di bangkunya yang nyaman. Aneh, apa mereka ngga malu dengan dirinya sendiri membiarkan seorang ibu berdiri dengan menggendong anak? Apa mereka ngga berpikir, bagaimana kalo yang berdiri itu istrinya sendiri, ibunya yang sewaktu muda menggendong dirinya saat masih kecil, atau dirinya sendiri menggendong anaknya?

No body care about her …

Saya masih bingung dengan keadaan ini. udah tujuan saya memberi tempat duduk kepada ibu itu ngga tercapai, sekarang saya pun harus susah payah berdiri dengan memikul tas ransel saya yang lumayan berat.

Cukup lama saya berada dalam kebingungan dengan pikiran yang agak kacau, sampai akhirnya saya memberanikan diri berbicara kepada ibu yang menyerobot itu yang masih duduk dengan tenang.

“Maaf bu, tadi maksud saya mau memberikan tempat duduk ini untuk ibu itu,” ujar saya dengan hati-hati sambil menunjuk kepada ibu yang berdiri menggendong anak.

“oh begitu,” jawab ibu yang duduk itu seraya berdiri dan mulai menyadari maksud saya tadi. Saya pun kembali menawarkan tempat duduk ini yang sudah kosong kepada ibu yang menggendong anak tadi.

“maaf, Mas. Ngga apa-apa saya berdiri aja,” ujarnya dengan tegas cenderung ketus tanpa menengok dengan nada datar yang dicoba untuk tegar dan sabar yang terasa bagai cubitan pada kulit saya.

Tampaknya memang terlambat buat saya untuk membuatnya menerima kebaikan hati saya. Tampaknya dia sudah menetapkan, saya bisa kok berdiri tanpa perlu bantuan tempat duduk dari anda. Hatinya sudah bulat untuk tetap berdiri dan tegar tanpa perlu bantuan dari kami yang sombong ini. sikap tegasnya ini saya pikir bukan ditujukan kepada saya semata melainkan untuk sikap cuek dan ngga peduli semua penumpang bus ini dan terlebih kepada ibu yang telah menyerobot tempat duduk tadi.

Perasaan saya ngga menentu, ada rasa iba, jengkel, kesel, dan perasaan bersalah bercampur menjadi satu.

Saya mencoba memahami keadaan ini. penumpang bus yang nyaman dengan tempat duduknya tanpa peduli dengan orang lain sampai-sampai membiarkan seorang ibu yang menggendong anak berdiri dengan susah payah. Seorang ibu yang lain yang tanpa merasa bersalah menyerobot tempat duduk yang bukan untuknya. Seorang ibu yang mencoba tegar dan tidak bergantung kepada kebaikan orang lain. Saya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Sebuah pelajaran berharga yang saya dapat malam itu.

04 August 2008

... Mereka Hidup di sisi Tuhannya Mendapat Rezki

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.

(QS Ali Imran: 169)

Atas takdir Allah kaum muslimin dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka dipertemukan dengan musuh mereka (orang-orang kafir) dalam suatu peperangan besar. Tidak ada pilihan lain bagi kaum muslimin kecuali menghadapi peperangan ini, sebagai bagian dari komitmen mereka kepada Allah dan rasul-Nya.

Tapi ada sebagian dari kaum muslimin yang menolak perintah ini. Mereka adalah orang-orang munafik yang dengan segala macam alasan tidak ikut berperang menghadapi orang kafir.

Dan, pada perang Uhud itu, kaum muslimin mengalami kekalahan akibat kelalaian mereka sendiri.

Orang-orang munafik (yang tidak ikut berperang) ini mengatakan kepada saudara-saudara mereka, “andaikan kalian tidak ikut berperang, tentu kalian tidak akan terbunuh dalam peperangan ini.”

Maka Allah menjawab celaan orang-orang munafik ini melalui ayat di atas.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”

Inilah sekelumit kisah dalam Al-quran yang mengandung banyak hikmah. Orang-orang munafik mengira bahwa orang-orang yang mati dalam peperangan (jihad) adalah sesuatu yang sia-sia. Dan bisa jadi pola pikir seperti ini yang ada dalam pikiran kita semua. Tapi Allah yang Maha Besar memiliki pandangan lain bahwa sesungguhnya orang-orang yang gugur di jalan Allah tidaklah mati tetapi hidup di sisi Allah dengan mendapatkan rezki dari Allah.

Tidakkah kita menginginkan hal ini, hidup di sisi Allah dengan segala kenikmatan dan rezki-Nya? Sesungguhnya inilah kenikmatan terbesar dan hakiki bagi kita. Dan Allah telah membuka jalan bagi kita semua untuk dapat meraihnya, yaitu dengan cara berjuang di jalan Allah. Pada zaman rasul, ini bisa diwujudkan dengan berperang melawan musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang kafir.

Bagaimana mewujudkan hal ini di zaman sekarang yang berbeda dengan kondisi pada zaman Rasul? Tentu saja kita tidak bisa menyamakan kondisi pada zaman Rasul dengan kondisi sekarang. Kita tidak bisa melakukan perang secara terbuka dengan orang kafir sebagaimana Rasul bersama kaum muslimin melakukannya pada masa lalu.

Perjuangan yang kita lakukan saat ini secara fisik tentu saja tidak sama dengan perjuangan dan jihad pada masa Rasul. Bagi mereka di Palestina, berjuang melawan penjajah Israel adalah jihad mereka. Dan, mereka wajib melakukannya. Tapi, bagi kaum muslimin di AS atau di Eropa, tentu saja tidak bisa melakukan perjuangannya dengan berperang melawan orang-orang kafir. Mereka melakukannya dengan syiar dan dakwah Islam. Begitu bukan?

Begitu juga perjuangan umat Islam di Indonesia (seperti kita, kita … lu kali …) tentu saja memiliki bentuk perjuangannya sendiri. Banyak yang bisa kita lakukan. Kita bisa melakukan banyak hal dalam memperjuangkan Islam.

Waktu gue kuliah dulu, gue menafsirkan berjuang di jalan Allah baik dengan melakukan aktivitas dakwah dalam organisasi di kampus maupun melalui pendekatan personal kepada orang-orang yang kita kenal. Idealisme kami waktu itu adalah ingin menegakkan syariat Islam di kampus. Tentu saja ini sungguh mulia.

Namun, saat ini ketika gue sudah lulus dari kampus dan berada di dunia kerja yang wilayahnya lebih luas, gue dihadapkan pada sesuatu yang berbeda. Gue, dan mungkin semua rekan-rekan yang berpandangan sama dengan gue, dihadapkan pada bentuk perjuangan yang lain dimana terjadi banyak benturan antara idealisme dan realitas, di saat kita harus memilih dua pilihan yang kadang bertentangan tapi mempunyai efek yang sama terhadap kita, dan di saat kematangan dan kedewasaan pikiran dituntut.

Gue yang merasa telah berbuat banyak ketika melakukan aktivitas di kampus, baru disadarkan pada realitas sesungguhnya di hadapan gue. Ternyata semua yang gue lakukan di kampus tidak ada apa-apanya. Bahwa perjuangan baru saja dimulai, perjuangan sesungguhnya di dunia yang sangat luas.

Mari kita renungkan firman allah, “… bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya akan melihat pekerjaan kamu …” saat ini kita dituntut untuk menunjukkan sejauh mana kita berbuat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dengan “bekerja” itulah kita berjuang di jalan Allah. Tentu saja bekerja disini mempunyai makna yang sangat luas. Dengan bekerja kita dapat bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana dalam suatu hadis “sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat buat orang lain”.

Tidakkah kita menginginkan menjadi orang atau hamba yang terbaik di mata Allah dan mendapatkan kenikmatan hidup di sisinya pada kedudukan yang mulia dengan mendapat berkah dan rezki-Nya?

Semoga! amin

28 July 2008

Memaknai Isra Miraj

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

(QS Al-Isra atau surat Bani Israil (17): 1)

Tahukah kamu bahwa saat ini kita telah berada di bulan Rajab dalam kalender Hijriah? Ada apa dengan bulan Rajab? Masih ingatkah kita kepada saudara-saudara muslim kita di Palestina? Apa hubungannya bulan Rajab dengan Palestina dan Al-Quds?

Ayat di atas banyak diperdengarkan di saat-saat ini di bulan Rajab ini, baik di masjid-masjid maupun di pengajian-pengajian. Ayat ini memang bercerita tentang suatu kejadian penting yang terjadi di bulan Rajab, suatu keajaiban dan mukjizat yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw.

Ya, peristiwa itu adalah Isra dan Miraj yang dialami oleh Baginda Nabi. Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa telah menunjukkan kebesaran dan mukjizatnya dengan memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di kota Mekah (sekarang termasuk dalam negara Arab Saudi) ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dua tempat ini berjarak ratusan kilometer dan memakan waktu berhari-hari untuk mencapainya dalam satu perjalanan yang dilakukan saat itu, zaman di mana kuda dan onta adalah satu-satunya kendaraan yang tersedia. Dan, Nabi Muhammad saw hanya memerlukan waktu beberapa detik saja untuk melakukannya tentunya atas izin dan kekuasaan Allah swt.

Saya tidak ingin membahas bagaimana kekuasaan Allah itu dapat terjadi atau bagaimana bentuk buraq, binatang yang ditunggangi Nabi Muhammad dalam perjalanan itu. Saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana nasib bangsa Palestina yang saat ini masih terlunta-lunta. Padahal dalam ayat di atas disebutkan dengan jelas bahwa

“… yang telah Kami berkahi sekelilingnya …”

Semestinya Palestina adalah negeri yang penuh berkah di mana di sana berdiri dengan kokoh Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam (udah pada tau khan?). Tapi, apa yang terjadi saat ini? Palestina hanyalah sebuah negeri yang penuh dengan noda darah, air mata, dan perpecahan, yang selalu disebut-sebut sebagai sarang teroris oleh barat (AS dan sekutunya).

Saya pikir bulan Rajab ini dan lebih khusus lagi peringatan Isra Miraj yang sebentar lagi akan kita jalani (tanggal 27 Rajab bertepatan dengan tanggal 30 Juli 2008), adalah momen yang sangat tepat untuk mengingat kembali bahwa masih ada tugas kita sebagai seorang Muslim untuk ikut merasakan dan membantu penderitaan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara di Palestina. Siapa lagi yang dapat membantu perjuangan Palestina kalau bukan kita sebagai saudara sesama muslim. Siapapun mereka, apabila mereka mengucapkan syahadat maka mereka adalah saudara kita.

Sebagai bentuk solidaritas dan kesetiakawanan kepada sesama muslim di Palestina, mari kita bergabung bersama dalam acara

KONSER KEMANUSIAAN UNTUK KEMERDEKAAN RAKYAT PELESTINA

Yang akan diselenggarakan pada

Ahad, 6 Agustus 2008 di Tennis Indoor Senayan

Acara ini dibagi menjadi tiga sesi
- sesi I (09.00 – 12.00 WIB)
- sesi II (13.00 – 16.00 WIB)
- sesi III (18.30 – 21.30 WIB)

Acara ini dimeriahkan oleh tokoh-tokoh dan cendikiawan Muslim dan Palestina di antaranya.

Hidayat Nur Wahid (ketua MPR), Adhyaksa Dault (Menteri Pemuda dan Olahraga), Arifin Ilham (pemimpin majelis zikir), Izzatul Islam, Ar-Ruhul Jadid, dan lain-lain.

Wah, kayaknya bakalan rame dan seru nih …

So, buat sobat-sobat yang ngaku Islam dan cinta perdamaian dan kemerdekaan, ini adalah wadah yang tepat untuk menunjukkannya. Mari kita hadir bersama-sama, dan jangan lupa ngajak nyak-babe dan teman-temannya, kakak dan konco-konconya, adik, saudara, tetangga, temannya tetangga, kerabat, dan semuanya deh biar rame … he3x …

Don’t miss it!

14 July 2008

Lesson from the Holy Qur'an

Sebagaimana biasa setiap minggu malam sesudah salat Magrib gue menyempatkan diri bertilawah Al-Qur’an. Demikian pula minggu malam kemarin, gue manfaatkan kesempatan ini untuk sedikit menenangkan hati dan berzikir kepada Allah. Selama gue bekerja memang gue jadi lebih jarang melakukan hal ini. Beda dengan ketika gue masih kuliah dulu yang ngga pernah ketinggalan membaca Al-Qur’an setiap pagi dan petang.

Kalo gue pikir-pikir kebangetan juga ya kalo kita sampe ngga sempet baca Qur’an. Selama 24 jam x 7 hari waktu yang kita punya selama seminggu, masa kita sampe ngga punya waktu untuk baca Qur’an. Sungguh terlalu! Makanya gue usahain banget dalam seminggu itu paling ngga hari sabtu dan minggu untuk baca Qur’an.

Gue jadi inget dalam satu pengajian dikatakan bahwa rasulullah Muhammad saw salat malam sampe bengkak kakinya, saking lamanya dia berdiri ketika salat. Bayangin tiap malem beliau selalu menunaikan salat malam dan menghabiskan sepertiga malam untuk melakukan hal itu. Bandingin dengan kita yang pada saat yang sama dengan sangat khusyunya tidur (kita emang bisa khusyu kalo tidur doang kali ye!) dan terbuai dalam mimpi. Beda banget!

Saat gue baca Qur’an itu, gue sampe ke ayat yang terjemahannya berikut ini.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal (berperang) itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Dan Allah-lah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
(QS Al-Baqarah: 216)

Setelah selesai baca Qur’an, gue baca lagi terjemahan ayat di atas. Gue pikir-pikir bener juga ya, terkadang kita mengalami keadaan di mana kita malas melakukan sesuatu padahal kita benci atau berat untuk melakukannya. Dan ini banyak gue alami dalam kehidupan sehari-hari. Seolah-olah gue diingatkan melalui ayat ini.

Gue kadang merasakan seolah-olah realitas tidak sejalan dengan keinginan dan cita-cita kita. Gue terkadang melupakan realitas yang ada di hadapan kita, dan terus bermimpi akan sesuatu yang jauh dari jangkauan kita. Terkadang kita membenci realitas yang terjadi. Dalam keadaan ini ada baiknya kita ingat:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.

Dalam keadaan yang lain, kita terkadang terlena oleh sesuatu yang seolah-olah baik tanpa pernah merenungkannya kembali. Kita hanyut dalam kesenangan yang semu. Di sini ada baiknya kita ingat:

Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.

Sesuatu yang baik menurut pandangan kita, bisa jadi tidak bermakna di mata Allah. Jadi, ayat ini seolah-olah mengarahkan kita untuk menjadikan pandangan baik dan buruk berdasarkan pandangan Allah bukan semata-mata datang dari nafsu dan perasaan kita.

Dan Allah-lah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

Dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah, ada baiknya kita selalu mengingat ayat ini. Ayat ini dapat dimaknai secara luas dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.