21 May 2008

Welcome to Mt. Bromo (Bagian 3)

Hari ini, selasa 20 mei, bertepatan dengan hari waisak sehingga ditetapkan sebagai hari libur nasional. Tanggal 20 mei juga diperingati sebagai hari kebangkitan nasional dan kebetulan tahun ini memasuki usia peringatan 100 tahun. Mumpung lagi libur nih, gue jadi punya waktu untuk ngelanjutin petualangan gue di Gunung Bromo.

Sebelumnya gue udah cerita bagaimana gue bertiga bisa sampai ke Bromo dengan rada nekat karena persiapan yang gue bawa kurang memadai buat perjalanan seberat itu. Waktu itu gue bertiga cuma dilengkapi dengan kaus, celana panjang, dan jaket tipis. Padahal di Bromo cuaca sangat dingin, namanya juga di daerah pegunungan gitu loh. Trus juga gue bertiga harus nginap semalem di sana untuk menunggu sunrise atau matahari terbit esok hari. Tapi, gilanya gue bertiga ngga bawa persiapan buat bermalam, yang kami bawa saat itu jas hujan (buat jaga-jaga kalo turun hujan) dan terpal buat alas tidur. Tapi emang kita bertiga rada nekat, kita terus jalan aja dan ngga mikir panjang yang penting sampe dulu di tempat tujuan. Setelah itu baru deh dipikirin lagi gimana selanjutnya. Benar-benar anak-anak muda yang nekat.

Dari tempat pemberhentian angkutan terakhir, kami memutuskan berjalan kaki menuju ke Bromo. Jaraknya masih lumayan jauh lebih kurang lima kilometer. Saat itu malam sudah datang dan hari sudah gelap. Kami dihadang oleh jalanan yang berkelok-kelok dan menanjak. (Ya iyalah, namanya juga gunung pasti jalannya nanjak.) Jalan yang harus kami lalui memang jalan yang bisa dilalui kendaraan, tapi hanya kendaraan jip aja yang bisa lewat karena curamnya tanjakan di jalan ini. Jadi, enaknya kami ngga harus melalui jalan setapak yang kecil layaknya naik gunung yang beneran. Jalan ini biasanya dilalui oleh jip yang mengangkut penumpang ke atas. Tapi berhubung kami ingin menghemat ongkos, kami berjalan kaki aja melalui jalan ini. Dengan semangat 45 kami terus berjalan sampai akhirnya kami kecapean juga. Belum sampe satu jam berjalan, kaki udah terasa berat dan pegal-pegal. Di sini kami mulai berpikir apa bisa ya kami sampai ke atas. Mau balik lagi ngga mungkin, tapi mau terus ke atas juga berat banget rasanya. Sambil diselingi dengan istirahat beberapa kali, kami terus berjalan mendaki untuk sampai ke Bromo. Setelah lebih kurang 3 jam berjalan dan dengan napas yang ngos-ngosan sampailah kami di pintu gerbang untuk memasuki gunung Bromo. Secercah harapan mulai membuncah dan sedikit perasaan lega menjalar di hati kami. Tinggal sedikit perjuangan lagi untuk sampai di tempat tujuan, demikian pikir kami.

Tapi ini baru permulaan, man. Perjalanan belum berhenti sampai di sini.

Di tempat ini banyak berdiri hotel dan villa atau tempat peristirahatan sebagaimana yang kami lihat. Tampak juga beberapa toko makanan dan rumah makan berdiri di sini. Tampaknya, tempat ini memang sengaja dibuat sebagai tempat transit untuk mencapai gunung Bromo. Karena saat itu sudah malam, tidak banyak aktivitas yang bisa kami lihat di situ. Dari sini kami harus berjalan lagi untuk sampai di gunung Bromo. Tempat ini terletak di atas bukit. Jadi, kami harus turun ke bawah menuruni lereng untuk sampai ke wilayah yang dinamakan segara wedi atau lautan pasir. Ya, lautan pasir memang sebutan yang cocok karena daerah ini merupakan hamparan padang pasir yang luas. Dan Gunung Bromo berada di tengah-tengah lautan pasir ini. Perjalanan masih panjang, man!

Eit, tunggu dulu. Kami bertiga tidak langsung jalan mengarungi padang pasir untuk sampai ke Bromo. Berhubung saat itu sudah larut malam, kami harus bermalam dan menunggu datangnya pagi hari. Tujuan orang ke Bromo biasanya untuk melihat sunrise dan itu bisa dilihat di pagi hari. Jadi, semua orang harus menunggu sampai esok hari untuk melanjutkan perjalanan ke Bromo. Sekarang, saatnya mencari tempat beristirahat dan menunggu datangnya pagi.

Udara di malam itu sangat tipis dan dingin. Angin kencang yang menderu-deru menambah dinginnya malam itu. Bayangin aja di gunung, malam-malam, dan dengan angin yang bertiup kencang. Suhunya gue taksir bisa sampe 10o celsius kali. Padahal saat itu kami bertiga ngga ada yang pake jaket tebal dan perlengkapan lainnya. Kebayang kan gimana keadaan kami bertiga saat itu, menggigil kedinginan. Gue sendiri udah ngerasain tangan dan jari-jari gue udah kaku ngga bisa digerakin. Baru deh saat ini kita nyesel karena ngga nyiapin perjalanan ini dengan baik. Tapi ya emang dasar nekat kita coba ngelawan rasa dingin ini semampu kita. Untuk sedikit menghangatkan badan, kita coba membuat api unggun dengan persediaan parafin yang kita bawa. Api unggun menyala dengan bantuan kayu-kayu yang kita kumpulkan. Kami juga memanfaatkan api unggun untuk membuat air panas. Ini sedikit memberikan rasa hangat. Namun, keadaan ini bertahan selama kurang lebih satu jam saja. Dengan habisnya parafin, api unggun yang kami buat juga semakin kecil dan akhirnya padam. Kami perlu cara lain untuk melawan rasa dingin ini. Malam yang sangat panjang …

Malam semakin larut dan udara bertambah dingin. Kami masih bertahan di sani melawan rasa dingin demi menikmati sunrisenya Bromo keesokan harinya. Kami memutuskan mencari tempat yang lebih baik untuk melawan rasa dingin ini. Awalnya kami bertiga mencari tempat di dekat lautan pasir. Setelah persediaan parafin kami habis ngga mungkin kami bertahan di sana. Dan kami naik lagi ke tempat pertama kali sampai di sana yang terdapat banyak warung dan rumah makan. Kami berharap ada warung yang buka sehingga kami bisa menumpang sambil membeli beberapa makanan. Ternyata warung-warung itu tidak buka (karena memang udah larut malam). Kami terus mencari, sampai akhirnya kami menemukan sebuah pos ronda yang sedang ditempati oleh dua orang yang sedang jaga. Hati kami sangat gembira. Setelah meminta ijin kami diperbolehkan menumpang di sana dan memang orang tersebut dengan senang hati mengajak kami bergabung. Jadilah kami bertiga duduk di pos jaga ikut bergabung dengan orang yang sedang berjaga di sana. Dan untungnya orang yang di pos ronda itu sedang menyalakan api unggun. Thanks God, paling tidak kami bisa sedikit menghangatkan badan dan melawan rasa dingin ini.

Akhirnya malam yang panjang itu kami habiskan di sini, di pos jaga, ditemani oleh hangatnya api unggun. Gue ngga habis-habisnya mengucap rasa syukur bisa berada di pos jaga ini di malam panjang yang sangat dingin ini. Ngga kebayang deh kalo gue ngga menemukan pos jaga ini dan tetap bertahan dalam dinginnya malam itu. Bisa-bisa gue bertiga mati kedinginan kali. Di sini juga kami bisa bertanya kepada penjaga malam itu tentang suasana di Bromo. Tak lupa kita juga kita menceritakan tujuan kita ke sini untuk melihat sunrise. Penjaga malam itu tidak kaget dengan cerita kami karena memang dia sudah sering menemui mahluk-mahluk nekat seperti kami ini sebelumnya. Penjaga malam itu sendiri, di malam yang menurut kami sangat dingin ini, hanya mengenakan pakaian biasa yang hanya dilengkapi dengan kain sarung yang diselempangkan di leher. Ini memang pakaian khas suku tengger, penghuni tetap wilayah tersebut. Gunung Bromo berada di wilayah pegunungan Tengger. Sebagai penghuni wilayah tersebut, mereka memang sudah terbiasa dengan hawa dingin di wilayah ini.

Rasa lelah setelah berjalan mendaki dan rasa kantuk tidak kami rasakan lagi digantikan oleh rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Kami coba pejamkan mata namun tak jua terpejam. Hanya satu keinginan kami malam itu, segeralah waktu berlalu dan datanglah pagi hari.

Gelap masih menyelimuti, saat suasana terdengar agak ramai. Ya, suasana saat itu agak ramai dan banyak orang yang hilir mudik di sekitar tempat itu. Barulah kami sadar ini waktu untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Waktu saat itu menunjukkan pukul dua dini hari. Ini memang saat untuk berjalan ke Gunung Bromo di mana kita bisa menikmati indahnya sunrise. Ternyata banyak orang juga orang yang punya tujuan sama dengan kami. Mereka kebanyakan menyewa hotel malam itu dan melanjutkan perjalanan di dini hari ini. Banyak juga di antara mereka adalah turis asing. Dan gilanya mereka cuma pake kaus oblong dan celana pendek di pagi buta yang sangat dingin ini, di saat kami bertiga hampir mati kedinginan. Gila bener, gumam gue dalam hati.

Seperti yang gue bilang sebelumnya, untuk sampai ke gunung Bromo kita harus melewati lautan pasir, suatu wilayah yang berupa hamparan pasir yang sangat luas. Tidak banyak yang kami lihat selama perjalanan karena hari masih gelap saat itu. Kami hanya terus berjalan mengikuti orang-orang dengan satu tekad yang sama, sampai ke Gunung Bromo dan melihat sunrise. Keadaan kami sudah agak baik saat itu karena sekarang kami tidak sendirian, banyak orang yang punya tujuan sama dengan kami. Setelah sepanjang malam itu kami berkutat dengan rasa dingin dan ketidakjelasan nasib kami selanjutnya, kami merasa sangat lega saat itu. ini berarti kami sudah sangat dekat dengan tujuan akhir kami.

Setelah lebih kurang satu jam menempuh hamparan pasir segara wedi, sampailah kami di kaki gunung Bromo. Hati kami sangat lega dan seolah beban berat yang kami pikul sepanjang malam ini sudah hilang. Thanks God, finally our destination found.

Dari kaki gunung Bromo ini kita harus naik ke puncak melalui tangga yang sudah tersedia. Tempat ini sudah dipenuhi banyak orang. Sepertinya memang waktu pagi buta ini adalah waktu kerja di wilayah itu. Warung-warung makan tersedia sebagaimana tempat rekreasi lainnya. Kami terus naik ke puncak Bromo melalui tangga yang tersedia. Sesampainya di puncak, suasana ramai masih terasa. Di sini semua orang menunggu datangnya waktu matahari terbit. Semua sudah siap dengan kamera di tangan untuk mengabadikan momen yang langka ini. Kami harus hati-hati di puncak ini karena kawah Bromo menganga di hadapan kami dan angin masih bertiup sangat kencang.

Perjalanan panjang nan melelahkan sepanjang malam ini tidaklah sia-sia saat kami akhirnya bisa menikmati keindahan sunrise di pagi hari itu. Rasa lelah dan dingin tidak lagi kami rasakan saat menikmati indahnya matahari terbit gunung Bromo yang terkenal itu. Rasa puas dan bangga menghinggapi hati kami saat itu karena dengan segenap perjuangan kami akhirnya bisa berada di tempat itu dan menikmati suasana yang langka dan jarang kita alami ini. Akhirnya kami punya cerita yang bisa kami bawa pulang dan terus dikenang sepanjang waktu. Setelah mengambil beberapa gambar kami mengakhiri perjalanan kami dan kembali ke Malang.

Sampai saat ini gue masih terus mengenang pengalaman gue yang satu ini. Ada rasa bangga dan sedikit ngga percaya gue bisa nekat seperti itu. Tapi gue bersyukur bisa mengalami pengalaman itu dan berpikir terkadang kenekatan itu diperlukan dalam hidup ini untuk membuat hidup ini penuh warna.

Semoga pengalaman gue ini bisa jadi pelajaran buat diri gue dan buat kita semua.

No comments: